Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Ini 5 Penyebab Kolesterol Naik setelah Lebaran
ilustrasi tes kolesterol (freepik.com/rawpixel.com)
  • Pola makan tinggi lemak jenuh dan gula selama Lebaran memicu kenaikan kolesterol.

  • Aktivitas fisik yang menurun memperburuk metabolisme lemak dalam tubuh.

  • Perubahan hormon dan kebiasaan harian ikut memengaruhi kadar kolesterol.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ada beberapa hal yang membekas dari Lebaran, di antaranya kenangan hangat dan perubahan pada tubuh yang baru terasa beberapa hari kemudian. Salah satu yang umum terjadi adalah naiknya kadar kolesterol, bahkan pada orang yang sebelumnya merasa baik-baik saja.

Kenaikan ini merupakan kombinasi perubahan pola makan, aktivitas, dan metabolisme tubuh dalam waktu singkat. Tubuh yang terbiasa dengan ritme tertentu tiba-tiba harus beradaptasi dengan asupan lemak dan kalori yang jauh lebih tinggi.

1. Kamu mengonsumsi lemak jenuh dalam jumlah yang lebih banyak

Beraneka hidangan Lebaran identik dengan makanan tinggi lemak jenuh, contohnya:

  • Opor dengan santan kental.

  • Rendang dengan lemak daging.

  • Gorengan dan makanan bersantan lainnya.

Konsumsi lemak jenuh dapat meningkatkan kadar LDL (kolesterol jahat) dalam darah.

Kadar LDL yang tinggi berkontribusi pada pembentukan plak di pembuluh darah, yang meningkatkan risiko penyakit jantung.

Penelitian menunjukkan bahwa diet tinggi lemak jenuh berkaitan langsung dengan peningkatan kadar LDL dan risiko kardiovaskular.

Yang sering terjadi saat Lebaran bukan cuma konsumsi lemak, tetapi juga:

  • Kamu makan lebih sering.

  • Kamu makan dalam porsi besar.

  • Kombinasi berbagai jenis makanan tinggi lemak dalam satu waktu.

Itu semua membuat asupan lemak jenuh meningkat jauh di atas kebutuhan harian.

2. Asupan gula dan karbohidrat olahan ikut berperan

ilustrasi hidangan prasmanan saat Idul Fitri (pixabay.com/Kavinda F)

Selain lemak, banyak hidangan Lebaran juga tinggi kandungan gula, misalnya kue kering, sirop, dan minuman manis.

Konsumsi gula berlebih dapat meningkatkan trigliserida, salah satu komponen penting dalam profil lipid. Kadar trigliserida yang tinggi sering beriringan dengan kolesterol tinggi, dan keduanya meningkatkan risiko penyakit jantung.

Penelitian menunjukkan bahwa konsumsi gula tambahan berkaitan dengan peningkatan trigliserida dan penurunan HDL (kolesterol baik).

Dengan demikian, lonjakan kolesterol setelah Lebaran bukan cuma akibat asupan lemak, tetapi juga interaksi antara gula dan metabolisme lemak di tubuh.

3. Minum aktivitas fisik atau aktivitas fisik menurun

Hayo ngaku, apakah selama periode Idul Fitri aktivitas fisik kamu berkurang atau makin minim? Banyak orang cenderung lebih banyak duduk saat silaturahmi, skip olahraga, serta pola tidurnya berubah.

Padahal, aktivitas fisik membantu meningkatkan HDL dan menurunkan LDL. Kurang aktivitas fisik dapat memperburuk profil lipid dan meningkatkan risiko kolesterol tinggi.

Penelitian juga menunjukkan bahwa penurunan aktivitas, bahkan dalam jangka pendek, dapat memengaruhi metabolisme lemak secara signifikan.

4. Kelebihan kalori dan penyimpanan lemak

ilustrasi makan berlebihan (pexels.com/Michael Burrows)

Saat asupan kalori melebihi kebutuhan:

  • Tubuh menyimpan kelebihan energi sebagai lemak.

  • Produksi lipoprotein meningkat.

  • Kadar kolesterol dalam darah ikut naik.

Kelebihan kalori berkontribusi pada peningkatan produksi VLDL (very low-density lipoprotein), yang kemudian diubah menjadi LDL.

Penelitian menunjukkan bahwa makan dalam jumlah banyak dalam waktu singkat saja dapat meningkatkan kadar lipid dalam darah.

5. Perubahan ritme tubuh dan hormon

Lebaran sering mengubah ritme biologis tubuh, membuat kamu tidur lebih larut, jadwal makan jadi tidak teratur, serta stres fisik karena perjalanan. Perubahan ini memengaruhi hormon yang mengatur metabolisme, seperti insulin dan kortisol.

Gangguan ritme sirkadian dapat memengaruhi metabolisme lipid dan meningkatkan risiko dislipidemia.

Penelitian juga menunjukkan bahwa gangguan tidur dan stres dapat memicu perubahan kadar lipid dalam darah.

Tidak terjadi tiba-tiba, kenaikan kolesterol setelah Lebaran merupakan hasil dari kombinasi pola makan tinggi lemak dan gula, aktivitas yang menurun, serta perubahan metabolisme tubuh dalam waktu singkat. Kabar baiknya, kondisi ini bisa diperbaiki. Kembali ke pola makan seimbang, meningkatkan aktivitas fisik, dan menjaga rutinitas harian dapat membantu menormalkan kadar kolesterol. Jangan lupa juga untuk kontrol ke dokter, ya!

Referensi

American Heart Association. “Saturated Fat.” Diakses Maret 2026.

World Health Organization. “Healthy Diet.” Diakses Maret 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. “Cholesterol.” Diakses Maret 2026.

National Institutes of Health. “Cholesterol and Lipids.” Diakses Maret 2026.

National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. “Metabolic Health.” Diakses Maret 2026.

Frank M. Sacks et al., “Dietary Fats and Cardiovascular Disease: A Presidential Advisory From the American Heart Association,” Circulation 136, no. 3 (June 16, 2017): e1–23, https://doi.org/10.1161/cir.0000000000000510.

Kimber L. Stanhope, “Sugar Consumption, Metabolic Disease and Obesity: The State of the Controversy,” Critical Reviews in Clinical Laboratory Sciences 53, no. 1 (September 17, 2015): 52–67, https://doi.org/10.3109/10408363.2015.1084990.

George A. Bray and Claude Bouchard, “The Biology of Human Overfeeding: A Systematic Review,” Obesity Reviews 21, no. 9 (June 8, 2020): e13040, https://doi.org/10.1111/obr.13040.

Davide Gnocchi et al., “Lipids Around the Clock: Focus on Circadian Rhythms and Lipid Metabolism,” Biology 4, no. 1 (February 5, 2015): 104–32, https://doi.org/10.3390/biology4010104.

Editorial Team