Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Serangan.
Makan Bergizi Gratis (MBG) di SDN Serangan. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Intinya sih...

  • Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) disorot karena penggunaan susu rekombinasi dalam "Susu Sekolah" yang dibagikan kepada siswa, memicu perdebatan luas tentang aspek keamanan pangan, standar gizi anak sekolah, dan transparansi pengadaan.

  • Susu rekombinasi dirancang agar mendekati komposisi susu segar dalam hal kandungan protein, lemak, dan energi, tetapi nilai gizinya tergantung pada formulasi akhir produk serta kontribusinya terhadap kebutuhan gizi harian anak.

  • Ahli gizi seperti DR. dr. Tan Shot Yen mempertanyakan urgensi penggunaan susu dalam program MBG, mengingat tingginya prevalensi intoleransi laktosa di Asia dan ketersediaan

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) pemerintah kembali menjadi sorotan setelah perbincangan di media sosial, mempertanyakan kandungan gizi "Susu Sekolah" yang dibagikan kepada siswa.

Sejumlah warganet menyoroti jenis susu yang digunakan, termasuk penggunaan susu rekombinasi, dan mempertanyakan apakah nilai gizinya setara dengan susu segar.

Polemik ini meluas, dari aspek keamanan pangan, standar gizi anak sekolah, hingga transparansi pengadaan, sekaligus menegaskan pentingnya literasi publik dalam memahami perbedaan jenis produk susu yang beredar di pasaran.

Apa itu susu rekombinasi?

Dalam salah satu postingan, penerima MBG memperlihatkan komposisi dari Susu Sekolah yang terdiri dari 50 persen susu sapi segar dan 49 persen susu rekombinasi. Sementara pada susu reguler kandungannya hingga 100 persen susu sapi segar.

Dari sisi gizi, susu rekombinasi pada prinsipnya dirancang agar mendekati komposisi susu segar, terutama dalam hal kandungan protein, lemak, dan energi. Produk ini dibuat dengan menggabungkan kembali lemak susu dan padatan susu tanpa lemak (solid non-fat/SNF), sehingga rasio gizinya dapat diatur sesuai standar.

Artinya, protein dalam susu rekombinasi tetap berasal dari protein alami susu, seperti kasein dan whey, bukan protein sintetis. Namun, nilai gizi yang diterima konsumen sangat bergantung pada formulasi akhir produk, termasuk kadar protein per sajian, jumlah lemak, fortifikasi vitamin dan mineral, serta ukuran porsi.

Baik susu segar maupun susu rekombinasi sama-sama mengandung laktosa, sehingga pada anak dengan intoleransi laktosa, keduanya tetap berpotensi menimbulkan keluhan pencernaan.

Dengan demikian, perbedaan utama susu rekombinasi dan susu segar bukan terletak pada ada atau tidaknya gizi, melainkan pada seberapa besar kontribusinya terhadap kebutuhan gizi harian, terutama pada anak.

Ahli gizi mempertanyakan urgensi penggunaan susu

ilustrasi menu MBG siswa SD di Kecamatan Sukawati, Gianyar. (IDN Times/Yuko Utami)

Dalam unggahan di media sosial Instagram @drtanshotyen, dokter dan ahli gizi masyarakat, Dr. dr. Tan Shot Yen, M.hum menyoroti bahwa susu memang termasuk sumber protein hewani, tetapi tidak semua anak cocok mengonsumsinya.

Ia mengingatkan tingginya prevalensi intoleransi laktosa, khususnya pada populasi Asia, yang dapat memicu keluhan seperti kembung dan diare. Dokter Tan juga mengkritisi penggunaan produk susu turunan dalam program MBG, yang menurutnya telah melalui berbagai proses industri dan mengandung bahan tambahan, sehingga nilai gizinya tidak lagi setara dengan susu segar.

"Pertanyaannya, apakah khasiat sebagai protein hewani masih sama dengan susu 100 persen? Tentu tidak. Apalagi ada imbuhannya. Sudah berupa UPF. Walaupun imbuhannya bukan gula," tulisnya.

Ia mempertanyakan urgensi memaksakan konsumsi susu dalam program gizi anak, terutama ketika sumber protein hewani lain seperti telur dan ikan dinilai lebih murah, mudah diperoleh, serta kaya akan nutrisi esensial—termasuk omega-3—yang tidak ditemukan dalam produk Susu Sekolah.

Referensi

"Recombined Milk". Science Direct. Diakses Januari 2026.

https://www.instagram.com/p/DTxNXjdk86N/?igsh=MTR5dWlicTh1MXI5eg==

Editorial Team