Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Anak dirawat di rumah sakit.
ilustrasi anak dirawat di rumah sakit (freepik.com/lifeforstock)

Intinya sih...

  • Ada ribuan kasus baru penyakit Kawasaki di Indonesia setiap tahun, diperkirakan mencapai sekitar 3.000 hingga 4.000 kasus.

  • Sayangnya, dari jumlah tersebut, hanya sebagian kecil yang benar-benar terdiagnosis dan tertangani dengan baik.

  • Jika tidak ditangani, penyakit Kawasaki dapat menyebabkan serangan jantung pada anak.

Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dalam rangka Pekan Kesadaran Penyakit Jantung Bawaan, Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menggelar seminar media dengan mengangkat topik penyakit Kawasaki pada anak.

Dalam kesempatan tersebut, Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Prof. Dr. dr. Najib Advani, Sp.A(K), mengungkapkan bahwa setiap tahun terdapat ribuan kasus baru penyakit Kawasaki di Indonesia. Namun, ketiadaan data registrasi nasional membuat pemetaan penyakit ini masih bergantung pada pengamatan klinis dokter spesialis, sehingga sebagian besar kasus diduga belum terdiagnosis secara akurat.

Ribuan kasus baru setiap tahun, banyak yang belum tertangani

Prof. Najib memperkirakan insiden kasus baru penyakit Kawasaki di Indonesia mencapai sekitar 3.000 hingga 4.000 kasus setiap tahunnya. Namun, dari jumlah tersebut, hanya sebagian kecil yang benar-benar terdiagnosis dan tertangani dengan baik.

Sejak mulai melakukan sosialisasi penyakit ini pada 1999, ia telah menemukan lebih dari 2.000 kasus yang tersebar di berbagai daerah. Tantangan utamanya adalah gejala awal penyakit yang kerap menyerupai penyakit lain, seperti infeksi biasa, sehingga sering terlewat dari deteksi dini dan tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat.

"Indonesia bagaimana? Berapa jumlah kasus penyakit Kawasaki-nya? Tidak ada data jujur ya. Yang terjangkau sekitar 200 setahun. Pengalaman saya sendiri, sekitar 100 setahun pasien baru," ungkap Prof. Najib secara daring pada Selasa (10/2/2026).

Sebagai informasi, penyakit Kawasaki atau sindrom Kawasaki adalah jenis vaskulitis (radang pembuluh darah) yang langka. Pembuluh darah yang meradang dapat menjadi lemah dan meregang. Ketika itu terjadi, pembuluh darah berisiko robek. Pembuluh darah juga dapat mengalami jaringan parut dan menjadi terlalu sempit. Hal ini membatasi seberapa banyak darah yang dapat mengalir untuk memberi nutrisi pada jaringan dan organ.

Penyakit Kawasaki paling sering terjadi pada anak-anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Penyakit ini memengaruhi semua arteri, tetapi yang paling mengkhawatirkan adalah arteri koroner. Arteri ini memasok darah ke jantung mereka. Anak-anak dengan arteri koroner yang terdampak dapat mengalami masalah jantung sebagai akibatnya.

Dengan pengobatan yang tepat waktu, sebagian besar anak pulih dalam waktu sekitar dua bulan.

Penyakit Kawasaki meningkatkan risiko serangan jantung pada anak

ilustrasi anak dirawat inap di rumah sakit (freepik.com/rawpixel.com)

Penyakit Kawasaki merupakan peradangan pembuluh darah sistemik yang dapat berdampak serius jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Salah satu komplikasi yang paling dikhawatirkan adalah pelebaran atau aneurisme arteri koroner, yakni pembuluh darah yang menyuplai oksigen ke otot jantung.

Menurut Prof. Najib, jika tidak diobati, risiko komplikasi ini bisa terjadi pada sekitar 15 hingga 25 persen pasien. Pelebaran pembuluh darah tersebut bisa memicu terbentuknya bekuan darah, yang pada akhirnya berisiko menyebabkan serangan jantung.

Karena itu, keselamatan pasien sangat bergantung pada seberapa cepat keterlibatan pembuluh darah jantung dapat dideteksi dan segera ditangani.

"Ini adalah vaskulitis sistemik atau peradangan pembuluh darah di seluruh tubuh. Bisa mengenai banyak bagian, tapi yang menentukan keselamatan pasien adalah keterlibatan pembuluh darah jantung,” ujar Prof. Najib.

Keterlambatan diagnosis penyakit Kawasaki dapat berakibat fatal, karena tidak sedikit anak yang datang berobat dalam kondisi sudah mengalami pelebaran arteri koroner. Kewaspadaan orang tua dan tenaga kesehatan terhadap gejala awal menjadi kunci untuk mencegah komplikasi serius.

Editorial Team