Prof. Najib memperkirakan insiden kasus baru penyakit Kawasaki di Indonesia mencapai sekitar 3.000 hingga 4.000 kasus setiap tahunnya. Namun, dari jumlah tersebut, hanya sebagian kecil yang benar-benar terdiagnosis dan tertangani dengan baik.
Sejak mulai melakukan sosialisasi penyakit ini pada 1999, ia telah menemukan lebih dari 2.000 kasus yang tersebar di berbagai daerah. Tantangan utamanya adalah gejala awal penyakit yang kerap menyerupai penyakit lain, seperti infeksi biasa, sehingga sering terlewat dari deteksi dini dan tidak segera mendapatkan penanganan yang tepat.
"Indonesia bagaimana? Berapa jumlah kasus penyakit Kawasaki-nya? Tidak ada data jujur ya. Yang terjangkau sekitar 200 setahun. Pengalaman saya sendiri, sekitar 100 setahun pasien baru," ungkap Prof. Najib secara daring pada Selasa (10/2/2026).
Sebagai informasi, penyakit Kawasaki atau sindrom Kawasaki adalah jenis vaskulitis (radang pembuluh darah) yang langka. Pembuluh darah yang meradang dapat menjadi lemah dan meregang. Ketika itu terjadi, pembuluh darah berisiko robek. Pembuluh darah juga dapat mengalami jaringan parut dan menjadi terlalu sempit. Hal ini membatasi seberapa banyak darah yang dapat mengalir untuk memberi nutrisi pada jaringan dan organ.
Penyakit Kawasaki paling sering terjadi pada anak-anak usia 6 bulan hingga 5 tahun. Penyakit ini memengaruhi semua arteri, tetapi yang paling mengkhawatirkan adalah arteri koroner. Arteri ini memasok darah ke jantung mereka. Anak-anak dengan arteri koroner yang terdampak dapat mengalami masalah jantung sebagai akibatnya.
Dengan pengobatan yang tepat waktu, sebagian besar anak pulih dalam waktu sekitar dua bulan.