Comscore Tracker

Amnesia Disosiatif, Gangguan Ingatan akibat Trauma Psikologis

Biasanya dipicu oleh kejadian traumatis

Umumnya, kondisi hilang ingatan atau amnesia yang banyak diketahui yaitu amnesia akibat penyakit atau cedera pada otak. Namun, ada pula amnesia yang terjadi karena dipicu oleh trauma psikologis yang disebut amnesia disosiatif atau amnesia psikogenik.

Amnesia disosiatif termasuk salah satu gangguan disosiatif. Gangguan disosiatif adalah penyakit mental yang melibatkan gangguan pada ingatan, kesadaran, identitas atau persepsi. Kondisi tentunya dapat mengganggu fungsi seseorang dalam menjalani kesehariannya.

Berbeda dengan amnesia biasa, amnesia disosiatif lebih berisiko terjadi pada orang-orang yang pernah mengalami kejadian traumatis. Untuk mengetahui lebih jauh tentang amnesia disosiatif, simak ulasannya berikut ini, ya!

1. Tidak mampu mengingat informasi tertentu akibat trauma yang pernah dialami

Amnesia Disosiatif, Gangguan Ingatan akibat Trauma PsikologisAmnesia disosiatif berkaitan dengan trauma atau stres. pexels.com/Alex Green

Melansir Cleveland Clinic, amnesia disosiatif terjadi ketika seseorang memblokir informasi tertentu, biasanya berkaitan dengan kejadian yang membuat trauma atau stres yang parah, sehingga tidak mampu mengingat informasi pribadi yang sebenarnya penting.

Amnesia disosiatif relatif jarang terjadi. Tercatat, kondisi ini memengaruhi sekitar 1 persen pada laki-laki dan 2,6 persen pada perempuan dalam populasi umum. 

Amnesia ini cenderung meningkat selama periode stres atau traumatis, seperti masa-masa perang atau setelah mengalami bencana alam.

2. Ingatan tersimpan sangat dalam di pikiran

Amnesia Disosiatif, Gangguan Ingatan akibat Trauma Psikologispixabay/DanaTentis

Amnesia disosiatif berbeda dari amnesia yang umumnya disebabkan oleh penyakit atau cedera otak. Melansir WebMD, pada amnesia disosiatif, ingatan masih ada, tetapi tersimpan sangat dalam di pikiran dan tidak dapat diingat. Namun, ingatan tersebut bisa kembali dengan sendirinya setelah dipicu sesuatu di sekitarnya.

Seperti dijelaskan di laman Psychology Today, orang yang mengalami amnesia disosiatif mungkin tidak menyadari bahwa ia kehilangan ingatan walaupun terlihat bingung. Tidak seperti hilang ingatan akibat cedera otak atau penyakit, orang dengan amnesia disosiatif tampaknya jarang menunjukkan kekhawatiran tentang kondisinya tersebut.

Baca Juga: Infantile Amnesia, 7 Fakta Alasan Kamu Sulit Ingat Memori Masa Kecil

3. Penyebabnya berkaitan dengan kejadian traumatis

Amnesia Disosiatif, Gangguan Ingatan akibat Trauma Psikologispexels/David Garrison

Amnesia disosiatif berkaitan dengan stres yang berlebihan, yang mungkin disebabkan oleh kejadian traumatis. Misalnya akibat perang, pelecehan, kecelakaan, atau bencana alam yang dialami maupun disaksikan sendiri.

Selain itu, ada pula kemungkinan faktor genetik pada amnesia disosiatif. Sebab, orang dengan gangguan ini terkadang memiliki kerabat dekat dengan kecenderungan untuk mengembangkan kondisi tersebut.

4. Gejala amnesia disosiatif 

Amnesia Disosiatif, Gangguan Ingatan akibat Trauma Psikologispexels.com/Nathan Cowley

Melansir WebMD, gejala utama dari amnesia disosiatif yaitu ketidakmampuan secara tiba-tiba untuk mengingat kejadian masa lalu atau informasi pribadi. Beberapa orang dengan gangguan ini juga tampak kebingungan dan mengalami depresi atau kecemasan.

5. Jenis-jenis amnesia disosiatif

Amnesia Disosiatif, Gangguan Ingatan akibat Trauma Psikologispexels/Rene Asmussen

Orang yang mengalami amnesia disosiatif mungkin merasa terputus dengan dunia sekitarnya. Periode disosiasi ini bisa berlangsung selama berjam-jam atau berhari-hari. Bahkan, pada beberapa kasus bisa berlangsung lebih lama. Bisa sampai berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Melansir Healthline, berikut ini beberapa jenis amnesia disosiatif: 

  • Localized. Kondisi di mana seseorang tidak bisa mengingat kejadian dari periode waktu tertentu.
  • Generalized. Kondisi seseorang yang benar-benar kehilangan ingatan, termasuk hal-hal seperti identitas dan riwayat hidup.
  • Fugue. Pada jenis ini, seseorang lupa akan sebagian besar atau seluruh informasi pribadi dan dapat bepergian ke tempat yang biasanya tidak dikunjungi. Pada kasus yang berlangsung lama, orang tersebut mungkin akan menggunakan identitas baru.

6. Perawatan dilakukan dengan terapi

Amnesia Disosiatif, Gangguan Ingatan akibat Trauma Psikologisfreepik/Prostooleh

Dirangkum dari beberapa sumber, tujuan dari perawatan amnesia disosiatif yaitu untuk meredakan gejala amnesia, supaya dapat terhubung kembali dengan lingkungan, membantu belajar menghadapi kejadian traumatis dengan cara yang aman, meningkatkan fungsi dengan mempelajari kehidupan baru atau keterampilan mengatasi masalah.

Beberapa perawatan yang bisa dilakukan meliputi:

  • Psikoterapi. Terapi ini umum digunakan untuk mengatasi gangguan mental dan emosional.
  • Terapi perilaku kognitif. Terapi ini fokus pada perubahan pola pikir disfungsional serta perasaan dan perilaku yang dihasilkan.
  • Terapi keluarga. Terapi ini membantu untuk mengedukasi keluarga pasien tentang gangguan dan penyebabnya, serta membantu anggota keluarga mengenali gejala kambuhnya penyakit.
  • Terapi kreatif (terapi seni atau musik). Terapi ini memungkinkan pasien untuk mengeksplorasi dan mengekspresikan pikiran serta perasaan mereka dengan cara yang aman dan kreatif.
  • Obat-obatan. Tidak ada obat yang spesifik untuk mengatasi amnesia disosiatif. Obat-obatan digunakan untuk mengobati kondisi yang dapat terjadi bersamaan dengan amnesia ini, seperti depresi dan gangguan kecemasan.

Itulah beberapa informasi tentang amnesia disosiatif. Jika memiliki kejadian yang membuatmu trauma, sebaiknya jangan dipendam sendiri. Mintalah bantuan kepada kerabat dekat atau konsultasikan pada ahli kejiwaan untuk mendapatkan solusi dalam mengatasi trauma tersebut.

Baca Juga: 5 Hal tentang Amnesia Anterograde, Kesulitan Membentuk Memori Baru

Rifa Photo Verified Writer Rifa

.

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya