Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Risiko Bahaya Tidak Pakai Payung saat Haji di Tengah Cuaca Panas
Suasana di Masjidil haram, terlihat beberapa jemaah menggunakan payung. (Dok. Media Center haji)
  • Ibadah haji di tengah suhu ekstrem membuat tubuh rentan terhadap stres panas, dehidrasi, dan gangguan kesehatan serius akibat paparan sinar matahari langsung serta aktivitas fisik berat.
  • Payung berfungsi sebagai pelindung penting yang membantu menurunkan beban panas tubuh, mengurangi risiko heat exhaustion hingga heatstroke, serta menjaga keseimbangan cairan selama ibadah.
  • Lansia dan jemaah dengan penyakit kronis menjadi kelompok paling rentan terhadap penyakit terkait panas, sehingga penggunaan payung dan langkah pencegahan lain sangat dianjurkan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Artikel ini menyoroti sisi positif dari kesadaran kesehatan selama ibadah haji, dengan menunjukkan bahwa tindakan sederhana seperti menggunakan payung dapat memberikan perlindungan besar terhadap panas ekstrem. Penjelasan ilmiah tentang fungsi tubuh dan manfaat perlindungan fisik memperlihatkan bagaimana pengetahuan praktis dapat membantu jemaah menjaga keselamatan dan kenyamanan di tengah kondisi berat.

Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Ibadah haji adalah aktivitas fisik yang sangat berat bagi tubuh, apalagi jika dilakukan di tengah suhu yang sangat tinggi dan kepadatan manusia dalam jumlah besar.

Banyak jemaah harus berjalan jauh, berada di area terbuka, berdiri lama, dan berpindah lokasi dalam kondisi cuaca panas ekstrem. Saat berada dalam situasi seperti, hal sederhana seperti pakai payung bisa memberi perlindungan besar.

Payung bukan cuma peneduh. Dalam kondisi panas ekstrem, paparan sinar matahari langsung dapat meningkatkan stres panas pada tubuh dan memperbesar risiko gangguan kesehatan serius. Di sinilah payung bisa menjadi penyelamat.

Tubuh bisa kesulitan mengatur suhu saat cuaca sangat panas

Tubuh manusia memiliki sistem pendingin alami melalui keringat dan aliran darah ke kulit. Namun, ketika suhu lingkungan terlalu tinggi, paparan matahari berlangsung lama, aktivitas fisik meningkat, dan cairan tubuh berkurang, mekanisme pendingin alami ini bisa kewalahan. Akibatnya suhu tubuh bisa terus naik.

Dalam kondisi ringan, seseorang mungkin mulai mengalami:

  • Rasa haus yang berat.

  • Pusing.

  • Lemas.

  • Sakit kepala.

  • Kram otot.

Jika tidak segera diatasi atau terus berlanjut, kondisi bisa berkembang menjadi heat exhaustion hingga heatstroke, yaitu keadaan darurat medis ketika tubuh tidak lagi mampu mengontrol suhu secara efektif. Heatstroke dapat menyebabkan kerusakan organ dan kematian bila tidak segera ditangani.

Risiko heat stress saat berhaji

Ibadah haji memiliki kombinasi faktor yang membuat tubuh sangat mudah mengalami heat stress, yaitu:

  • Suhu tinggi.

  • Paparan matahari langsung.

  • Aktivitas berjalan.

  • Kepadatan manusia.

  • Kurang istirahat.

  • Risiko dehidrasi.

Penelitian menunjukkan bahwa penyakit terkait panas termasuk salah satu tantangan kesehatan utama pada pelaksanaan haji, terutama pada jemaah usia lanjut dan orang dengan penyakit kronis.

Selain itu, permukaan jalan dan bangunan di area panas dapat memantulkan panas tambahan ke tubuh. Artinya, tubuh tidak hanya menerima panas dari matahari di atas, tetapi juga dari lingkungan sekitar.

Fungsi payung dalam kondisi panas ekstrem saat haji

Jemaah haji Indonesia saat hendak salat di Masjid Nabawi, Madinah, Arab Saudi. (Media Center Haji 2025/Rochmanudin)

Payung bekerja sebagai penghalang fisik terhadap radiasi matahari langsung. Perlindungan ini dapat membantu jemaah haji:

  • Mengurangi panas yang diterima tubuh.

  • Menurunkan stres panas.

  • Membantu menjaga suhu tubuh.

  • Memperlambat kehilangan cairan akibat panas.

Penelitian tentang paparan panas menunjukkan perlindungan terhadap radiasi matahari langsung dapat membantu menurunkan beban termal pada tubuh. Karena itu, penggunaan payung termasuk langkah pencegahan yang penting selama beraktivitas saat cuaca sangat panas.

Risiko tidak pakai payung saat haji

Ada beberapa risiko jika jemaah haji tidak menggunakan payung di tengah cuaca ekstres saat melakukan rangkaian ibadah haji:

1. Dehidrasi lebih cepat

Paparan panas langsung meningkatkan pengeluaran keringat. Jika cairan tidak tergantikan dengan cukup, tubuh bisa mengalami dehidrasi yang menyebabkan:

  • Lemas.

  • Pusing.

  • Kebingungan.

  • Denyut jantung meningkat

  • Hingga gangguan ginjal.

2. Heat exhaustion

Ini kondisi ketika tubuh mulai kewalahan menghadapi panas. Gejalanya bisa berupa:

  • Tubuh sangat lelah.

  • Mual.

  • Sakit kepala.

  • Kulit lembap.

  • Kram.

  • Hampir pingsan.

Jika tidak segera ditangani, kondisi bisa berkembang menjadi heatstroke.

3. Heatstroke

Ini adalah keadaan darurat medis. Gejalanya dapat meliputi:

  • Suhu tubuh sangat tinggi.

  • Kebingungan.

  • Bicara kacau.

  • Penurunan kesadaran.

  • Kejang.

Heatstroke dapat menyebabkan kerusakan otak, organ, bahkan kematian.

4. Memperberat penyakit yang sudah ada

Cuaca panas dapat memperburuk kondisi seperti:

  • Penyakit jantung.

  • Hipertensi.

  • Diabetes.

  • Gangguan ginjal.

  • Penyakit paru.

Ini penting karena banyak jemaah haji berada pada kelompok usia lanjut.

Lansia dan orang dengan penyakit kronis lebih rentan

Kemampuan tubuh mengatur suhu cenderung menurun seiring usia.

Beberapa obat tertentu juga dapat memengaruhi produksi keringat, tekanan darah, dan keseimbangan cairan.

Karena itu, lansia lebih mudah mengalami dehidrasi, kelelahan akibat panas, dan komplikasi serius akibat cuaca panas.

Penelitian terkait kesehatan haji menunjukkan kelompok usia lanjut termasuk kelompok dengan risiko tertinggi terhadap penyakit terkait panas.

Kenapa banyak orang tidak sadar sudah mengalami heat stress?

Suasana jemaah calon haji saat melakukan tawaf. (Media Center Haji/Rochmanudin)

Ini karena gejalanya sering dianggap cuma capek setelah beraktivitas. Padahal, tanda awal heat stress bisa sangat samar, yang bisa meliputi:

  • Mudah marah.

  • Sulit fokus.

  • Pusing ringan.

  • Langkah mulai goyah.

  • Merasa sangat haus.

Dalam kondisi ibadah yang padat dan melelahkan, banyak jeamaah tetap memaksakan diri meski tubuh sebenarnya sudah memberi sinyal bahaya.

Selain payung, apa lagi yang penting?

Payung bukan satu-satunya perlindungan. Langkah-langkah perlindungan lainnya termasuk:

  • Minum cukup sebelum haus berat.

  • Kenakan pakaian yang ringan dan breathable.

  • Cari tempat teduh bila memungkinkan.

  • Istirahat secara berkala.

  • Jangan memaksakan diri.

  • Kenali tanda-tanda awal heat illness.

Jika muncul gejala berat seperti bingung, muntah, atau hampir pingsan, segera cari bantuan medis.

Tidak menggunakan payung saat haji di tengah cuaca panas bisa meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas. Paparan matahari langsung dalam waktu lama dapat membuat tubuh kesulitan mengatur suhu, terutama ketika disertai aktivitas fisik berat dan dehidrasi. Kondisi ini dapat berkembang dari kelelahan panas biasa menjadi heatstroke yang berbahaya. Lansia dan jemaah dengan penyakit kronis termasuk kelompok yang paling rentan.

Dalam situasi panas ekstrem seperti di Arab Saudi, langkah sederhana seperti memakai payung dapat membantu mengurangi beban panas pada tubuh dan menjadi bagian penting dari perlindungan kesehatan selama menjalankan rangkaian ibadah haji.

Referensi

World Health Organization. "Heat and Health." Diakses Mei 2026.

Centers for Disease Control and Prevention. "Heat Stress." Diakses Mei 2026.

Saber Yezli, “Risk Factors for Heat-related Illnesses During the Hajj Mass Gathering: An Expert Review,” Reviews on Environmental Health 38, no. 1 (October 29, 2021): 33–43, https://doi.org/10.1515/reveh-2021-0097.

“Management of Heatstroke and Heat Exhaustion,” PubMed, June 1, 2005, https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/15952443/.

Jaffar A. Al-Tawfiq and Ziad A. Memish, “Mass Gathering Medicine: 2014 Hajj and Umra Preparation as a Leading Example,” International Journal of Infectious Diseases 27 (August 14, 2014): 26–31, https://doi.org/10.1016/j.ijid.2014.07.001.

Editorial Team