Comscore Tracker

5 Fakta Postpartum Depression, Sempat Dialami Adele Usai Melahirkan

Gejolak mental seorang ibu yang lebih parah dari baby blues

Siapa yang tak kenal Adele? Penyanyi sekaligus penulis lagu asal Inggris bernama lengkap Adele Laurie Blue Adkins ini beberapa tahun yang lalu bercerita kepada Vanity Fair bahwa ia berjuang dengan depresi pascapersalinan (postpartum depression atau PPD) setelah melahirkan anak laki-lakinya, Angelo, tahun 2012.

"Pengetahuanku tentang postpartum atau postnatal, sebagaimana kita menyebutnya di Inggris, adalah bahwa kamu tidak ingin bersama anakmu; kamu khawatir akan menyakiti anakmu; kamu khawatir tidak melakukan pekerjaan dengan baik. Tapi aku terobsesi dengan anakku. Aku merasa sangat tidak mampu; Aku merasa seperti telah membuat keputusan terburuk dalam hidupku. Itu bisa datang dalam berbagai bentuk," kata Adele mengutip Vanity Fair.

Melansir WebMD, hingga 80 persen ibu baru mengalami baby blues, yaitu penurunan suasana hati jangka pendek yang disebabkan karena semua perubahan yang terjadi setelah melahirkan. Biasanya kondisi dimulai saat bayi baru berusia 2 atau 3 hari, lalu cenderung membaik saat usia bayi 1 atau 2 minggu.

Namun, jika perasaan sedih bertahan lebih lama dari itu, atau memburuk, ada kemungkinan seorang ibu mengalami depresi pascapersalinan. Ini lebih parah dan berlangsung lebih lama daripada baby blues, dan sekitar 10 persen perempuan mengalaminya.

Berdasarkan beberapa studi kasus, berikut ini beberapa fakta seputar postpartum depression yang perlu kamu pahami.

1. Sikap tidak respek dan pelecehan terhadap perempuan selama persalinan dapat berkontribusi pada perkembangan postpartum depression

5 Fakta Postpartum Depression, Sempat Dialami Adele Usai Melahirkanpexels.com/Kat Jayne

Leite dkk., telah melakukan penelitian untuk menginvestigasi hubungan antara penganiayaan perempuan selama persalinan dan PPD di Brasil. Hasil penelitiannya diterbitkan di Journal of Affective Disorders tahun 2020.

Mereka menemukan bahwa sikap tidak respek dan pelecehan terhadap perempuan selama persalinan dapat berkontribusi pada perkembangan PPD, baik di sektor publik dan swasta, baik untuk persalinan pervaginam maupun operasi sesar.

Salah satu hipotesis mereka, tindakan tersebut mematahkan harapan perempuan untuk melahirkan sebagai momen spesial dalam hidupnya, menjadi peristiwa tersebut menjadi pengalaman negatif dan membawa penderitaan.

Masa nifas ditandai dengan perubahan kadar hormon gonad, kadar oksitosin, dan sumbu hipotalamus-hipofisis. Penyesuaian sosial juga merupakan kunci, sebagian besar terkait dengan tanggung jawab yang meningkat karena menjadi ibu, kebutuhan untuk reorganisasi sosial dan adaptasi terhadap peran baru, kurang tidur, dan isolasi sosial.

Semua perubahan tersebut, ditambah dengan pengalaman perempuan tidak dihormati dan dilecehkan, bisa membuat ia lebih rentan mengalami PPD atau gangguan mental lainnya pada masa nifas.

Ditemukan juga bahwa semakin tinggi tingkat pendidikan perempuan, semakin besar laporan praktik atau tindak kekerasan. Hasil ini dapat dijelaskan oleh fakta bahwa lebih banyak perempuan yang berpendidikan lebih mengetahui hak-hak mereka dan mampu mengidentifikasi dan melaporkan situasi dengan lebih tepat saat mereka merasa dilecehkan atau tidak dihormati saat melahirkan.

Di sektor publik, beberapa karakteristik telah terbukti mengurangi laporan perempuan tidak dihormati dan dilecehkan, seperti kehadiran pendamping dan ketentuan praktik yang baik dalam persalinan. 

Di sektor swasta, baik untuk persalinan pervaginam maupun operasi sesar, tidak memiliki persalinan yang diinginkan adalah satu-satunya karakteristik yang terkait dengan peningkatan laporan perempuan merasa tidak dihormati dan pelecehan. Hasil ini bisa dijelaskan oleh adanya kesamaan karakteristik sosial ekonomi perempuan di sektor swasta.

Secara umum, di sektor swasta, rumah sakit memiliki perlengkapan yang lebih baik dan menawarkan lebih banyak kenyamanan dan privasi kepada keluarga saat melahirkan, selain pelayanan yang baik. Selain itu, perempuan yang dibantu di rumah sakit bersalin umum rata-rata lebih miskin dan berpendidikan rendah dibandingkan di sektor swasta. 

2. Disfungsi rumah tangga pada masa kanak-kanak berhubungan positif dengan postpartum depression pada ibu remaja

5 Fakta Postpartum Depression, Sempat Dialami Adele Usai Melahirkanpexels.com/JESSICA TICOZZELLI

Caroll dkk., telah melakukan studi mengenai hubungan antara disfungsi rumah tangga pada masa kanak-kanak dan PPD pada ibu remaja di Peru. Temuannya dipublikasikan di jurnal Comprehensive Psychiatry tahun 2021, yaitu disfungsi rumah tangga pada masa kanak-kanak berhubungan positif dengan PPD pada ibu remaja. 

Penelitian ini memperluas literatur dengan mendokumentasikan peningkatan kemungkinan PPD di antara ibu remaja dengan riwayat disfungsi rumah tangga pada masa kanak-kanak.

Temuan ini juga berlaku untuk subtipe disfungsi rumah tangga masa kanak-kanak termasuk penggunaan narkoba dalam rumah tangga, penyakit mental dalam rumah tangga, penahanan anggota rumah tangga, dan menyaksikan kekerasan terhadap ibunya, yang semuanya terkait dengan kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami depresi.

Selain itu, jumlah disfungsi rumah tangga masa kanak-kanak yang dilaporkan dikaitkan dengan peningkatan risiko PPD, sementara penelitian lain telah melihat pengaruh keterampilan ketahanan pada disfungsi rumah tangga dan bentuk lain dari pengalaman buruk pada masa kanak-kanak. 

Ini merupakan penelitian pertama yang menyelidiki keterampilan ketahanan sebagai mediator dari hubungan antara disfungsi rumah tangga masa kanak-kanak dan PPD pada remaja perempuan di Peru. Mereka menemukan bahwa hubungan antara disfungsi rumah tangga masa kanak-kanak dan PPD pada ibu remaja di Peru sebagian dimediasi oleh keterampilan ketahanan.

Pengaruh keterampilan ketahanan pada hubungan antara disfungsi rumah tangga masa kanak-kanak dan PPD mungkin memiliki beberapa implikasi pencegahan dan klinis. Temuan mereka menunjukkan bahwa pengaruh disfungsi rumah tangga juga dapat menurunkan PPD pada ibu remaja. 

Baca Juga: 9 Gejala Depresi yang Mungkin Luput dari Perhatian

3. Kehamilan yang tidak diinginkan secara signifikan dikaitkan dengan risiko pengembangan postpartum depression 

5 Fakta Postpartum Depression, Sempat Dialami Adele Usai Melahirkanpexels.com/RODNAE Productions

Qiu dkk., telah melakukan metaanalisis untuk mengevaluasi hubungan antara kehamilan yang tidak diinginkan dan PPD. Hasil penelitiannya diterbitkan di Journal of Psychosomatic Research tahun 2020. Ditemukan bahwa kehamilan yang tidak diinginkan meningkatkan risiko pengembangan PPD.

Tim peneliti meneliti 30 studi kasus kontrol dan kohort yang melibatkan 65.454 peserta, dan karenanya memberikan kekuatan statistik yang memadai untuk melalui pengambilan literatur sistematis. Heterogenitas potensial dapat ditentukan oleh sensitivitas dan analisis subkelompok. 

Sepengetahuan mereka, mekanisme potensial dari hubungan antara kehamilan yang tidak diinginkan dan PPD tidak jelas. Perempuan dengan kehamilan yang tidak diinginkan mungkin lebih banyak mengalami stres psikososial dari gangguan yang tidak terduga, hingga pendidikan, karier, atau aspirasi hidup lainnya dan potensi konflik antara mempertahankan atau mengakhiri kehamilan. Itu semua dapat mengaktifkan sumbu hipotalamus pituitari adrenal (HPA) dan menengahi interaksi gen stres, sehingga meningkatkan risiko PPD.

Ada tiga kemungkinan penjelasan untuk hubungan antara kehamilan tidak diinginkan dan PPD. Pertama, depresi saat kehamilan adalah faktor risiko independen untuk PPDdan perawatan prenatal memberikan kesempatan untuk mendiagnosis dan mengobatinya.

Selain itu, beberapa perempuan yang melahirkan mungkin tidak memiliki keluarga yang stabil, atau beberapa faktor yang tidak kondusif untuk kehamilan, yang menyebabkan perempuan gugup, mengalami fluktuasi emosional, dan ketahanan psikologis yang buruk selama kehamilan.

Terakhir, bukti menunjukkan bahwa perempuan dengan kehamilan yang tidak diinginkan mengonsumsi lebih sedikit vitamin daripada mereka yang berencana untuk hamil. Padahal, kadar vitamin D berhubungan dengan PPD.

Tim peneliti menyimpulkan bahwa ketidakpastian mekanisme yang mendasari antara kehamilan yang tak diinginkan dengan PPD perlu dipelajari lebih lanjut.

Tim peneliti juga menyarankan bahwa keluarga berencana dan layanan kesehatan mental yang dipersonalisasi harus diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan primer untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan akibatnya.

Di sisi lain, penyedia perawatan kesehatan ibu harus memberikan konseling yang dipersonalisasi, dukungan, layanan perawatan antenatal, dan persalinan yang sesuai untuk perempuan dengan kehamilan yang tidak diinginkan selama kehamilan dan masa nifas. 

4. Faktor risiko postpartum depression

5 Fakta Postpartum Depression, Sempat Dialami Adele Usai Melahirkanpexels.com/Karolina Grabowska

Zhao dan Zhang, telah melakukan tinjauan sistematis berbasis bukti dari berbagai tinjauan sistematis dan metaanalisis terkait faktor risiko pada postpartum depression. Hasil tinjauannya diterbitkan di Asian Journal of Psychiatry tahun 2020. Sebanyak 13 faktor risiko telah diidentifikasi, sementara ada lima yang masih kontroversial karena kurangnya bukti.

Faktor risiko PPD terutama pada aspek-aspek berikut:

1. Kekerasan dan pelecehan

Kekerasan dan pelecehan merupakan faktor risiko depresi pascapersalinan. Efek kekerasan pada ibu hamil terutama pada trauma psikologis dan kepekaan psikologis mereka adalah yang meningkatkan risiko pengembangan PPD. Sementara itu, mereka yang mengalami peristiwa kekerasan mungkin merasa malu karena faktor budaya yang menyebabkan rendahnya tingkat pencarian pertolongan, hingga akhirnya kondisinya diabaikan.

2. Status imigran

Ini merupakan faktor risiko PPD yang kompleks. Dukungan sosial, status ekonomi, akulturasi, dan faktor lain memainkan peran penting dalam hal ini. Lebih spesifiknya, bukan untuk status imigran, tetapi dukungan sosial yang rendah, status sosial ekonomi yang rendah, akulturasi, dan faktor-faktor lain yang berkaitan dengan keimigrasian merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi PPD.

3. Diabetes gestasional

Respons inflamasi dan peristiwa kehidupan yang penuh tekanan adalah dua mediator penting yang memediasi hubungan antara PPD dan diabetes gestasional.

4. Operasi sesar

Baik itu operasi sesar elektif atau darurat merupakan faktor risiko PPD, dan operasi caesar darurat menyebabkan risiko yang lebih tinggi karena dapat menyebabkan peningkatan stres pasien.

5. Riwayat depresi

Tiga dari tujuh studi melaporkan hubungan yang signifikan antara riwayat depresi sebelumnya dan gejala PPD, sementara satu studi mengklaim korelasi negatif. Terlepas dari kontroversi dalam tujuh studi tersebut, disimpulkan bahwa riwayat depresi adalah faktor risiko PPD pada ibu remaja.

6. Kekurangan vitamin D

Vitamin D telah dilaporkan dapat mengurangi mediator respons inflamasi, dan telah terbukti bahwa vitamin D dapat mengurangi respons inflamasi pada ibu hamil dengan mediator yang tinggi dari respons inflamasi.

7. Kelebihan berat badan dan obesitas

Ketidakpuasan citra tubuh, faktor yang terkait dengan berat badan, ditemukan terkait dengan PPD. Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa ketidakpuasan citra tubuh dapat memediasi obesitas dan PDD.

8. Gangguan tidur pascapersalinan dan kualitas tidur pascapersalinan yang buruk

Gangguan tidur dapat memengaruhi PPD melalui kualitas hidup yang buruk, penurunan perhatian di siang hari, dan penurunan kesehatan secara umum. Ada pula studi yang menemukan bahwa gangguan tidur pada awal kehamilan secara langsung memprediksi gejala depresi pada akhir kehamilan, dan punya efek tidak langsung pada PPD melalui ide delusi pada akhir kehamilan.

9. Bayi prematur dan berat lahir rendah

Skin-to-skin treatment merupakan faktor pelindung PPD di antara ibu dengan bayi prematur atau berat lahir rendah. Perubahan oksitosin dan suasana hati mungkin merupakan mekanisme penting yang memediasi penurunan PPD dalam skin-to-skin treatment.

10. Anemia setelah melahirkan

Anemia selama dan setelah kehamilan secara signifikan meningkatkan risiko PPD. Anemia dapat menyebabkan PPD melalui sitokin inflamasi.

11. Kelahiran ganda

Sebagian besar dari tujuh studi menegaskan bahwa kelahiran ganda meningkatkan risiko PPD, begitu juga dengan bayi prematur dan berat badan lahir rendah. Tinjauan sistematis yang berfokus pada ibu dengan bayi prematur dan berat lahir rendah melaporkan risiko PPD yang lebih tinggi daripada ibu dengan bayi normal.

Faktor lainnya, pengalaman melahirkan yang buruk dapat meningkatkan risiko PPD.

12. Kurangnya dukungan sosial

Berdasarkan dua studi, peningkatan dukungan sosial dapat secara signifikan mengurangi risiko PPD.

13. Pola makan tradisional

Pola makan orang Jepang, India, Inggris, dan Brasil menunjukkan risiko rendah untuk PPD. Konsentrasi DHA yang lebih tinggi dalam ASI, lebih banyak konsumsi makanan laut, kesadaran akan kesehatan, pola makan orang Brasil, pola makan sehat, suplementasi multivitamin, asupan ikan dan asam lemak tak jenuh ganda, kalsium, vitamin D, seng, dan mungkin selenium adalah faktor pelindung.

Sementara itu, faktor risiko yang masih kontroversial di antaranya kadar kortisol serum, status autoantibodi tiroid peroksidase, akulturasi, praktik kurungan tradisional, dan kontrasepsi hormonal. 

5. Kekerasan oleh pasangan intim dan dukungan sosial harus menjadi fokus utama untuk meningkatkan kualitas kesehatan mental perempuan selama periode postpartum

5 Fakta Postpartum Depression, Sempat Dialami Adele Usai Melahirkanpexels.com/Andreas Wohlfahrt

Desta dkk., telah melakukan tinjauan sistematis dan metaanalisis terkait PPD dan hubungannya dengan kekerasan pasangan intim dan dukungan sosial yang tidak memadai di Etiopia. Hasilnya dimuat dalam Journal of Affective Disorders tahun 2020.

Mereka menemukan bahwa kekerasan pasangan intim adalah prediktor paling umum dari PPD. Tinjauan sistematis dan meta-analisis mengungkapkan bahwa riwayat depresi sebelumnya adalah prediktor lain dari PPD.

Selain itu, ditemukan bahwa ketidakpuasan perkawinan meningkatkan kemungkinan PPD. Di samping itu, mereka mungkin juga memiliki beban ekonomi dan menerima penilaian sosial yang dapat meningkatkan kemungkinan PPD.

Dukungan sosial yang buruk adalah prediktor lain PPD, sebagaimana dibuktikan oleh metaanalisis dan studi nasional Kanada. Ini karena dukungan sosial dalam perawatan anak dan pekerjaan rumah tangga, dan dukungan emosional yang diekspresikan melalui peningkatan harga diri perempuan dalam kemampuannya untuk merawat bayi dan menengahi ketidaksetaraan sosial.

Paparan PPD sebelumnya juga merupakan faktor lain yang secara signifikan meningkatkan risiko PPD. Sejalan dengan itu, hasil tinjauan sistematis dan metaanalisis ini menemukan bahwa penyalahgunaan zat juga turut meningkatkan risiko. Mereka cenderung memiliki aktivitas fisik terbatas selama kehamilan dan hampir 80 persen ibu hamil di Etiopia memiliki status aktivitas fisik yang menetap,.

Aktivitas fisik yang terbatas bersama dengan penyalahgunaan zat pada perempuan pascapersalinan bisa menurunkan neurogenesis dan meningkatkan masalah peradangan.

Selanjutnya, penanda oksidan dapat menonaktifkan sistem endocannabinoid, dan menurunkan persepsi kompetensi fisik atau harga diri, yang selanjutnya meningkatkan beban PPD. Jadi, disimpulkan kalau latihan fisik punya efek antidepresan yang meningkat dan bisa mengurangi PPD.

Itulah lima fakta terkait postpartum depression dari beberapa studi kasus. Memiliki support system yang kuat, kesadaran akan kesehatan fisik dan mental yang tinggi, serta pola hidup sehat diharapkan dapat meminimalkan risiko depresi usai melahirkan ini. Bila mengalami gejalanya, jangan menunda-nunda untuk minta bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater.

Baca Juga: Tetaplah Kuat! Ini 7 Cara yang Bisa Dilakukan untuk Mengatasi Depresi

Sarah Ferwinda Photo Verified Writer Sarah Ferwinda

Who passionate about writing

IDN Times Community adalah media yang menyediakan platform untuk menulis. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Topic:

  • Nurulia R. Fitri

Berita Terkini Lainnya