Seberapa efektif vaksin flu dalam mencegah super flu menjadi pertanyaan yang banyak muncul belakangan ini, seiring ramainya istilah super flu diperbincangkan di media massa dan linimasa media sosial. Beragam narasi beredar, mulai dari anggapan bahwa super flu merupakan virus baru hingga kekhawatiran bahwa flu ini lebih berbahaya dan berpotensi memicu pandemi. Di tengah derasnya informasi tersebut, pemahaman yang tepat dari sudut pandang kesehatan menjadi penting agar masyarakat tidak terjebak kepanikan.
Perlu dipahami, super flu bukanlah istilah medis resmi. Istilah ini digunakan secara populer untuk menggambarkan lonjakan kasus influenza dengan gejala yang dirasakan lebih berat serta masa pemulihan yang cenderung lebih lama dibanding flu musiman. Meski terasa lebih parah, penyebab utamanya tetap virus influenza yang umum beredar.
Fenomena super flu sendiri dikaitkan dengan varian terbaru virus influenza A (H3N2) subclade K, yaitu hasil mutasi dari virus influenza musiman yang kini lebih dominan di sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Inggris, Jepang, dan beberapa wilayah Eropa.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa kasus yang dikaitkan dengan super flu telah terdeteksi sejak 25 Desember 2025. Hal ini menegaskan pentingnya kewaspadaan sekaligus pemahaman berbasis sains, termasuk peran vaksin flu dalam menekan risiko infeksi dan keparahan gejala.
