Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Apa Penyebab Super Flu?

Ilustrasi virus.
ilustrasi virus (freepik.com/freepik)
Intinya sih...
  • Super flu disebabkan oleh kombinasi faktor, termasuk varian baru virus influenza A H3N2 subclade K yang cepat menyebar dan ketidaksesuaian vaksin flu musim ini.
  • Virus influenza terus berevolusi, dengan subclade K yang lebih mudah menular dan menyebabkan gejala berat, terutama pada anak-anak, remaja, dan lansia.
  • Ketidaksesuaian vaksin flu musim ini dengan strain yang dominan beredar juga turut mempengaruhi lonjakan kasus influenza di musim ini.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Istilah “super flu” ramai dibicarakan seiring lonjakan tajam kasus influenza di berbagai negara. Meski bukan diagnosis medis resmi, tetapi fenomena ini dipicu oleh kombinasi faktor, mulai dari munculnya varian baru virus influenza A H3N2 subclade K yang sangat cepat menyebar, rendahnya kekebalan populasi, hingga ketidaksesuaian parsial vaksin flu musim ini terhadap strain yang dominan.

Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menyatakan bahwa hingga akhir Desember 2025 super flu masih dalam kondisi terkendali dan tidak menunjukkan peningkatan tingkat keparahan dibandingkan clade maupun subclade influenza lainnya.

Virus yang terus berevolusi

Virus influenza pada dasarnya terus berevolusi untuk menghindari sistem kekebalan tubuh manusia. Inilah alasan mengapa vaksin flu perlu diperbarui secara berkala. Pada tahun-tahun tertentu, virus mengalami mutasi lebih banyak dibanding tahun lainnya, dengan perubahan besar yang umumnya terjadi setiap empat hingga lima tahun.

Dalam konteks ini, lonjakan flu yang kemudian dijuluki super flu sebenarnya bukan fenomena baru, melainkan bagian dari siklus evolusi virus influenza. Subtipe flu yang dominan pada musim ini, yaitu influenza A/H3N2, telah beredar sejak 1968 dan tercatat telah mengalami lebih dari selusin perubahan genetik besar sejak saat itu.

Subclade K merupakan bagian dari virus H3N2 yang dikenal lebih mudah menular dan cenderung menyebabkan gejala lebih berat dibanding subtipe influenza lainnya. Varian ini memiliki sejumlah mutasi yang membuatnya lebih cepat menyebar di populasi yang belum memiliki kekebalan spesifik, sehingga dalam waktu singkat kasus flu melonjak tajam dan membebani fasilitas layanan kesehatan.

Dengan pola evolusi tersebut, para ahli menilai bahwa apa yang kini disebut sebagai super flu pada dasarnya adalah kemunculan varian baru yang berhasil menemukan celah dalam kekebalan populasi, sesuatu yang memang terjadi secara berkala.

Ketidaksesuaian vaksin flu musim ini

Vaksin flu.
ilustrasi vaksin flu (unsplash.com/CDC)

Faktor lain yang turut berperan adalah ketidaksesuaian vaksin flu musim ini dengan strain yang dominan beredar. Vaksin influenza dirancang berdasarkan prediksi strain yang kemungkinan muncul, dan pada musim ini vaksin menggunakan subclade J dan J.2 sebagai strain acuan, bukan subclade K. Meski demikian, para ahli menekankan bahwa kondisi ini bukan hal baru dan kerap terjadi pada musim flu sebelumnya.

Penting untuk dicatat, ketidaksesuaian tersebut tidak berarti vaksin menjadi tidak berguna. Data menunjukkan vaksin tetap memberikan perlindungan terhadap penyakit berat, rawat inap, dan kematian akibat influenza. Dengan kata lain, vaksin mungkin tidak sepenuhnya mencegah infeksi, tetapi tetap berperan penting dalam menekan dampak terburuk.

Lonjakan juga terjadi bersamaan dengan meningkatnya kasus penyakit pernapasan dan infeksi lain, seperti COVID-19 dan batuk rejan. Kombinasi ini membuat beban sistem kesehatan meningkat, sehingga flu musim ini terasa lebih “ganas” meski tingkat keparahan per kasus belum terbukti lebih tinggi dibanding strain flu sebelumnya.

Kelompok usia yang rentan

Dari sisi kelompok usia, anak-anak dan remaja termasuk kelompok yang paling rentan terinfeksi. Tingginya intensitas interaksi di lingkungan sekolah memudahkan penyebaran virus, sementara sistem kekebalan tubuh mereka belum sepenuhnya terlatih menghadapi berbagai varian influenza yang terus berubah.

Sebaliknya, orang dewasa umumnya memiliki risiko infeksi yang lebih rendah karena tingkat kontak yang cenderung lebih sedikit dan pengalaman imunologis yang lebih panjang terhadap virus flu. Namun, risiko kembali meningkat pada kelompok lansia, terutama karena banyaknya kondisi medis penyerta dan melemahnya sistem kekebalan tubuh akibat proses alami penuaan yang dikenal sebagai immunosenescence. Kondisi ini membuat infeksi flu berpotensi berkembang menjadi penyakit yang lebih berat.

Bayi juga termasuk kelompok berisiko tinggi, karena sistem kekebalan tubuh mereka belum berkembang secara optimal. Infeksi influenza pada usia ini lebih mudah berkembang menjadi komplikasi serius, sehingga memerlukan perhatian khusus.

Para ahli juga mencatat bahwa orang-orang dengan rentang usia yang sama cenderung pernah terpapar virus flu yang serupa di masa lalu. Hal ini dapat menjelaskan mengapa pada musim tertentu, kelompok usia yang khusus tampak lebih terdampak dibanding kelompok lainnya.

Referensi

"“Super Flu” Explained: Symptoms, Treatment, and When to Get Care". Afcurgentcare. Diakses Januari 2026.

"What to know about the "super flu" and the unprecedented spike in flu cases". Axios. Diakses Januari 2026.

"What is super flu? And other questions answered". The Conversation. Diakses Januari 2026.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nuruliar F
EditorNuruliar F
Follow Us

Latest in Health

See More

Kena Infeksi Menular Seksual, Pasangan Sudah Pasti Selingkuh?

02 Jan 2026, 23:21 WIBHealth
Ilustrasi virus.

Apa Penyebab Super Flu?

02 Jan 2026, 15:06 WIBHealth