Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Sering Makan Kol Goreng, Ini Risiko Penyakit yang Mengancam
ilustrasi menggoreng kol, kol goreng (vecteezy.com/Seksan Wangjaisuk)
  • Belum ada bukti bahwa kol goreng secara khusus menyebabkan penyakit. Penelitian yang tersedia umumnya mengukur konsumsi gorengan secara keseluruhan.

  • Konsumsi gorengan yang sering dikaitkan dengan berat badan berlebih, tekanan darah tinggi, dan beberapa penyakit kardiovaskular.

  • Risiko dipengaruhi pola makan secara keseluruhan, porsi, cara menggoreng, jenis minyak, serta garam dan bumbu yang digunakan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kubis atau kol goreng sering menjadi pelengkap makan yang disukai banyak orang. Kolnya tetap sayuran, tetapi cara memasak dan seberapa sering menyantapnya ikut menentukan dampak makanan itu pada pola makan sehari-hari.

Sebetulnya belum ada penelitian yang membuktikan kol goreng secara khusus menyebabkan penyakit tertentu. Bukti yang ada umumnya meneliti konsumsi gorengan secara luas.

Saat digoreng, makanan dapat menyerap minyak sehingga kandungan lemak dan energinya bertambah. Jika kol juga diberi lapisan tepung atau banyak garam dan bumbu, komposisi akhirnya bisa berbeda dari kol yang direbus atau dikukus.

Berikut beberapa kondisi yang dikaitkan dengan kebiasaan sering mengonsumsi gorengan, dan mungkin termasuk kol goreng.

1. Berat badan berlebih dan obesitas

Minyak yang terserap menambah energi dalam makanan. Jika asupan energi dari berbagai makanan dan minuman terus melebihi kebutuhan tubuh, berat badan dapat bertambah. Kol goreng bukan satu-satunya faktor, tetapi porsinya bisa ikut menyumbang, terutama jika sering dimakan bersama gorengan lain.

Menurut sebuah metaanalisis penelitian observasional, kelompok dengan konsumsi gorengan tertinggi memiliki kaitan dengan risiko berat badan berlebih atau obesitas yang lebih tinggi dibandingkan kelompok dengan konsumsi terendah.

2. Tekanan darah tinggi

ilustrasi hasil pemeriksaan tekanan darah menunjukkan hipertensi (pexels.com/Marta Branco)

Hubungan antara gorengan dan tekanan darah tidak hanya berkaitan dengan minyak. Garam, penyedap, atau saus yang menyertai makanan juga dapat menambah asupan natrium.

Konsumsi natrium berlebih berkaitan dengan tekanan darah tinggi, yang dapat meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular.

3. Penyakit jantung dan gangguan kardiovaskular

Sebuah metaanalisis menunjukkan bahwa konsumsi gorengan yang tinggi berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit jantung koroner, kejadian kardiovaskular utama, dan kemungkinan gagal jantung. Namun, angka tersebut membandingkan kelompok dengan konsumsi gorengan tertinggi dan terendah, bukan berarti satu porsi gorengan langsung meningkatkan risiko seseorang sebesar itu.

Selain itu, penelitian yang ada bersifat observasional dan hasilnya cukup beragam. Faktor lain seperti pola makan, berat badan, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan juga dapat memengaruhi hasil.

4. Diabetes tipe 2, walaupun buktinya belum kuat

ilustrasi mengolah kubis (pexels.com/Niklas Jeromin)

Sering makan gorengan belum terbukti secara pasti menyebabkan diabetes tipe 2. Metaanalisis tidak menemukan hubungan yang bermakna antara konsumsi gorengan tertinggi dan risiko diabetes tipe 2 secara keseluruhan.

Namun, sebuah studi jangka panjang menemukan bahwa orang yang lebih sering mengonsumsi gorengan cenderung lebih banyak mengalami diabetes tipe 2. Hubungan ini melemah setelah faktor seperti berat badan, hipertensi, dan kolesterol tinggi diperhitungkan.

Temuan tersebut menunjukkan bahwa kaitan gorengan dengan diabetes kemungkinan juga dipengaruhi faktor kesehatan lainnya.

Bukan berarti kol goreng harus dihindari

Kol bisa menjadi bagian dari pola makan yang beragam. Yang perlu diperhatikan adalah frekuensi dan cara mengolahnya.

Sarannya, batasi makanan tinggi lemak tidak sehat. Merebus atau mengukus merupakan pilihan untuk mengurangi asupan lemak dibandingkan menggoreng.

Jika kol goreng adalah salah satu lauk favoritmu, cobalah batasi porsinya dan jangan memakannya setiap hari. Sesekali, kol bisa diolah dengan cara ditumis menggunakan sedikit minyak, direbus, atau dikukus. Perhatikan juga jumlah garam, saus, dan lauk gorengan lain dalam satu kali makan.

Referensi

Pei Qin et al., “Fried-Food Consumption and Risk of Cardiovascular Disease and All-Cause Mortality: A Meta-Analysis of Observational Studies,” Heart 107, no. 19 (2021): 1567–75, https://doi.org/10.1136/heartjnl-2020-317883.

Pei Qin et al., “Fried-Food Consumption and Risk of Overweight/Obesity, Type 2 Diabetes Mellitus, and Hypertension in Adults: A Meta-Analysis of Observational Studies,” Critical Reviews in Food Science and Nutrition 62, no. 24 (2022): 6809–20, https://doi.org/10.1080/10408398.2021.1906626.

Aman Mohammad Ziaiifar et al., “Review of Mechanisms, Conditions, and Factors Involved in the Oil Uptake Phenomenon during the Deep-Fat Frying Process,” International Journal of Food Science & Technology 43, no. 8 (2008): 1410–23, https://doi.org/10.1111/j.1365-2621.2007.01664.x.

World Health Organization, “Healthy Diet,” diakses 18 Oktober 2026.

Leah E. Cahill et al., “Fried-Food Consumption and Risk of Type 2 Diabetes and Coronary Artery Disease: A Prospective Study in 2 Cohorts of US Women and Men,” The American Journal of Clinical Nutrition 100, no. 2 (2014): 667–75, https://doi.org/10.3945/ajcn.114.084129.

Curated For You

Editorial Team

Related Article