Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Benarkah Nasi Goreng yang Dipanaskan Bisa Memicu Keracunan?

Benarkah Nasi Goreng yang Dipanaskan Bisa Memicu Keracunan?
ilustrasi memanaskan nasi goreng (commons.wikimedia.org/Audrey)
  • Nasi matang yang dibiarkan pada suhu ruang lebih dari dua jam berisiko ditumbuhi Bacillus cereus, meski warna, aroma, dan rasanya tetap tampak normal.
  • Racun Bacillus cereus dapat memicu mual, muntah, diare, dan kram perut; gejala berat atau berkepanjangan, terutama dengan tanda dehidrasi, perlu ditangani medis.
  • Menggoreng ulang tidak selalu menghancurkan racun yang telah terbentuk; nasi matang perlu segera didinginkan, disimpan tertutup di kulkas, dan tidak digunakan bila terlalu lama di luar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Nasi goreng sering menjadi pilihan menu saat masih ada nasi yang tersisa di rumah. Nasi yang sudah dingin biasanya justru dianggap lebih cocok untuk digoreng karena teksturnya tidak terlalu lembek dan bumbu lebih mudah tercampur. Kebiasaan menggunakan nasi sisa seperti ini sudah sangat umum, tetapi ada satu hal yang sering luput diperhatikan sebelum nasi dimasukkan ke wajan.

Nasi yang terlihat biasa saja belum tentu berada dalam kondisi yang sama seperti saat baru matang. Proses pemanasan kembali juga tidak selalu menjadi jaminan bahwa makanan akan aman dikonsumsi. Hal tersebut membuat nasi goreng dari nasi sisa menarik untuk dilihat dari sisi keamanan makanan dan risiko keracunan.

  1. 1. Bacillus cereus bisa berkembang setelah nasi matang

    ilustrasi nasi
    ilustrasi nasi (vecteezy.com/Danil Rudenko)

    Beras mentah dapat membawa spora Bacillus cereus. Spora tersebut cukup tahan terhadap proses memasak sehingga sebagian bisa tetap ada setelah beras berubah menjadi nasi. Saat nasi matang kemudian dibiarkan dalam kondisi yang mendukung pertumbuhan bakteri, spora dapat berkembang menjadi bakteri dan menghasilkan racun. Nasi yang sudah mengandung bakteri atau racun juga belum tentu menunjukkan perubahan pada warna, aroma, maupun rasanya.

    Suhu ruang menjadi kondisi yang perlu diperhatikan karena bakteri dapat berkembang lebih mudah dibandingkan saat nasi disimpan dalam kondisi dingin. Waktu yang dihabiskan nasi di luar kulkas juga ikut menentukan seberapa besar kesempatan bakteri untuk berkembang dan menghasilkan racun. Nasi yang baru selesai dimasak tentu berbeda kondisinya dengan nasi yang sudah berjam-jam berada di meja makan, meskipun keduanya terlihat sama saat akan digunakan. Nasi yang berada pada suhu ruang lebih dari dua jam perlu diwaspadai, terutama jika lingkungan sedang panas.

  2. 2. Racun bakteri bisa memicu gangguan pencernaan

    ilustrasi masalah pencernaan
    ilustrasi masalah pencernaan (vecteezy.com/dao_kp20226443)

    Keracunan akibat Bacillus cereus dapat terjadi setelah racun yang dihasilkan bakteri masuk bersama makanan. Salah satu jenis racunnya dapat memicu mual dan muntah dalam waktu beberapa jam setelah nasi atau makanan lain yang terkontaminasi dikonsumsi. Keluhan tersebut bisa muncul cukup cepat sehingga seseorang mungkin baru menyadari adanya masalah setelah mengalami muntah atau rasa mual yang mendadak. Bentuk keracunan ini dikenal sebagai tipe emetik karena keluhan utamanya berkaitan dengan muntah.

    Jenis racun lainnya lebih berkaitan dengan diare dan kram perut. Gangguan tersebut biasanya muncul setelah beberapa waktu dan dapat ditandai dengan buang air besar berulang, perut terasa mulas, atau nyeri di bagian perut. Muntah dan diare yang berlangsung berulang juga dapat membuat tubuh kehilangan banyak cairan dan elektrolit sehingga rasa lemas, haus berlebihan, mulut kering, atau jarang buang air kecil perlu diperhatikan. Keluhan yang berat atau tidak kunjung membaik perlu mendapatkan penanganan medis, terutama jika kehilangan cairan cukup banyak.

  3. 3. Nasi yang sudah terkontaminasi tidak cukup hanya dipanaskan

    ilustrasi memanaskan nasi goreng
    ilustrasi memanaskan nasi goreng (unsplash.com/Carlos Fernández)

    Menggoreng nasi sampai panas memang dapat membunuh bakteri yang masih hidup. Namun, cara tersebut tidak selalu menghancurkan racun yang sudah terbentuk di dalam makanan. Beberapa racun yang dihasilkan Bacillus cereus memiliki ketahanan terhadap panas sehingga tetap dapat menimbulkan masalah setelah nasi dimasak kembali, termasuk saat nasi tersebut sudah berubah menjadi nasi goreng. Kondisi ini menjadi alasan mengapa pemanasan ulang tidak bisa dijadikan cara untuk menyelamatkan nasi yang sudah salah disimpan.

    Nasi yang akan digunakan untuk membuat nasi goreng sebaiknya disimpan dengan benar sejak awal. Nasi matang perlu segera didinginkan dan dimasukkan ke dalam wadah tertutup di kulkas, bukan dibiarkan berjam-jam di suhu ruang. Nasi yang sudah terlalu lama berada di luar kulkas sebaiknya tidak digunakan lagi meskipun nantinya akan digoreng sampai panas, sedangkan nasi yang sudah disimpan dengan baik dapat dipanaskan sesuai porsi yang akan dimakan.

    Keracunan makanan tidak selalu diawali dengan makanan yang terlihat basi atau memiliki rasa yang aneh. Risiko juga bisa berasal dari makanan yang tampak biasa saja, termasuk nasi goreng yang dibuat dari nasi yang sebelumnya sudah mengalami penyimpanan kurang tepat. Hal ini membuat cara menyimpan dan mengolah makanan tetap perlu diperhatikan agar makanan yang dikonsumsi tidak justru menimbulkan masalah kesehatan.

    Referensi

    "What Is Reheated Rice Syndrome?" Healthline. Diakses pada September 2026.

    "Fried Rice Syndrome." Singapore Food Agency. Diakses pada September 2026.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More