- Jalan cepat selama 3 menit.
- Jalan santai selama 3 menit sebagai masa pemulihan.
Benarkah Japanese Walking Lebih Efektif daripada Jalan Santai?

Japanese walking menggabungkan jalan cepat dan santai bergantian selama 30 menit, terbukti meningkatkan kebugaran jantung dan kekuatan otot dibanding jalan santai biasa.
Penelitian menunjukkan metode ini menurunkan tekanan darah, meningkatkan kapasitas aerobik, serta membakar kalori dan lemak lebih banyak berkat pola intensitas naik-turun yang merangsang sistem kardiovaskular.
Latihan ini ramah sendi dan cocok untuk berbagai usia, termasuk lansia atau penderita hipertensi, namun hasilnya tetap bergantung pada konsistensi olahraga dan gaya hidup sehat secara keseluruhan.
Di media sosial ramai tren olahraga bernama Japanese walking. Banyak orang mengklaim metode ini bisa membakar lebih banyak lemak, menurunkan tekanan darah, bahkan meningkatkan kebugaran hanya dengan berjalan kaki. Sekilas terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan.
Faktanya, jalan santai memang menyehatkan. Namun, jika tujuanmu adalah meningkatkan kebugaran jantung, membakar kalori lebih banyak, atau meningkatkan daya tahan tubuh dalam waktu yang relatif singkat, Japanese walking punya beberapa keunggulan yang didukung penelitian.
Lalu, apa sebenarnya yang membedakan jalan santai dan Japanese walking? Baca penjelasannya di bawah ini, ya!
Table of Content
1. Apa itu Japanese walking?
Meski baru viral beberapa tahun terakhir, tetapi Japanese walking sebenarnya bukan metode baru. Teknik ini dikembangkan pada awal tahun 2000-an oleh peneliti dari Universitas Shinshu, Jepang, yang dipimpin oleh Dr. Hiroshi Nose. Metode ini dikenal juga sebagai interval walking training (IWT).
Caranya sederhana, yaitu menggabungkan jalan cepat dan jalan santai secara bergantian. Satu siklus terdiri dari:
Siklus tersebut diulang sekitar lima kali sehingga total durasinya sekitar 30 menit. Latihan biasanya dilakukan 3–5 kali dalam seminggu.
Saat memasuki fase jalan cepat, intensitasnya cukup tinggi hingga napas mulai terasa lebih berat. Kamu masih bisa berbicara, tetapi tidak mampu mengucapkan kalimat panjang dengan nyaman.
Sebaliknya, saat fase jalan santai, tubuh diberi kesempatan untuk memulihkan napas sebelum kembali meningkatkan intensitas.
2. Kenapa Japanese walking dianggap lebih efektif daripada jalan santai?
Perbedaan utamanya terletak pada intensitas latihan.
Saat berjalan santai dengan kecepatan yang sama dari awal hingga akhir, detak jantung memang meningkat, tetapi biasanya tetap berada pada tingkat sedang. Tubuh mendapatkan manfaat kesehatan, tapi rangsangan untuk meningkatkan kapasitas jantung dan paru tidak terlalu besar.
Di sisi lain, Japanese walking membuat detak jantung naik dan turun secara bergantian. Pola interval seperti ini memaksa sistem kardiovaskular bekerja lebih keras, sehingga tubuh beradaptasi menjadi lebih bugar.
Penelitian menemukan bahwa peserta yang rutin melakukan Japanese walking selama beberapa bulan memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan mereka yang hanya berjalan terus-menerus dengan kecepatan sedang (Mayo Clinic Proceedings, 2007).
Beberapa manfaat yang dilaporkan antara lain:
- Penurunan tekanan darah yang lebih besar.
- Peningkatan kapasitas aerobik.
- Otot paha dan tungkai menjadi lebih kuat.
- Pembakaran kalori lebih tinggi.
- Penurunan lemak tubuh yang lebih signifikan.
Dengan kata lain, dalam durasi yang hampir sama, tubuh memperoleh stimulus latihan yang lebih besar.
3. Apakah lebih ampuh untuk menurunkan berat badan?

Banyak orang tertarik mencoba Japanese walking karena diklaim lebih efektif membakar lemak. Apa benar?
Saat memasuki fase jalan cepat, tubuh membutuhkan energi lebih banyak sehingga kalori yang dibakar meningkat. Setelah latihan selesai, metabolisme juga tetap sedikit lebih tinggi dibandingkan setelah berjalan santai biasa. Fenomena ini dikenal sebagai afterburn effect, meski efeknya tidak sebesar olahraga intensitas tinggi seperti lari atau HIIT.
Namun, perlu diingat bahwa penurunan berat badan tetap dipengaruhi oleh pola makan, total aktivitas fisik, kualitas tidur, hingga kondisi kesehatan masing-masing orang. Jadi, Japanese walking bukan jalan pintas untuk menurunkan berat badan secara instan.
4. Tidak hanya untuk orang muda
Salah satu kelebihan metode ini adalah relatif ramah untuk persendian. Berbeda dengan joging yang memberikan benturan lebih besar pada lutut dan pergelangan kaki, Japanese walking tetap menggunakan gerakan berjalan sehingga risikonya lebih rendah.
Karena itulah latihan ini dinilai cocok untuk banyak orang, termasuk lansia, orang dengan hipertensi, diabetes tipe 2, atau mereka yang baru mulai rutin berolahraga.
Tentu saja, bagi orang yang memiliki penyakit jantung atau kondisi medis tertentu, sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum mencoba latihan dengan intensitas lebih tinggi.
5. Apakah semua orang akan mendapatkan hasil yang sama?
Jawabannya umumnya belum tentu. Respons tubuh terhadap olahraga bisa berbeda-beda. Ada orang yang mengalami peningkatan kebugaran cukup pesat, sementara yang lain memperoleh hasil lebih lambat.
Kalau ingin mencobanya, kamu tidak butuh alat khusus. Berikut langkah mencoba Japanese walking:
- Lakukan pemanasan dengan berjalan santai sekitar 5–10 menit.
- Berjalan cepat selama 3 menit hingga napas mulai terasa lebih berat.
- Turunkan kecepatan dan berjalan santai selama 3 menit.
- Ulangi siklus tersebut sebanyak lima kali.
- Akhiri dengan pendinginan beberapa menit.
Jadi, secara umum Japanese walking lebih efektif dibandingkan jalan santai, terutama untuk meningkatkan kebugaran jantung, memperkuat otot kaki, membantu mengontrol tekanan darah, dan membakar lebih banyak kalori. Ini berkat adanya pergantian antara intensitas tinggi dan rendah yang membuat tubuh bekerja lebih optimal.
Akan tetapi, olahraga terbaik tetaplah olahraga yang bisa dilakukan secara konsisten. Jika Japanese walking terasa terlalu berat, jalan santai setiap hari tetap memberikan banyak manfaat bagi kesehatan. Yang terpenting adalah membangun kebiasaan bergerak yang bisa dipertahankan dalam jangka panjang.
Referensi
AOL. Diakses pada Juni 2026. "Is ‘Japanese Walking’ As Eeffective As Everyone Claims? We Asked An Exercise Physiologist to Weigh In."
CBC. Diakses pada Juni 2026. "'Japanese Walking' A Fun Way For Some To Boost Their Health."
Nemoto, K., Gen-No, H., Masuki, S., Okazaki, K., & Nose, H. (2007). "Effects of High-Intensity Interval Walking training on physical fitness and blood pressure in Middle-Aged and Older people." Mayo Clinic Proceedings, 82(7), 803–811. https://doi.org/10.4065/82.7.803
The Conversation. Diakses pada Juni 2026. "Japanese Walking: The Benefits of This Fitness Trend."
Time. Diakses pada Juni 2026. "What Experts Think About the Japanese Walking Trend."








![[QUIZ] Pilih Karakter Upin & Ipin, Kami Tebak Cara Kamu Hadapi Stres](https://image.idntimes.com/post/20260425/screenshot_20260425-133639_youtube_80dfc36e-03ac-4bc9-aff7-132b1a0b2dfc.jpeg)

![[QUIZ] Seberapa Lelah Matamu? Cek dengan Tebak Jersey Piala Dunia 2026](https://image.idntimes.com/post/20250405/alasan-kenapa-kamu-harus-mulai-berhenti-beli-jersey-sepak-bola-kw-industri-kreatif-9cde86371d7fc78c91ae80a6ffab250e-98bb2a51c6e8370b23fef133f9246730.jpg)








