Stimulasi dan Nutrisi, Dua Fondasi Tumbuh Kembang Anak

Tumbuh kembang anak tidak hanya diukur lewat IQ dan nilai, tetapi juga kemampuan mengenali emosi, berempati, berkomunikasi, serta beradaptasi.
Orang tua dianjurkan memberi stimulasi responsif melalui momen sehari-hari, seperti membantu anak menamai emosi, bermain, membaca bersama, bergantian, dan menyelesaikan masalah sesuai usia.
Nutrisi seimbang dan kesehatan pencernaan turut mendukung perkembangan melalui gut-brain axis; asupan serat serta prebiotik dari buah, sayur, susu, kacang, dan umbi dianjurkan.
Saat seorang anak mulai mengatakan bahwa dirinya kecewa atau belajar menunggu giliran saat bermain, tanpa disadari ia sedang mengembangkan kemampuan yang tak selalu terlihat di rapor. Ia belajar mengenali emosi, berkomunikasi, dan memahami orang lain.
Hal itu menjadi salah satu pesan dalam diskusi media bertajuk “Pencernaan Sehat, Kecerdasan Anak Optimal” yang digelar di Jakarta pada Kamis (8/10). Ratih Ibrahim, M.M., Psikolog, Senior Psikolog Klinis, dan Dr. dr. Ray Wagiu Basrowi, MKK, FRSPH, Executive Director Indonesia Health Development Center (IHDC) dan Member of Gut and Immunity Council (GIC) membahas peran stimulasi, pengasuhan, nutrisi, dan kesehatan pencernaan dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Berikut lima hal yang dapat dilakukan keluarga dalam keseharian.
Table of Content
1. Lihat perkembangan anak lebih luas dari skor IQ
Nilai sekolah dan skor IQ tidak menggambarkan semua kemampuan anak. Ia juga perlu belajar mengenali perasaan, berempati, berkomunikasi, beradaptasi, dan membangun hubungan.
Ratih menjelaskan bahwa perkembangan kemampuan tersebut dipengaruhi oleh pengalaman dan lingkungan anak. Karena itu, orang tua dapat mengamati kemajuan kecil sehari-hari—misalnya anak mulai menyampaikan keinginannya dengan kata-kata atau mencoba kembali setelah gagal—tanpa membandingkannya dengan anak lain.
2. Masa awal penting, tetapi bukan tenggat belajar
Ratih membedakan critical period, ketika input tertentu dibutuhkan agar fungsi jaringan otak berkembang optimal, dan sensitive period, ketika anak lebih responsif terhadap pengalaman tertentu. Meski begitu, ia menjelaskan bahwa kemampuan masih bisa berkembang setelah periode tersebut dengan dukungan dan pembelajaran yang sesuai.
Otak memang sangat aktif membentuk koneksi pada tahun-tahun awal. Namun, koneksi baru tetap dapat terbentuk sepanjang hidup. Jadi, perhatian pada masa awal penting, tetapi bukan berarti kesempatan belajar anak tertutup setelah usia tertentu.
3. Bantu anak memahami perasaannya lewat momen sehari-hari

ilustrasi quality time orang tua dengan anak (pexels.com/Emma Bauso) Saat anak marah atau kecewa, orang tua bisa membantunya memberi nama pada perasaan tersebut: “Kamu kesal karena belum boleh bermain lagi, ya?” Setelah itu, jelaskan batas perilaku dengan tenang, seperti bahwa marah boleh, tetapi memukul tidak.
Ratih mengingatkan bahwa stimulasi emosi “tidak harus dilakukan melalui aktivitas yang rumit.” Ia menyarankan orang tua merespons anak dengan tenang, mendengarkan tanpa menghakimi, memberi contoh cara mengelola emosi, dan mengajak anak bermain atau belajar bergantian. Menurutnya, anak belajar lewat hubungan, pengamatan, dan pengalaman bersama orang dewasa.
4. Beri ruang untuk bermain, membaca, dan berinteraksi
Bermain pura-pura, membaca buku bersama, atau mengajak anak bercerita tentang perasaan tokoh dapat menjadi kesempatan untuk belajar berkomunikasi dan memahami sudut pandang orang lain. Orang tua juga dapat memberi anak kesempatan menyelesaikan masalah sesuai usianya.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pengasuhan responsif dan kegiatan belajar sejak dini sebagai bagian dari dukungan perkembangan anak. Nutrisi dan kesehatan perlu berjalan bersama dengan rasa aman serta interaksi yang mendukung.
5. Dukung nutrisi dan pencernaan sebagai bagian dari tumbuh kembang
Selain stimulasi dan pengasuhan, nutrisi juga berperan penting dalam tumbuh kembang anak. Menurut Dr. Ray, kesehatan pencernaan perlu diperhatikan karena otak dan saluran cerna terhubung melalui gut-brain axis (GBA), sehingga kondisi pencernaan dapat memengaruhi fungsi otak, perilaku, dan suasana hati anak.
Ia menjelaskan bahwa saluran cerna menjadi tempat hidup triliunan mikrobiota yang berperan dalam perkembangan GBA. Karena itu, orang tua perlu mendukung kesehatan pencernaan anak melalui pola makan bergizi seimbang. Salah satu nutrisi yang penting adalah prebiotik, yaitu makanan bagi bakteri baik di usus.
"Guna menjaga jumlah bakteri baik dalam usus anak tetap seimbang, si Kecil perlu diberikan asupan prebiotik yang biasanya banyak terkandung dalam makanan sumber serat seperti buah-buahan, sayur-mayur, susu, kacang-kacangan, dan beberapa jenis sayuran akar seperti umbi-umbian dan wortel. Prebiotik juga dapat diperoleh dari sumber nutrisi lain, seperti susu pertumbuhan untuk anak di atas 1 tahun yang mengandung prebiotik," Dr. Ray menjelaskan.
Menurutnya, pola makan yang beragam dan kaya akan serat serta prebiotik perlu diimbangi dengan stimulasi dan pengasuhan yang responsif. Dengan dukungan yang tepat pada masa pertumbuhan, anak dapat tumbuh sehat sekaligus mengembangkan potensi terbaiknya.




















