Referensi
Jacquelyn M. Powers et al., “Prevention, Screening, Diagnosis, and Treatment of Iron Deficiency and Iron Deficiency Anemia in Infants, Children, and Adolescents: Clinical Report,” Pediatrics 158, no. 1 (July 2026): e2026077414, https://doi.org/10.1542/peds.2026-077414.
Juan P. Chalco et al., “Accuracy of Clinical Pallor in the Diagnosis of Anaemia in Children: A Meta-Analysis,” BMC Pediatrics 5 (2005): 46, https://doi.org/10.1186/1471-2431-5-46.
Jangan Tunggu Anak Pucat untuk Curiga Kekurangan Zat Besi

Cadangan zat besi dapat menipis sebelum kadar hemoglobin turun. Pada tahap ini, anak bisa tetap aktif dan belum tampak pucat.
Pucat dapat menyertai anemia defisiensi besi, terutama saat anemia lebih berat, tetapi tanda ini sulit dikenali dan bukan penentu penyebab.
Anak yang tampak pucat atau mengalami gejala seperti mudah lelah dan sulit berkonsentrasi perlu dinilai tenaga kesehatan. Warna kulit saja tidak cukup untuk memastikan kekurangan zat besi.
Take a Deeper Reads

Perubahan warna kulit anak bisa berlangsung secara perlahan. Karena orang tua melihat anak setiap hari, perubahan itu kadang tidak langsung terlihat. Padahal, kekurangan zat besi bisa dimulai jauh sebelum anak tampak pucat.
“Anemia defisiensi besi tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini mengalami proses yang lama, dari mulai kekurangan besi sampai nanti terjadi penurunan Hb,” kata Prof. Dr. dr. Murti Andriastuti, Sp.A(K), Subsp.H.Onk.(K), dari Unit Kerja Koordinasi Hematologi Onkologi IDAI, dalam seminar media pada 6 Oktober 2026.
Pernyataan itu merujuk pada perbedaan antara defisiensi besi dan anemia defisiensi besi. Defisiensi besi berarti persediaan zat besi tubuh sudah berkurang. Kondisi ini bisa terjadi ketika hemoglobin (Hb) masih normal. Jika kekurangan zat besi berlanjut hingga Hb turun, barulah kondisi itu disebut anemia defisiensi besi.
Table of Content
Defisiensi besi bisa terjadi tanpa anak terlihat sakit
Tubuh menggunakan cadangan zat besi terlebih dahulu. Salah satu penanda cadangan tersebut adalah ferritin. Jika cadangan besi terus berkurang, kadar besi yang tersedia untuk pembentukan sel darah merah ikut terdampak dan Hb dapat turun.
“Pada tahap awal itu hanya ferritin yang turun. Nah, pada saat ini anak yang mengalami defisiensi besi itu masih aktif, tidak terlihat sakit,” ujar Prof. Murti.
Artinya, anak yang tampak bugar dan tidak pucat belum tentu memiliki cadangan zat besi yang cukup. Panduan klinis American Academy of Pediatrics (AAP) 2026 juga membedakan defisiensi besi dari anemia defisiensi besi. Pemeriksaan darah lengkap dan ferritin dapat membantu dokter menilai keduanya. Kadar ferritin juga perlu ditafsirkan sesuai kondisi anak karena peradangan atau infeksi dapat membuat nilainya meningkat.
Pucat bisa muncul, tetapi sulit dijadikan patokan

ilustrasi ibu dan anak (pexels.com/alex-green) Ketika anemia sudah terjadi, pucat dapat terlihat pada kulit, bagian dalam kelopak mata, atau dasar kuku. Namun, tanda ini tidak selalu mudah dikenali.
AAP menyebut pucat lebih sering ditemukan pada anemia sedang hingga berat; sebagian anak dengan anemia kronis yang terkompensasi dapat memiliki sedikit tanda fisik, bahkan pemeriksaan fisiknya bisa tampak normal. Pada anak dengan warna kulit lebih gelap, perubahan mungkin terlihat sebagai kulit yang lebih pucat, kusam, atau kekuningan.
“Keluhan pucat itu sulit ya, bukan hanya orang tua, tapi kadang dokter juga bisa terlewat nih,” kata Prof. Murti.
Pucat juga bukan tanda khusus kekurangan zat besi. Anemia dapat disebabkan oleh berbagai hal, sehingga warna kulit saja tidak dapat memastikan penyebabnya.
Sebuah metaanalisis terhadap 11 studi pada anak menemukan bahwa pemeriksaan pucat pada telapak tangan, konjungtiva, atau kuku bukan tanda klinis yang sangat akurat untuk mendiagnosis anemia.
Perhatikan juga tanda lain
Selain pucat, anak dengan kekurangan zat besi dapat mengalami kelelahan. Sebagian anak menjadi lebih rewel atau sulit berkonsentrasi.
Ada pula yang mengidam atau mengunyah benda bukan makanan, seperti es, tanah, atau kertas—kebiasaan yang dikenal sebagai pika.
Tidak semua anak mengalami gejala yang sama, dan tanda-tanda tersebut juga tidak bisa dipakai sendirian untuk memastikan diagnosis.
Dalam sesi media tersebut, Prof. Murti menyebut dokter dapat menggali riwayat makan, kemungkinan perdarahan, serta keluhan seperti lemas, mudah marah, atau gangguan konsentrasi. Pemeriksaan fisik dan tes darah kemudian membantu menentukan apakah anak mengalami defisiensi besi, anemia defisiensi besi, atau kondisi lain.
Kapan anak perlu diperiksa?

ilustrasi dokter memeriksa anak (pexels.com/Los Muertos Crew) Jika anak tampak makin pucat, mudah lelah, lebih sering mengantuk, atau mengalami keluhan yang mengganggu aktivitasnya, sebaiknya periksakan anak ke dokter. Dokter akan mempertimbangkan usia, pola makan, riwayat kesehatan, dan kemungkinan kehilangan darah sebelum menentukan pemeriksaan yang diperlukan.
Pemeriksaan darah lebih dapat diandalkan daripada menilai warna kulit. Karena defisiensi besi bisa muncul sebelum Hb turun dan sebelum anak tampak pucat, perubahan yang terlihat bukan satu-satunya alasan untuk mencari penilaian medis, terutama jika anak memiliki faktor risiko kekurangan zat besi.




















![[QUIZ] Dari Rutinitasmu, Tubuhmu Lebih Butuh Stretching, Kardio, atau Strength Training?](https://image.idntimes.com/post/20240603/4-d9c16a8dcea16ed548a9742104a67458-87e22365a1c620decd736e449c83c00b.jpg)
