Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Studi Ungkap Keunggulan Kopi Decaf Dibanding Kopi Berkafein
ilustrasi minum kopi (magnific.com/lifeforstock)
  • Studi terbut menemukan peningkatan pada beberapa tes memori di kelompok yang minum kopi decaf. Hasil ini masih awal dan belum membuktikan decaf lebih baik untuk semua orang.

  • Kopi decaf mengandung jauh lebih sedikit kafein. Ini bisa menjadi pilihan bagi orang yang ingin membatasi asupan kafein.

  • Kopi berkafein juga menunjukkan efek tertentu dalam studi yang sama, termasuk pada tes perhatian. Karena itu, temuan tersebut bukan bukti bahwa decaf selalu lebih unggul.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sebagian orang memilih kopi decaf agar tetap bisa menikmati rasa dan kebiasaan minum kopi, tetapi mengurangi kafein. Kini, sebuah studi menambah alasan lain untuk meneliti kopi tanpa kafein. Disebutkan bahwa kelompok yang minum kopi decaf menunjukkan peningkatan pada beberapa tes memori.

Berikut yang perlu diketahui tentang keunggulan kopi decaf dalam studi terbaru.

1. Studi terbaru menemukan peningkatan pada beberapa tes memori

Studi yang terbit dalam jurnal Nature Communications pada 2026 ini meneliti hubungan kopi dengan mikrobioma usus, suasana hati, dan fungsi kognitif. Sebanyak 31 peminum kopi rutin berhenti minum kopi selama dua minggu. Setelah itu, 15 orang mendapat kopi decaf dan 16 orang mendapat kopi berkafein selama tiga minggu. Peserta tidak mengetahui jenis kopi yang mereka minum.

Pada kelompok kopi decaf, peneliti mencatat peningkatan bermakna pada beberapa bagian tes memori dan penurunan kesalahan pada tes belajar. Perubahan bermakna serupa tidak terlihat pada kelompok kopi berkafein.

Namun, ini belum membuktikan kopi decaf lebih unggul secara umum. Jumlah peserta pada setiap kelompok hanya 15 dan 16 orang, masa intervensinya tiga minggu, dan penulis menyebut efek latihan mengerjakan tes serta perubahan tidur dan aktivitas fisik mungkin turut berperan.

Jadi, temuan studi ini bisa dibilang merupakan petunjuk awal untuk diteliti lebih lanjut.

2. Decaf tetap membawa senyawa kopi selain kafein

Kopi mengandung berbagai senyawa, termasuk polifenol. Dalam studi tersebut, konsumsi kopi decaf maupun berkafein diikuti perubahan pada beberapa mikroba dan metabolit dalam sampel tinja. Perubahan mikrobioma juga muncul setelah kopi diminum kembali, terlepas dari ada atau tidaknya kafein.

Temuan ini mendukung kemungkinan bahwa sebagian efek kopi tidak hanya berasal dari kafein. Namun, perubahan komposisi mikrobioma tidak otomatis berarti kesehatan usus membaik. Studi tersebut belum membuktikan bahwa perubahan mikroba menyebabkan peningkatan memori atau memberi manfaat klinis jangka panjang.

3. Kandungan kafeinnya lebih rendah, sehingga dapat membantu membatasi asupan

ilustrasi minum kopi (pexels.com/John Diez)

Keunggulan kopi decaf yang paling jelas adalah kandungan kafeinnya jauh lebih rendah daripada kopi biasa. Sebagai gambaran, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) menyebut kopi decaf umumnya masih mengandung sekitar 2–15 miligram kafein per cangkir 8 ons atau sekitar 240 mililiter. Jumlah yang sebenarnya bisa bervariasi menurut produk dan cara penyeduhan.

Karena itu, kopi decaf dapat menjadi pilihan bagi orang yang ingin mengurangi kafein, misalnya karena merasa gelisah atau sulit tidur setelah minum kopi. Namun, decaf bukan berarti sepenuhnya bebas kafein; orang yang harus menghindari kafein perlu memeriksa produknya atau berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

4. Mengurangi kafein mungkin membantu tidur pada sebagian orang

Metaanalisis pada 2025 menggabungkan 22 uji terkontrol dengan total 956 peserta. Secara rata-rata, konsumsi kafein berkaitan dengan waktu tidur yang lebih pendek, efisiensi tidur yang menurun, dan waktu lebih lama untuk mulai tertidur.

Temuan tersebut memang bukan membuktikan kopi decaf selalu memperbaiki tidur. Namun, karena mengandung kafein jauh lebih sedikit, beralih ke kopi decaf dapat membantu mengurangi paparan kafein, terutama bagi orang yang sensitif. Respons setiap orang tetap berbeda, dan kopi decaf sendiri tidak menjamin tidur menjadi lebih baik.

5. Kopi berkafein juga menunjukkan efek tertentu

Dalam studi terbaru, kelompok yang minum kopi berkafein menunjukkan penurunan skor kecemasan dan tekanan psikologis serta peningkatan pada salah satu tes perhatian. Kedua kelompok juga melaporkan perubahan pada sejumlah ukuran, seperti stres yang dirasakan dan impulsivitas.

Jadi, penelitian tersebut menggambarkan efek yang mungkin berbeda menurut jenis kopi dan ukuran yang diuji. Decaf menunjukkan sinyal pada tes memori dan tidur, sedangkan kopi berkafein menunjukkan perubahan pada perhatian dan beberapa ukuran suasana hati.

6. Pilih sesuai kebutuhan

ilustrasi menikmati secangkir kopi (pexels.com/RDNE Stock project)

Decaf dapat membantu seseorang mengurangi asupan kafein sambil tetap minum kopi. Keunggulan ini mungkin bermanfaat bagi orang yang sensitif terhadap kafein atau ingin menghindari efeknya pada tidur.

Sebaliknya, orang yang mengandalkan kafein untuk merasa lebih waspada mungkin merasakan efek yang berbeda.

Kesimpulan tentang manfaat memori masih perlu diuji. Studi terbaru ini memberi alasan untuk terus meneliti peran senyawa kopi selain kafein, tetapi belum membuktikan bahwa kopi decaf meningkatkan memori pada masyarakat luas.

Referensi

Serena Boscaini, Thomaz F. S. Bastiaanssen, Gerard M. Moloney, et al., “Habitual Coffee Intake Shapes the Gut Microbiome and Modifies Host Physiology and Cognition,” Nature Communications 17 (2026): 3439.

U.S. Food and Drug Administration, “Spilling the Beans: How Much Caffeine Is Too Much?,” diakses Oktober 2026.

Yu-Hsien Chang, Ying-Chih Cheng, and Wan-Ju Cheng, “Age- and Dose-Specific Effects of Caffeine on Sleep: A Meta-Analysis of Controlled Crossover Trials,” Sleep Medicine 136 (2025): 106874.

ScienceAlert, “Decaf Coffee Might Have a Surprising Advantage Over Caffeinated, Study Finds,” diakses Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article