Bagi seorang pria asal Polandia berusia 30-an, tato di lengan kanan awalnya hanyalah bentuk ekspresi diri. Namun, empat bulan setelah tato itu dibuat, tubuhnya mulai memberi sinyal aneh. Ruam merah gatal muncul di lengan dan dada, lalu menyebar makin luas hingga berkembang menjadi eritroderma, peradangan atau inflamasi kulit berat yang bisa mengancam nyawa.
Awalnya, kondisi ini disangka eksim. Dugaan itu bertahan sampai dokter melihat pola yang janggal: perubahan kulit mirip erupsi (eruption-like changes) muncul di area tato berwarna merah, terutama setelah pengobatan dihentikan. Di titik inilah, tato yang semula dianggap tak relevan mulai dicurigai sebagai pemicu utama.
Seiring waktu, dampaknya meluas. Rambut di seluruh tubuh rontok, kemampuan berkeringat menghilang, dan bercak vitiligo mulai muncul. Ini menandai gangguan serius pada sistem imun, bukan sekadar reaksi kulit biasa.
