Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Studi: Tembakau yang Dipanaskan Terkait Risiko Hipertensi Lebih Tinggi
ilustrasi tembakau yang dipanaskan/heated tobacco product (magnific.com/artursafronovvvv)
  • Studi pada hampir 31 ribu orang di Jepang menemukan risiko hipertensi baru lebih tinggi pada pengguna tembakau dipanaskan dibandingkan orang yang tidak pernah menggunakan tembakau.

  • Dalam analisis utama, kenaikan risiko relatifnya sekitar 23 persen. Namun, hasil analisis tambahan menunjukkan hubungan tersebut belum kuat.

  • Studi observasional ini menemukan kaitan, bukan bukti bahwa tembakau dipanaskan secara langsung menyebabkan hipertensi.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Produk tembakau yang dipanaskan atau heated tobacco bekerja dengan memanaskan tembakau agar penggunanya menghirup aerosol yang dihasilkan. Cara ini berbeda dari rokok konvensional yang membakar tembakau, tetapi produk tersebut tetap mengandung nikotin.

Sebuah studi di Jepang meneliti apakah penggunaan produk tembakau dipanaskan berkaitan dengan munculnya hipertensi baru. Hasilnya menunjukkan adanya kaitan. Berikut ini hal-hal penting yang perlu dipahami.

1. Peneliti mengikuti orang yang belum mengalami hipertensi

Studi yang diterbitkan dalam Hypertension Research pada 24 September 2026 ini menganalisis data 30.979 orang di Jepang. Para peserta belum mengalami hipertensi pada awal pengamatan. Data mereka berasal dari pemeriksaan kesehatan, catatan klaim, dan kuesioner pada tahun 2021–2025.

Peneliti membagi peserta berdasarkan riwayat penggunaan tembakau: tidak pernah menggunakan, pengguna tembakau dipanaskan, perokok, pengguna dua produk sekaligus, dan mantan pengguna. Hipertensi baru dicatat jika tekanan darah peserta terukur tinggi saat pemeriksaan lanjutan atau mereka mulai menggunakan obat antihipertensi.

2. Kasus hipertensi baru lebih banyak pada pengguna tembakau dipanaskan

Selama pengamatan, hipertensi baru ditemukan pada 8,2 persen pengguna tembakau dipanaskan dan 5,1 persen orang yang tidak pernah menggunakan tembakau.

Setelah peneliti menyesuaikan sejumlah perbedaan antarkelompok, risiko pada pengguna tembakau dipanaskan tercatat 1,23 kali dibandingkan kelompok yang tidak pernah menggunakan tembakau.

Artinya, dalam analisis utama, risiko relatifnya sekitar 23 persen lebih tinggi, menggambarkan perbandingan risiko antarkelompok dalam studi.

Peneliti juga menemukan risiko relatif yang lebih tinggi pada perokok, pengguna tembakau dipanaskan sekaligus rokok, serta mantan pengguna dibandingkan dengan kelompok yang tidak pernah menggunakan tembakau. Namun, temuan itu tidak serta-merta menunjukkan bahwa satu produk lebih aman daripada produk lain.

3. Nikotin dapat menaikkan tekanan darah, tetapi lonjakan sesaat berbeda dari hipertensi

ilustrasi berhenti merokok (IDN Times/NRF)

Tembakau yang dipanaskan menghasilkan aerosol berisi nikotin dan bahan kimia beracun. Nikotin dapat membuat pembuluh darah menyempit dan meningkatkan denyut jantung serta tekanan darah.

Namun, kenaikan tekanan darah sesaat setelah paparan nikotin tidak sama dengan diagnosis hipertensi. Studi ini menilai munculnya hipertensi baru selama masa pengamatan. Definisi yang digunakan peneliti mencakup tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih, atau penggunaan obat antihipertensi.

4. Hubungan yang ditemukan belum membuktikan produk ini sebagai penyebab

Studi ini bersifat observasional. Peneliti menganalisis data penggunaan tembakau dan kesehatan, tanpa menugaskan peserta untuk menggunakan produk tertentu. Karena itu, hasilnya menunjukkan asosiasi, bukan sebab akibat. Faktor lain yang belum sepenuhnya terukur juga dapat memengaruhi hasil.

Ada pula catatan penting dari analisis tambahan. Ketika lama tindak lanjut ikut diperhitungkan, perkiraan risiko pada pengguna tembakau dipanaskan melemah dan tidak lagi signifikan secara statistik: RR 1,21 dengan interval kepercayaan 95 persen 0,99–1,47. Dengan kata lain, hasil tambahan ini masih memungkinkan tidak adanya perbedaan risiko yang jelas.

Temuan tersebut sejalan dengan studi kohort Jepang pada 30.152 pekerja yang diterbitkan pada 2024. Studi itu juga menemukan risiko hipertensi lebih tinggi pada pengguna tembakau dipanaskan dibandingkan orang yang tidak pernah merokok.

5. Produk tembakau yang dipanaskan tidak bebas risiko

Studi baru ini menambah bukti tentang hubungan produk tembakau dipanaskan dengan kesehatan jantung dan pembuluh darah. Namun, temuan tersebut belum menjawab seluruh pertanyaan tentang risiko jangka panjang.

Menurut WHO, bentuk penggunaan tembakau berbahaya dan produk tembakau dipanaskan tetap menghasilkan aerosol yang mengandung nikotin serta bahan kimia beracun. Bagi orang yang ingin berhenti menggunakan tembakau atau nikotin, tenaga kesehatan dapat membantu membicarakan pilihan dukungan yang sesuai.

Referensi

Koichiro Matsumura, Takahiro Tabuchi, Hironori Imano, Shohei Hakozaki, Masafumi Ueno, Hidekazu Tanaka, and Gaku Nakazawa, “Association between Current Heated Tobacco Product Use and Incident Hypertension: A Nationwide Real-World Cohort Study,” Hypertension Research, published online September 24, 2026, https://doi.org/10.1038/s41440-026-02817-z.

American Heart Association, “Life’s Essential 8: How to Quit Tobacco and Nicotine Products Fact Sheet,” diakses 30 September 2026.

Huan Hu, Tohru Nakagawa, Toru Honda, Shuichiro Yamamoto, and Tetsuya Mizoue, “Association of Conventional Cigarette Smoking, Heated Tobacco Product Use and Dual Use with Hypertension,” International Journal of Epidemiology 53, no. 5 (2024): dyae114, https://doi.org/10.1093/ije/dyae114.

World Health Organization, “Tobacco and Nicotine,” diakses 30 September 2026.

American Heart Association, “Life’s Essential 8: How to Quit Tobacco and Nicotine Products Fact Sheet,” diakses 30 September 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article