Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Vaksin Polio Lengkap Mampu Cegah Kelumpuhan dan Kematian

ilustrasi vaksin polio tetes (flickr.com/USAID U.S. Agency for International Development)
ilustrasi vaksin polio tetes (flickr.com/USAID U.S. Agency for International Development)

Pada tahun 2014, Indonesia sempat menjadi 1 dari 11 negara di Asia Tenggara yang berhasil menerima sertifikat bebas polio dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun, pada November 2022, kasus polio terdeteksi di Provinsi Aceh dan pada Maret 2023 terdeteksi di Provinsi Jawa Barat.

Tentu ini bukan kabar yang menggembirakan. Oleh karena itu, Carl Byoir bersama Sanofi mengadakan “Group Media Interview: Menghadapi Tantangan Baru Indonesia dalam Mempertahankan Status Bebas Polio” pada Kamis (30/11/2023) via Zoom.

Narasumber yang dihadirkan ialah Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, SpA(K), Ketua Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Simak, yuk!

1. Virus polio menyerang sistem saraf dan bisa menyebabkan kelumpuhan

Polio atau poliomyelitis adalah penyakit menular yang disebabkan oleh virus polio. Ada tiga varian virus polio, yaitu virus polio liar tipe 1, 2, dan 3 (WPV1, WPV2, dan WPV3). Yang paling rentan terkena polio adalah anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Virus polio menyerang sistem saraf dan menyebabkan kelumpuhan dalam hitungan jam. Menurut Prof. Hartono, 1 dari 200 infeksi polio menyebabkan kelumpuhan permanen pada anggota gerak. Dari seluruh penderita polio yang lumpuh, 5–10 persen akan meninggal karena otot saluran pernapasannya mengalami kelumpuhan.

2. Ditularkan melalui rute fekal-oral

ilustrasi mencuci tangan dengan air dan sabun (pixabay.com/ivabalk)
ilustrasi mencuci tangan dengan air dan sabun (pixabay.com/ivabalk)

Polio ditularkan melalui rute fekal-oral. Ini adalah jalur penularan penyakit di mana patogen dalam partikel tinja berpindah dari satu orang ke mulut orang lain.

“Kotoran (yang terinfeksi virus polio) mengontaminasi air, (lalu) air (yang tercemar) mengontaminasi makanan atau minuman kita. Bisa terkena (polio) apalagi kalau makanan dan minuman tidak dimasak dengan baik,” ungkap Prof. Hartono.

Selain itu, polio lebih mungkin terjadi di daerah yang sanitasinya buruk dan kekurangan akses ke air bersih. Padahal, salah satu cara untuk mencegah polio adalah rutin mencuci tangan dengan sabun dan air.

3. Ada dua jenis vaksin polio, yaitu OPV dan IPV

Saat ini, ada dua jenis vaksin polio, yaitu oral poliovirus vaccine (OPV) yang diteteskan ke mulut dan inactivated poliovirus vaccine (IPV) yang disuntikkan. Mari kita bahas keduanya!

OPV lebih umum digunakan untuk mengeradikasi polio sebab lebih murah dan tidak memerlukan tenaga kesehatan profesional (karena hanya diteteskan ke mulut). OPV aman, efektif, dan menawarkan perlindungan jangka panjang terhadap polio.

Salah satu jenis OPV adalah bivalent oral polio vaccine (bOPV) yang mampu melindungi dari virus polio tipe 1 dan 3. Pada hakikatnya, OPV mengandung virus polio yang dilemahkan, yang akan bereplikasi di usus dan merangsang pembentukan antibodi.

Sementara itu, IPV mengandung ketiga jenis virus polio yang dinonaktifkan (dimatikan) dan diberikan dengan cara disuntikkan. Berbeda dengan OPV yang mengandung virus hidup, IPV tidak memiliki risiko poliomielitis paralitik terkait vaksin (VAPP), sehingga banyak digunakan di negara-negara maju.

IPV bekerja dengan mencegah penyebaran virus ke sistem saraf pusat dan melindungi dari kelumpuhan. Namun, IPV menghasilkan tingkat kekebalan yang sangat rendah di usus.

Akibatnya, jika seseorang yang mendapatkan IPV terinfeksi virus polio liar, virus tersebut masih bisa berkembang biak di dalam usus dan keluar melalui tinja. Dengan kata lain, virus tersebut masih bisa menyebar dan bersirkulasi.

4. Kementerian Kesehatan merekomendasikan 4 dosis OPV dan 2 dosis IPV

ilustrasi vaksin (pexels.com/Jorge López)
ilustrasi vaksin (pexels.com/Jorge López)

Prof. Hartono mengungkapkan bahwa kasus polio terakhir di negara ini ditemukan pada Februari 2006 dan pada tahun 2014 Indonesia dinyatakan bebas polio. Akan tetapi, kasus polio terdeteksi di Aceh pada November 2022 dan di Purwakarta, Jawa Barat, pada Maret 2023.

Totalnya ada 11 kasus polio (empat kasus di Aceh dan tujuh kasus di Jawa Barat). Selain itu, terdapat dua kasus kelumpuhan akibat polio, masing-masing satu di Aceh dan Jawa Barat.

Oleh karena itu, Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan empat dosis OPV dan dua dosis IPV. OPV dosis pertama diberikan pada usia 1 bulan, dosis kedua pada usia 2 bulan, dosis ketiga pada usia 3 bulan, dan dosis keempat pada usia 4 bulan.

Untuk IPV, dosis pertama diberikan pada usia 4 bulan dan dosis kedua pada usia 9 bulan. Vaksin IPV mungkin akan menimbulkan kejadian ikutan pasca imunisasi (KIPI). Untungnya, KIPI tersebut sifatnya ringan dan sementara, seperti nyeri di tempat suntikan (14–29 persen), bengkak (3–11 persen), dan kemerahan (0,5–1,5 persen).

Tingkat cakupan vaksin polio yang direkomendasikan WHO adalah 95 persen. Sayangnya, tingkat cakupan IPV dosis pertama secara nasional hanya 29,1 persen. Bahkan, cakupan IPV dosis pertama di Aceh hanya 7,3 persen dan 0,5 persen untuk IPV dosis kedua.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Nena Zakiah
Nuruliar F
Nena Zakiah
EditorNena Zakiah
Follow Us