Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Wamenkes: Kasus Demensia Bisa Capai 4 Juta pada 2050
Sambutan dari Wakil Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Prof. Dr. Dante Saksono Harbuwono (dok. ALZI)
  • Indonesia memasuki era aging population, dengan hampir 12 persen penduduk berada dalam kelompok lanjut usia berdasarkan survei penduduk antar sensus 2025.

  • Wamenkes memperingatkan jumlah orang dengan demensia di Indonesia bisa mencapai 3–4 juta pada 2050 tanpa pencegahan serius sejak sekarang.

  • Deteksi dini penting karena pikun bukan kondisi wajar; hingga 45 persen kasus demensia dapat ditunda atau dicegah lewat pengendalian faktor risiko gaya hidup.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah kamu membayangkan bangun di rumah sendiri, tetapi mendadak merasa asing dengan tata letak ruangan dan tak lagi mengenali wajah-wajah orang tercinta di sekitarmu? Sensasi kehilangan memori dan identitas ini menjadi gambaran nyata kepedihan psikologis para penderita demensia atau pikun berat.

Isu ini menjadi sorotan utama dalam acara peringatan World Alzheimer Month bertajuk "Bergerak Melawan Demensia: Investasi Otak Sehat Dari Sekarang!" yang digelar di Unika Atma Jaya, Jakarta, pada Rabu (30/9). Acara yang dihadiri oleh komunitas Alzheimer Indonesia (ALZI), family caregivers, orang dengan demensia (ODD), serta para praktisi kesehatan ini menegaskan pentingnya deteksi dini dan tindakan pencegahan sejak muda.

Wakil Menteri Kesehatan Prof. Dr. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D. menyampaikan pesan mendalam mengenai urgensi penanganan demensia di Tanah Air.

1. Indonesia resmi memasuki era aging population

Meningkatnya angka harapan hidup masyarakat Indonesia merupakan capaian pembangunan yang patut disyukuri. Namun, di sisi lain, peningkatan ini membawa tantangan demografi baru yang cukup besar bagi sektor kesehatan nasional.

Berdasarkan data terbaru, Indonesia kini telah resmi memasuki era aging population. Wamenkes Dante mengungkapkan bahwa porsi penduduk lanjut usia di Indonesia terus melonjak.

"Berdasarkan survei penduduk antar sensus 2025, Indonesia mengalami dan memasuki era aging population, di mana hampir 12 persen dari seluruh total penduduk Indonesia itu masuk dalam kelompok usia lanjut. Meningkatnya umur harapan hidup merupakan capaian pembangunan yang patut kita syukuri. Namun, tugas kita tidak sekadar memperpanjang usia, melainkan memastikan masa tua tetap sehat, mandiri, dan berdaya," ujarnya.

2. Proyeksi kasus demensia di Indonesia bisa melonjak hingga 4 juta jiwa

ilustrasi orang tua (pexels.com/DeeDee Geli)

Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan terdapat sekitar 50 juta orang yang hidup dengan demensia, dengan 10 juta kasus baru yang muncul setiap tahunnya. Penyakit Alzheimer sendiri menjadi bentuk demensia yang paling umum, menyumbang sekitar 60 hingga 70 persen dari total kasus.

Jika tidak ada langkah pencegahan yang serius dari sekarang, jumlah penderita demensia di Indonesia diprediksi akan mengalami lonjakan drastis dalam beberapa dekade mendatang seiring bertambahnya populasi lansia.

"Di sinilah tantangan terbesar muncul, yaitu demensia. Orang dengan demensia bisa mencapai 3 sampai 4 juta tahun 2050 kalau kita tidak berhati-hati mulai dari sekarang," Wamenkes Dante mengingatkan.

3. Banyak kasus demensia yang belum terdiagnosis tepat waktu

Salah satu hambatan terbesar dalam penanganan demensia adalah minimnya kesadaran untuk melakukan deteksi dini. Secara global, diperkirakan 75 persen orang yang hidup dengan demensia belum pernah terdiagnosis secara medis. Angka keterlambatan diagnosis ini bahkan bisa melonjak hingga 90 persen di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Banyak masyarakat yang masih menganggap wajar, atau bahkan dijadikan bahan candaan, jika orang tua menjadi pikun, lupa jalan pulang, atau mengalami perubahan perilaku dramatis. Padahal, memaklumi gejala pikun justru membuat penanganan medis terlambat. Mitos inilah yang ingin dihapus melalui kampanye berkelanjutan dari ALZI.

"Ini yang sering kita lupa. Mitos lama yang menganggap pikun adalah hal wajar sudah dihapus oleh ALZI. Yang ada adalah 'jangan maklum dengan pikun," tegas Wamenkes Dante.

4. Sebanyak 45 persen kasus demensia sebenarnya bisa dicegah

ilustrasi orang tua dan cucu (pexels.com/Alex Green)

Meski ancaman demensia membayangi masa depan demografi Indonesia, tetapi ada kabar baik. Berbagai penelitian membuktikan bahwa hingga 45 persen kasus demensia sebenarnya dapat ditunda atau dicegah dengan mengendalikan faktor risiko gaya hidup, terutama kurangnya aktivitas fisik.

Mengubah pola hidup sejak usia muda menjadi kunci utama untuk menjaga kesehatan jaringan otak hingga tua nanti. Kita tidak perlu menunggu sampai gejala kepikunan muncul untuk mulai merawat ingatan.

"Pertanyaan terpenting adalah bukanlah bagaimana kita bertahan pada memori itu ketika sudah hilang, tetapi adalah mengapa kita harus menunggu dan tidak mencegahnya dari sekarang? Itu yang paling penting. Pencegahan dini adalah kasih sayang terbaik, dan menjaga kesehatan adalah investasi yang harus kita cicil hari ini melalui aktivitas fisik, menjaga pola makan, mengendalikan tekanan darah, gula darah, dan terus mengasah kemampuan kognitif kita sehari-hari," pungkas Wamenkes Dante.

Memastikan masa tua yang tetap sehat, mandiri, dan berkualitas adalah tanggung jawab kita bersama sejak hari ini. Dengan rutin berolahraga, menjaga pola makan, serta aktif melatih fungsi kognitif otak, kamu sedang menabung investasi terbaik agar tetap berdaya dan terhindar dari risiko demensia di masa depan.

Curated For You

Editorial Team

Related Article