Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
World Mental Health Day 2026: Tema, Sejarah, dan Angka
ilustrasi World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Mental Sedunia (magnific.com/pikisuperstar)
  • World Mental Health Day diperingati setiap 10 Oktober sejak 1992. Tema 2026 menekankan pelibatan bermakna orang dengan pengalaman kesehatan mental dalam kebijakan, layanan, program, dan evaluasi.

  • WHO mencatat sekitar 1,2 miliar orang hidup dengan gangguan mental pada 2023, sementara akses perawatan masih terbatas; sekitar sepertiga penderita depresi dan 40 persen penderita psikosis menerima layanan formal.

  • Di Indonesia, 5,5 persen remaja memenuhi kriteria setidaknya satu gangguan mental, tetapi hanya 2,6 persen yang mengakses dukungan atau konseling; Healing119.id menyediakan dukungan awal dan rujukan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kesehatan mental ikut memengaruhi cara seseorang belajar, bekerja, menjalani aktivitas sehari-hari, dan terhubung dengan orang lain.

Tidak setiap masa sulit atau rasa cemas berarti seseorang mengalami gangguan mental. Diagnosisnya butuh penilaian yang mempertimbangkan gejala, dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari, dan kondisi orang tersebut.

Setiap 10 Oktober, World Mental Health Day atau Hari Kesehatan Mental Sedunia menjadi salah satu kesempatan untuk menjadi lebih lantang mengenai kesehatan mental. Peringatan tahun ini menyoroti pengalaman orang yang pernah hidup dengan kondisi kesehatan mental, serta pentingnya melibatkan mereka dalam keputusan yang memengaruhi layanan serta kehidupan mereka.

1. Peringatan ini dimulai pada 1992

World Mental Health Day pertama kali diperingati pada 10 Oktober 1992 sebagai kegiatan tahunan World Federation for Mental Health (WFMH). Awalnya, peringatan ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan mendorong edukasi publik. Tema khusus baru digunakan pada 1994.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga memperingati hari ini setiap tahun. Tujuannya antara lain memberi ruang bagi berbagai pihak untuk membicarakan isu kesehatan mental dan upaya memperluas akses terhadap layanan.

2. Tema 2026 mengajak publik melibatkan orang dengan pengalaman langsung

Tema World Mental Health Day 2026 adalah “Lived experiences heard: real voices, real change”, yang dapat diterjemahkan sebagai “Pengalaman hidup didengar: suara nyata, perubahan nyata.” Kampanye WHO mendorong agar orang yang pernah mengalami kondisi kesehatan mental ikut membentuk kebijakan, layanan, dan keputusan yang memengaruhi hidup mereka.

Melibatkan mereka bukan cuma meminta mereka menceritakan pengalaman pribadi. WHO mendorong keterlibatan yang lebih bermakna, misalnya dengan mengikutsertakan mereka dalam perencanaan, perancangan layanan, pelaksanaan program, hingga evaluasi. Pengalaman langsung dapat membantu menunjukkan hambatan yang luput dari perhatian pembuat kebijakan atau penyedia layanan.

Tema ini juga berkaitan dengan perubahan menuju layanan berbasis komunitas. Dalam survei WHO Mental Health Atlas 2024, hanya 9 persen negara yang melaporkan telah sepenuhnya beralih dari perawatan berbasis institusi ke model berbasis komunitas. Sebanyak 53 persen masih berada pada tahap awal perubahan.

3. Sekitar 1,2 miliar orang di dunia hidup dengan gangguan mental

ilustrasi kesehatan mental (unsplash.com/Emily Underworld)

Menurut lembar fakta WHO, hampir 1 dari 7 orang di dunia—sekitar 1,2 miliar orang—hidup dengan gangguan mental pada 2023. Gangguan kecemasan dan depresi merupakan dua kelompok yang paling umum.

WHO juga mencatat perkiraan jumlah orang yang mengalami beberapa kondisi berikut:

Gangguan kecemasan

470 juta

Depresi

322 juta

Gangguan bipolar

36 juta

Skizofrenia

27 juta

Gangguan makan

18 juta

Angka-angka tersebut merupakan perkiraan untuk kondisi yang berbeda, tidak untuk dijumlahkan.

Seseorang bisa mengalami lebih dari satu kondisi. Depresi, misalnya, lebih dari perubahan suasana hati yang berlangsung sebentar; gangguan ini ditandai gejala yang menetap dan dapat mengganggu fungsi sehari-hari.

WHO memperkirakan 727 ribu orang meninggal karena bunuh diri pada 2021. Bunuh diri merupakan persoalan kesehatan masyarakat yang kompleks; penyebabnya tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor saja. Gangguan mental, termasuk depresi, dapat meningkatkan risiko.

4. Banyak orang yang membutuhkan pertolongan belum mendapat layanan

Besarnya angka gangguan mental belum diikuti akses perawatan yang setara. Secara global hanya sekitar sepertiga orang dengan depresi yang menerima perawatan kesehatan mental formal. Pada orang dengan psikosis, angkanya sekitar 40 persen.

Kesenjangan ini membuat deteksi, layanan yang mudah dijangkau, dan dukungan sosial menjadi bagian penting dalam pembahasan kesehatan mental.

Mencari bantuan bukan berarti kegagalan seseorang mengatasi masalahnya. Tenaga kesehatan dapat membantu menilai kondisi dan pilihan pertolongan yang sesuai.

5. Gambaran masalah kesehatan mental di Indonesia

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, sekitar 1,4 persen penduduk berusia 15 tahun ke atas mengalami depresi. Angkanya sedikit lebih tinggi pada kelompok usia 15-24 tahun, yaitu 2 persen.

SKI juga melakukan skrining untuk melihat adanya masalah kesehatan jiwa. Hasilnya, sekitar 2 persen penduduk usia 15 tahun ke atas masuk kategori tersebut dalam satu bulan terakhir. Namun, hasil skrining bukanlah diagnosis gangguan mental, melainkan igunakan untuk mengidentifikasi siapa saja yang mungkin perlu pemeriksaan lebih lanjut oleh tenaga kesehatan.

6. Kesehatan mental remaja perlu perhatian

ilustrasi orang tua berbicara dari hati ke hati dengan anak remaja (pexels.com/Kindel Media)

Data Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa sekitar 34,9 persen remaja usia 10-17 tahun mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir. Namun, istilah "masalah kesehatan mental" dalam survei ini mencakup gejala yang belum tentu memenuhi kriteria diagnosis.

Dalam survei yang sama, sekitar 5,5 persen remaja memenuhi kriteria untuk setidaknya satu gangguan mental, atau sekitar 2,45 juta remaja. Gangguan kecemasan menjadi yang paling sering ditemukan (3,7 persen), diikuti depresi mayor (1 persen), gangguan perilaku (0,9 persen), serta PTSD dan ADHD (masing-masing 0,5 persen).

I-NAMHS juga menunjukkan bahwa hanya 2,6 persen remaja yang mengalami masalah kesehatan mental mengakses layanan dukungan atau konseling dalam 12 bulan terakhir.

Baik dari data dari I-NAMHS maupun SKI menunjukkan bahwa kesehatan mental remaja dan masyarakat Indonesia masih memerlukan perhatian serta dukungan yang memadai.

7. Angka tentang pikiran mengakhiri hidup perlu dibaca dengan cermat

Dalam hasil SKI 2023, 61 persen responden usia 15–24 tahun yang dikategorikan mengalami depresi melaporkan pernah memiliki pikiran untuk mengakhiri hidup dalam satu bulan terakhir. Pada kelompok usia yang sama yang tidak dikategorikan mengalami depresi, angkanya 1,7 persen. Ini adalah data tentang pikiran yang dilaporkan responden.

Temuan seperti ini menunjukkan pentingnya percakapan yang tidak menghakimi dan akses terhadap bantuan. Untuk dukungan awal ketika menghadapi tekanan psikologis atau krisis, Kementerian Kesehatan menyediakan Healing119.id. Layanan dapat diakses melalui panggilan 119 ekstensi 8 atau melalui healing119.id. Layanan ini menyediakan dukungan psikologis awal dan rujukan bila dibutuhkan.

Peringatan World Mental Health Day mengajak masyarakat melihat kesehatan mental sebagai bagian dari kesehatan secara utuh. Pesan penting pada peringatan tahun ini, orang yang mengalami langsung kondisi kesehatan mental perlu ikut menentukan bentuk dukungan dan layanan yang mereka butuhkan.

Referensi

World Federation for Mental Health, “About World Mental Health Day,” diakses 9 Oktober 2026.

World Health Organization, “World Mental Health Day 2026,” diakses 9 Oktober 2026.

World Health Organization, “Mental Disorders,” diakses 9 Oktober 2026.

World Health Organization, “Suicide,” diakses 9 Oktober 2026.

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Depresi pada Anak Muda di Indonesia,” diakses 9 Oktober 2026.

Holly E. Erskine et al., “Prevalence of Adolescent Mental Disorders in Kenya, Indonesia, and Viet Nam Measured by the National Adolescent Mental Health Surveys (NAMHS): A Multi-National Cross-Sectional Study,” The Lancet 403, no. 10437 (2024): 1671–80, https://doi.org/10.1016/S0140-6736(23)02641-7.

Center for Reproductive Health, University of Queensland, and Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health, Indonesia—National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) Report (Yogyakarta: Center for Reproductive Health, 2022), diakses 9 Oktober 2026.

Direktorat Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, “Cegah Bunuh Diri, Dukung Kesehatan Jiwa: Kenali Layanan Healing119.id,” diakses 9 Oktober 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article