7 Adaptasi Film yang Dibenci Penulis Aslinya, Kenapa Bisa?

Mengadaptasi buku menjadi film memang terdengar seperti ide yang menjanjikan. Cerita sudah kuat, karakter sudah terbentuk, dan basis penggemarnya pun sudah ada. Tapi sayangnya, tidak semua adaptasi berjalan mulus. Bahkan, beberapa penulis justru merasa kecewa atau bahkan membenci versi film dari karya mereka sendiri.
Alasannya pun beragam, mulai dari perubahan cerita yang terlalu jauh, karakter terasa berbeda, hingga pesan utama yang hilang begitu saja. Menariknya, beberapa film ini justru sukses besar di pasaran dan dicintai penonton. Lalu, kenapa penulisnya malah tidak suka? Berikut tujuh adaptasi film yang dibenci oleh penulis aslinya.
1. The Shining (1980)

Film horor klasik ini sering dianggap sebagai salah satu yang terbaik sepanjang masa. Disutradarai oleh Stanley Kubrick, The Shining berhasil menciptakan atmosfer mencekam yang ikonik. Banyak penonton menganggapnya sebagai mahakarya, terutama karena pendekatan visual dan akting yang kuat.
Namun, bagi Stephen King, film ini justru jauh dari harapan. Ia merasa cerita yang sangat personal baginya terutama soal kecanduan alkohol diubah menjadi sesuatu yang asing. King bahkan menyebut film ini menyebalkan karena kehilangan inti emosional dari novelnya. Perbedaan visi inilah yang membuatnya begitu tidak menyukai adaptasi tersebut.
2. The League of Extraordinary Gentlemen (2003)

Sebagai penulis komik legendaris, Alan Moore memang dikenal tidak suka dengan adaptasi film dari karyanya. Tapi untuk film ini, ketidaksukaannya terasa lebih kuat dari biasanya. Ia merasa esensi cerita benar-benar hilang dalam versi layar lebarnya.
Selain kualitas film yang dianggap buruk, masalah hukum terkait dugaan plagiarisme juga ikut memperburuk situasi. Moore bahkan terlibat secara tidak langsung dalam kontroversi tersebut. Tidak heran jika film ini menjadi salah satu adaptasi yang paling ia benci sepanjang kariernya.
3. Mary Poppins (1964)

Bagi banyak orang, Mary Poppins adalah film keluarga yang penuh keajaiban dan nostalgia. Versi Disney dengan sentuhan musikalnya terasa ringan dan menyenangkan. Film ini bahkan dianggap sebagai salah satu karya terbaik dari studio tersebut.
Sayangnya, penulis aslinya, P. L. Travers, justru tidak menyukainya. Ia merasa ceritanya dibuat terlalu manis dan kehilangan kedalaman karakter. Travers bahkan menangis saat premier karena kecewa dengan perubahan besar, termasuk elemen animasi dan musik yang menurutnya tidak sesuai dengan visinya.
4. Percy Jackson & the Olympians (2010–2013)

Seri buku Percy Jackson sebenarnya punya potensi besar untuk menjadi franchise film yang sukses. Ceritanya seru, karakternya kuat, dan dunia mitologinya menarik. Namun, adaptasi filmnya justru menuai banyak kritik, termasuk dari penulisnya sendiri, Rick Riordan.
Riordan secara terbuka menyatakan kekecewaannya terhadap film ini. Ia merasa naskahnya buruk dan tidak setia pada buku aslinya. Bahkan, saran-saran yang ia kirimkan ke tim produksi diabaikan begitu saja. Pengalaman ini membuatnya lebih terlibat langsung dalam versi serial yang dibuat kemudian.
5. The NeverEnding Story (1984)

Film ini menjadi salah satu film keluarga paling ikonik di era 80-an. Dengan dunia fantasi yang unik dan cerita yang emosional, The NeverEnding Story berhasil memikat banyak penonton. Kesuksesannya pun tidak diragukan, baik secara kritik maupun komersial.
Namun, penulis novelnya, Michael Ende, justru merasa kecewa berat. Ia menyebut film tersebut telah mengubah makna dan semangat dari buku aslinya. Bahkan, Ende menggambarkan film ini sebagai karya yang terlalu komersial dan kehilangan jiwa cerita yang sebenarnya.
6. Willy Wonka & the Chocolate Factory (1971)

Film ini dikenal sebagai salah satu film fantasi keluarga terbaik sepanjang masa. Karakter Willy Wonka menjadi ikonik dan terus dikenang hingga sekarang. Banyak penonton menganggap film ini sebagai adaptasi yang sukses dan menghibur.
Namun, Roald Dahl justru sangat tidak menyukainya. Ia merasa cerita terlalu banyak diubah, terutama fokus yang bergeser dari Charlie ke Wonka. Selain itu, unsur musikal juga membuatnya semakin kecewa. Dahl bahkan sampai menolak film ini karena tidak sesuai dengan visinya sebagai penulis.
7. I Know What You Did Last Summer (1997)

Banyak yang mengira film ini hanyalah film horor remaja biasa. Padahal, ceritanya diadaptasi dari novel thriller remaja yang cukup serius karya Lois Duncan. Sayangnya, versi filmnya justru diubah menjadi slasher yang lebih ringan dan komersial.
Bagi Duncan, perubahan ini sangat menyakitkan, terutama karena latar belakang pribadinya yang tragis. Ia merasa cerita yang seharusnya bermakna justru dijadikan hiburan murahan. Reaksi emosionalnya menunjukkan betapa pentingnya menjaga esensi cerita dalam sebuah adaptasi.
Perbedaan antara buku dan film memang sulit dihindari. Tapi ketika perubahan itu terlalu jauh, tidak heran jika penulis aslinya merasa kecewa atau bahkan marah. Adaptasi yang baik seharusnya tetap menghormati sumber aslinya, meskipun menghadirkan sentuhan baru. Nah, menurutmu mana yang perubahannya terlalu jauh dari cerita aslinya?
![[QUIZ] Jadi Siapa Kamu di Serial Daredevil: Born Again?](https://image.idntimes.com/post/20260404/upload_2d0ee94b67051fa18b3144baa8d28ded_15af9912-4837-42db-885c-72982d41e8a6.jpg)

















![[QUIZ] Jawab Kuis Ini, Kamu Tuh Pacar Siapa di F4?](https://image.idntimes.com/post/20260404/upload_ce940b3ae3fb8443ecb571fd90698aa8_ab627670-1fb0-42af-8e2b-9f36af6de37e.png)