Review Film Children of Heaven Indonesia, Nyeseknya Masih Sama

Jakarta, IDN Times - Gak pernah berekspektasi bahwa air mata saya akan keluar untuk beberapa saat ketika menyaksikan film Children of Heaven lebih dulu dalam rangkaian acara press screening yang berlangsung di studio MD Palace, Jakarta, Rabu (13/5/2026). Maklum, sebagai penonton milenial yang pernah menyaksikan versi orisinalnya saat kecil, awalnya saya merasa gak akan sesedih itu karena sudah tahu jalan ceritanya.
Namun ternyata, kisah pilu yang disuguhkan tetap berhasil bikin dada sesak. Terlebih lagi, film ini ternyata juga dibungkus dengan nuansa lokal era 80-an yang terasa autentik dan begitu dekat.
Di balik rasa nyesek tersebut, menariknya ada juga perasaan patah hati yang muncul sebagai penonton yang kini telah bertumbuh dewasa. Perspektif tersebut pun membuat cerita Children of Heaven versi Indonesia terasa berbeda. Selengkapnya, berikut review film Children of Heaven.
Sinopsis Film Children of Heaven (2026)
Diadaptasi dari film Iran legendaris tahun 1997, Children of Heaven versi Indonesia karya sutradara Hanung Bramantyo membawa kisah haru tentang perjuangan dua kakak beradik bernama Ali dan Zahra. Lahir dari keluarga yang hidup dalam keterbatasan, keduanya harus bergantian memakai sepasang sepatu milik Ali agar tetap bisa bersekolah usai sepatu milik Zahra hilang.
Demi menutupi kejadian tersebut dari orangtua mereka yang sedang kesulitan ekonomi, Ali dan Zahra menjalani hari-hari penuh perjuangan. Zahra memakai sepatu tersebut untuk sekolah di pagi hari, lalu Ali harus berlari mengejar waktu agar bisa memakainya saat masuk sekolah siang.
| Producer | Manoj Punjabi |
| Writer | Hanan Novianti dan Oka Aurora |
| Age Rating | SU (All ages) |
| Genre | Drama, keluarga |
| Duration | 97 menit Minutes |
| Release Date | 27-05-2026 |
| Theme | Pengorbanan dan kejujuran |
| Production House | MD Pictures |
| Where to Watch | XXI, CGV, Cinepolis |
| Cast | Jared Ali, Humaira Jahra, Andri Mashadi, Faradina Mufti |
Trailer Film Children of Heaven (2026)
Cuplikan film Children of Heaven (2026)
1. Potret kehidupan keluarga dan anak-anak yang dewasa sebelum waktunya
Menurut saya, film Children of Heaven versi Indonesia langsung terasa emosional sejak babak awal. Berlatar di Semarang tahun 1988, film ini memperlihatkan kehidupan keluarga kecil dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas. Dari awal cerita, penonton diajak untuk melihat bagaimana seorang anak memilih untuk memendam masalahnya sendiri karena gak ingin menambah beban orangtua.
Di situlah rasa nyesek dari hati saya muncul. Sebagai penonton dewasa, rasanya ironis melihat anak kecil harus belajar memahami keadaan keluarga sebelum benar-benar menikmati masa kecilnya. Film ini juga menggambarkan pola pengasuhan era dulu yang keras dan minim komunikasi. Alhasil, ada perasaan patah hati juga yang muncul di benak saya. Kendati demikian, film ini tidak benar-benar menjadikan orangtua sebagai tokoh jahat. Kondisi ekonomi yang berat membuat semua anggota keluarga sama-sama tertekan dan akhirnya saling memendam perasaan.
Hubungan di antara kakak dan adik di film ini pun menjadi pusat emosinya. Perasaan saling menjaga di tengah keterbatasan membuat hati saya terasa hangat dan sangat tersentuh.
2. Nuansa era 80-an yang autentik dan penuh nostalgia
Salah satu kekuatan terbesar film ini ada pada detail era 80-an yang terasa hidup. Mulai dari suasana sekolah, ruang kelas dengan papan tulis kapur, seragam khas tempo dulu, hingga lingkungan kampung yang sederhana sukses membangkitkan nostalgia. Semua detail kecil tersebut digambarkan secara natural dan gak terasa dibuat berlebihan.
Selain itu, detail visual film ini, seperti spanduk jalanan, lingkungan kampung, sampai properti rumah terasa digarap dengan serius sehingga atmosfer tahun 80-an benar-benar terasa autentik. Jadinya, bukan sekadar menampilkan latar masa lalu, film ini juga menghidupkan memori kolektif tentang kehidupan sederhana di masa tersebut.
Akting para pemain film ini juga menjadi salah satu nilai plus. Berperan sebagai Ali dan Zahra, Jared Ali dan Humaira Jahra membawakan emosi karakter mereka dengan natural. Interaksi keduanya terasa hangat dan tulus sehingga penonton bisa ikut merasakan hubungan kakak-adik yang menjadi pusat cerita film ini.
Di sisi lain, dialog penuh pantun oleh Muhadkly Acho juga memberi warna tersendiri, lho. Komedi yang muncul memang tipis-tipis, tetapi menurut saya cukup efektif menjadi penyeimbang di tengah cerita yang berat. Kolaborasi Dodit Mulyanto dan Acho bahkan jadi salah satu momen paling menghibur karena berhasil membuat satu studio tertawa saat itu.
3. Adegan lomba maraton jadi puncak emosi film
Adegan lomba lari maraton pun menjadi klimaks paling emosional di film ini. Seperti yang telah ditampilkan di trailer, Ali rela berjuang mati-matian demi bisa mendapatkan juara tiga karena hadiah sepatu yang ingin diberikan kepada Zahra. Namun ternyata, selain ambisi Ali, ada banyak sekali adegan emosional yang terselip di sini, terutama terkait peran dan kehadiran orangtua, yang membuat saya merasa nyesek hingga menitikkan air mata.
Terlepas dari hal tersebut, adegan lomba lari maraton ini juga ditangkap dengan visual yang megah. Shot kerumunan anak-anak yang begitu ramai terlihat detail dan rapi, sementara sinematografi saat Ali berlari terasa indah sekaligus emosional. Bahkan, visual alam yang ditampilkan membuat momen perlombaan terasa semakin dramatis tanpa kehilangan sisi hangatnya.
Namun, entah kenapa, saya merasa ending film Children of Heaven ini terasa agak terburu-buru karena tidak ada adegan yang benar-benar memperlihatkan bagaimana perjuangan Ali akhirnya tersampaikan kepada orang-orang di sekitarnya. Kendati demikian, film ini sangat layak untuk disaksikan sebagai tontonan yang hangat, namun juga penuh makna tentang keluarga, pengorbanan, serta kasih sayang yang tulus antara kakak dan adik.
Film ini juga diiringi original soundtrack berjudul “Mimpi Jadi Nyata” yang dibawakan oleh Restu Van Houten. Lagu tersebut pun semakin memperkuat nuansa emosional dalam film ini.
















