Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Alasan Hiruzen Sarutobi Sering Dituduh Korup oleh Fans

5 Alasan Hiruzen Sarutobi Sering Dituduh Korup oleh Fans
Hiruzen Sarutobi (dok. Pierrot/Naruto)
  • Naruto dibiarkan hidup sendiri, termasuk harus mengurus kebutuhan sehari-hari tanpa pendampingan orang dewasa.

  • Identitas dan warisan Naruto dirahasiakan sehingga muncul teori penggemar bahwa aset peninggalan Minato disalahgunakan.

  • Hiruzen dianggap gagal melindungi Naruto dari diskriminasi meski memiliki wewenang untuk memberikan perlindungan dan pengasuhan yang lebih baik.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bagi penggemar setia serial anime Naruto, sosok Hiruzen Sarutobi atau Hokage Ketiga selama ini dikenal sebagai pemimpin Desa Konoha yang bijaksana dan penuh kasih sayang. Karakter kakek tua ini kerap ditampilkan sebagai figur pengayom yang rela mengorbankan segalanya demi menjaga perdamaian seluruh penduduk desa. Namun, jika dicermati kembali dari sudut pandang penonton dewasa, cara Hiruzen memperlakukan Naruto Uzumaki saat masih anak-anak justru memicu banyak tanda tanya besar.

​Sebelum mengembuskan napas terakhir, pasangan pahlawan Minato Namikaze dan Kushina Uzumaki secara khusus telah menitipkan putra tunggal mereka kepada sang pemimpin desa. Harapan besar dititipkan agar anak semata wayang mereka dapat tumbuh dalam lingkungan yang aman, layak, dan dirawat dengan penuh rasa tanggung jawab. Akan tetapi, diskusi di berbagai platform media sosial menyebutkan bahwa Naruto kecil justru dibiarkan hidup sebatang kara di tengah diskriminasi warga, kesepian mendalam, dan pola makan yang jauh dari kata sehat.

  1. 1. Membiarkan Naruto hidup sendiri dan makan mi instan

    kamar berantakan
    kamar berantakan (dok. Pierrot/Naruto)

    Salah satu alasan utama mengapa penggemar menyebut Hiruzen kurang bertanggung jawab ialah kondisi finansial dan pola makan buruk yang Naruto kecil alami. Sang calon pahlawan desa terpaksa tinggal sendirian di sebuah apartemen sewaan yang sempit sejak usia yang masih sangat belia. Ketiadaan figur orang dewasa yang mendampingi atau merawat kesehariannya membuat pertumbuhan fisik dan emosional Naruto menjadi sangat rentan. Ketiadaan figur orang dewasa di tempat tinggalnya membuat Naruto tidak pernah merasakan hangatnya masakan rumahan layaknya keluarga pada umumnya.

    Pada usianya yang masih sangat belia, ia tentu belum memiliki keterampilan untuk mengolah bahan mentah menjadi makanan yang sehat dan bergizi seimbang. Kondisi tersebut memaksa Naruto hanya mengandalkan mi instan cepat saji sebagai menu makanan utama sehari-hari demi mengganjal rasa lapar. Tentu saja sebenarnya itu tak cukup.

  2. 2. Menutupi identitas Minato yang memicu teori korup

    Minato dan Kushina memberikan pesan terakhir sebelum menyegel Kurama pada Naruto.
    Minato dan Kushina memberikan pesan terakhir sebelum menyegel Kurama pada Naruto. (dok. Pierrot/Naruto)

    Banyak penggemar mempertanyakan ke mana perginya harta warisan dan peninggalan orangtua Naruto yang notabene seorang Hokage Keempat dan keturunan bangsawan klan Uzumaki. Hiruzen beralasan bahwa status Minato Namikaze sebagai ayah kandung Naruto sengaja dirahasiakan demi menjaga keselamatan sang anak dari incaran musuh-musuh luar desa. Alasan perlindungan politik ini diambil agar anak semata wayang sang pahlawan tersebut tidak menjadi sasaran balas dendam ninja dari negara rival.

    ​Namun, keputusan ekstrem untuk menyembunyikan identitas tersebut justru melahirkan berbagai teori satire yang sangat populer di kalangan komunitas penggemar. Banyak penonton berseloroh bahwa sang Hokage Ketiga telah menyalahgunakan atau "mengorupsi" aset peninggalan berharga milik mendiang Minato. Narasi humor ini terus bergulir liar karena Naruto kecil terbukti tidak pernah menikmati fasilitas hidup mewah yang seharusnya menjadi hak warisnya.

  3. 3. Membiarkan warga desa mengisolasi dan membenci Naruto

    Naruto diasingkan.
    Naruto diasingkan. (dok. Pierrot/Naruto)

    Alih-alih memberikan perlindungan sosial yang optimal, kebijakan Hiruzen yang melarang warga membicarakan sosok Kurama di dalam tubuh Naruto justru menjadi bumerang besar. Penduduk desa memang mematuhi aturan tersebut dengan tidak menyebut nama siluman rubah secara terang-terangan di ruang publik. Namun, masyarakat Konoha mengalihkan ketakutan dan dendam masa lalu mereka dengan cara mengucilkan, menjauhi, dan memperlakukan Naruto dengan tatapan dingin yang merendahkan.

    ​Sebagai pemimpin tertinggi dengan otoritas absolut di desa, Hiruzen sebenarnya memiliki wewenang penuh untuk meluruskan persepsi warga maupun menugaskan pengawas khusus untuk merawat Naruto. Sayangnya, sang Hokage Ketiga terkesan bersikap pasif dan membiarkan dinamika diskriminasi sosial tersebut terus berlangsung selama bertahun-tahun. Keputusan pembiaran ini berujung fatal karena membuat fase awal pertumbuhan sang tokoh utama dipenuhi oleh trauma psikologis dan rasa kesepian batin yang mendalam.

  4. 4. Janji kepada Kushina dan Minato yang dianggap gagal dipenuhi

    Naruto kecil kesepian.
    Naruto kecil kesepian. (dok. Pierrot/Naruto)

    Sesaat sebelum mengembuskan napas terakhir akibat serangan dahsyat Kurama, Kushina dan Minato secara emosional memohon kepada Hiruzen untuk menjaga anak mereka. Permintaan terakhir tersebut disampaikan dengan linangan air mata di tengah kondisi tubuh keduanya yang sudah terluka parah demi melindungi desa. Momen penuh haru ini menjadi salah satu adegan paling ikonik sekaligus paling tragis dalam sejarah panjang Desa Konoha.

    ​Meski Hiruzen berhasil memastikan keselamatan fisik Naruto dari ancaman pembunuhan maupun penculikan ninja desa rival, metode pengasuhan yang diterapkannya dinilai jauh dari harapan mendiang orangtua Naruto. Sang pemimpin desa terbukti mengabaikan kebutuhan dasar sang anak, mulai dari nutrisi harian yang layak hingga pendampingan figur pelindung yang penuh kasih sayang. Ketiadaan kehangatan keluarga asuh membuat janji suci yang diucapkan di depan Minato dan Kushina tersebut terasa tidak dipenuhi secara maksimal.

  5. 5. Alasan strategis politik di balik tindakan Hokage Ketiga

    Hiruzen Sarutobi saat menjadi hokage
    Hiruzen Sarutobi saat menjadi hokage (dok. Pierrot/Naruto)

    Jika dilihat dari kacamata kepemimpinan politik dan stabilitas militer dunia shinobi, tindakan Hiruzen sebenarnya memiliki motif rasional tersendiri. Sebagai wadah bagi siluman rubah berekor sembilan atau jinchūriki, keberadaan Naruto merupakan aset pertahanan strategis tingkat tinggi bagi Desa Konoha. Status vital tersebut sangat rawan memicu agresi militer maupun perang terbuka dari desa ninja rival jika identitas dan kekuatan Naruto terlalu diekspos ke publik secara mencolok.

    ​Dengan membiarkan Naruto tumbuh layaknya anak yatim piatu biasa yang hidup sederhana di pinggiran desa, musuh luar tidak akan mudah menyadari bahwa ia adalah pewaris tunggal sang Yellow Flash. Langkah penyamaran ini berhasil mengaburkan fokus intelijen musuh yang menaruh dendam kesumat pada sosok Minato Namikaze. Kendati terlihat sangat dingin dan mengabaikan kesejahteraan mental sang anak, keputusan pahit ini diambil Hiruzen demi menjaga neraca perdamaian serta keutuhan desa dalam jangka panjang.

    Terlepas dari deretan kritik tajam serta lelucon mengenai "kakek korup", Hiruzen Sarutobi tetaplah figur berpengaruh yang secara tidak langsung membentuk ketangguhan mental pantang menyerah dalam diri Naruto Uzumaki. Keputusan politik yang kontroversial tersebut berhasil menjaga keselamatan fisik Naruto dari intaian musuh luar meski harus mengorbankan kebahagiaan masa kecilnya. Menurut sudut pandangmu sendiri, apakah langkah ekstrem sang Hokage Ketiga dalam membesarkan Naruto merupakan strategi politik yang tepat atau murni bentuk pengabaian seorang pemimpin?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team
Yudha ‎
EditorYudha ‎

Related Articles

See More