Hasut (dok. Tuta Films/Hasut)
Bagi Ilya Sigma, konsep suara-suara gaib dalam Hasut bukan sekadar cara untuk menghadirkan ketakutan. Sutradara dan penulis naskah yang akrab dipanggil Anggi itu ingin mengangkat fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
"Kayaknya sekarang ini ya, di kondisi sekarang ini kita tuh sering banget enggak sih denger suara-suara karena informasi 'kan begitu cepat hadir, berita cepat naik, apa pun datangnya serba cepat. Sehingga kadang-kadang kita sulit banget ngebedain apakah itu suara kita sendiri atau suara orang lain, atau suara yang diwariskan oleh orang-orang sehingga kita believe gitu," jelasnya saat ditemui di XXI Senayan City, Jakarta Selatan, Kamis (10/9/2026).
Menurut Anggi, kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan tentang kebiasaan manusia dalam menerima informasi. Tidak sedikit orang yang langsung percaya terhadap sesuatu tanpa terlebih dahulu memastikan kebenarannya. Ia juga membawa persoalan tersebut ke situasi ketika seseorang atau kelompok mencoba memengaruhi orang lain untuk membenci pihak tertentu hanya karena memiliki perbedaan.
"Ketika ada kelompok yang dominan dan satu orang yang mungkin mereka enggak suka gitu, dan mereka menghasut supaya orang lain tuh enggak suka sama orang itu karena berbeda. Berbeda karena secara fisiknya, dan akhirnya pilihannya adalah di kita sendiri. Apakah kita mau tabayyun gitu. Maksudnya kita mau bener-bener ngecek dulu kebenarannya. Apakah kita mau jadi orang yang mudah terhasut, mau jadi ikut menghasut, atau mungkin jadi mendiamkan ketika hal-hal ini terjadi dalam kehidupan," lanjutnya.
Dari sanalah Hasut kemudian terasa semakin relevan dengan situasi sekarang. Teror dalam film tidak hanya berasal dari sesuatu yang tidak kasatmata, tetapi juga dari bagaimana manusia merespons suara dan informasi yang mereka terima.
"Jadi saya sih ngerasa bahwa ini saat yang tepat juga Hasut ini hadir. Karena di kondisi sekarang ini sangat mudah sekali kita tersulut gitu ya," tegasnya.