Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Sajikan Teror Psikologis di Hutan, Sutradara Hasut: yang Horor Manusia

Sajikan Teror Psikologis di Hutan, Sutradara Hasut: yang Horor Manusia
Ilya Sigma dan cast film "Hasut" di XXI Senayan City, Jakarta, Kamis (10/9/26) (dok. IDN Times/Shandy Pradana)
  • Tuta Films merilis trailer dan poster Hasut, debut penyutradaraan Ilya Sigma. Film horor-misteri ini mengikuti empat sahabat yang diteror suara gaib di hutan, tanpa mengandalkan jumpscare.
  • Ilya Sigma mengaitkan Hasut dengan derasnya informasi dan risiko mudah terpengaruh hasutan. Teror film menyoroti pilihan manusia untuk memeriksa kebenaran, ikut menghasut, atau diam.
  • Sekitar 80 persen syuting Hasut dilakukan di hutan dengan konsep hampir sepenuhnya outdoor. Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Jakarta, IDN Times - Tuta Films resmi merilis trailer dan poster film Hasut (2026), yang sekaligus menjadi debut penyutradaraan Ilya Sigma. Film horor-misteri ini menawarkan pendekatan berbeda dengan tidak mengandalkan jumpscare atau penampakan hantu sebagai sumber teror.

Sebagian besar cerita Hasut berlangsung di tengah hutan, bahkan dengan teror yang hadir pada siang hari. Empat sahabat yang diperankan Karina Salim, Rachel Amanda, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova justru harus menghadapi suara-suara gaib yang perlahan mengacaukan hubungan mereka. Tentunya, ada beberapa fakta menarik dari film ini.

  1. 1. Ilya Sigma ungkap Hasut relevan dengan kondisi saat ini

    Kapan tanggal rilis film Hasut.jpg
    Hasut (dok. Tuta Films/Hasut)

    Bagi Ilya Sigma, konsep suara-suara gaib dalam Hasut bukan sekadar cara untuk menghadirkan ketakutan. Sutradara dan penulis naskah yang akrab dipanggil Anggi itu ingin mengangkat fenomena yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

    "Kayaknya sekarang ini ya, di kondisi sekarang ini kita tuh sering banget enggak sih denger suara-suara karena informasi 'kan begitu cepat hadir, berita cepat naik, apa pun datangnya serba cepat. Sehingga kadang-kadang kita sulit banget ngebedain apakah itu suara kita sendiri atau suara orang lain, atau suara yang diwariskan oleh orang-orang sehingga kita believe gitu," jelasnya saat ditemui di XXI Senayan City, Jakarta Selatan, Kamis (10/9/2026).

    Menurut Anggi, kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan tentang kebiasaan manusia dalam menerima informasi. Tidak sedikit orang yang langsung percaya terhadap sesuatu tanpa terlebih dahulu memastikan kebenarannya. Ia juga membawa persoalan tersebut ke situasi ketika seseorang atau kelompok mencoba memengaruhi orang lain untuk membenci pihak tertentu hanya karena memiliki perbedaan.

    "Ketika ada kelompok yang dominan dan satu orang yang mungkin mereka enggak suka gitu, dan mereka menghasut supaya orang lain tuh enggak suka sama orang itu karena berbeda. Berbeda karena secara fisiknya, dan akhirnya pilihannya adalah di kita sendiri. Apakah kita mau tabayyun gitu. Maksudnya kita mau bener-bener ngecek dulu kebenarannya. Apakah kita mau jadi orang yang mudah terhasut, mau jadi ikut menghasut, atau mungkin jadi mendiamkan ketika hal-hal ini terjadi dalam kehidupan," lanjutnya.

    Dari sanalah Hasut kemudian terasa semakin relevan dengan situasi sekarang. Teror dalam film tidak hanya berasal dari sesuatu yang tidak kasatmata, tetapi juga dari bagaimana manusia merespons suara dan informasi yang mereka terima.

    "Jadi saya sih ngerasa bahwa ini saat yang tepat juga Hasut ini hadir. Karena di kondisi sekarang ini sangat mudah sekali kita tersulut gitu ya," tegasnya.

  2. 2. Mengambil latar hutan, Ilya Sigma jelaskan horor sesungguhnya adalah manusia

    Sinopsis Film Hasut, Rachel Amanda Kesurupan di Tengah Hutan.jpg
    Hasut (dok. Tuta Films/Hasut)

    Pemilihan hutan sebagai lokasi utama Hasut juga bukan tanpa alasan. Ilya Sigma justru ingin membalik pandangan umum bahwa hutan selalu identik dengan tempat angker dalam film horor. Baginya, hutan sebenarnya merupakan rumah bagi berbagai ekosistem dan bukan sesuatu yang secara otomatis harus ditakuti manusia.

    "Sebenarnya agak disayangkan juga kalau banyak yang mempotret hutan kalau di film itu 'kan sebagai tempat yang angker. Padahal buat aku hutan itu adalah tempat yang netral, yang angker adalah orang-orang yang hadir dengan niat sesuatu dan membawa bagasi ke dalam hutan tersebut. Karena menurut aku alam itu adalah ekosistem yang sama dengan kita kan," jelasnya.

    Pandangan tersebut kemudian menjadi bagian dari pendekatan Hasut. Ketakutan tidak sepenuhnya ditempatkan pada hutan, melainkan pada manusia yang datang ke dalamnya dengan membawa trauma, luka, prasangka, dan niat masing-masing. Menurutnya, ketika manusia memperlakukan alam dengan buruk, hal tersebut menunjukkan adanya rasa keterpisahan dari alam itu sendiri.

    "Makanya sekarang itu terbukti kalau kita tuh ngerasa bahwa, 'Kok hutan kebakaran,' dan lain-lain itu 'kan juga jadi pertanyaan. Sebenarnya secara fakta adalah hutan itu enggak pernah menyakiti kita. Padahal kita yang kebanyakan menyakiti hutan itu sendiri," sambung Anggi.

  3. 3. Ambil konsep hampir 100 persen outdoor, syuting tetap sehat

    Siapa saja pemain film Hasut.jpg
    Hasut (dok. Tuta Films/Hasut)

    Selain menghadirkan horor di siang hari, Hasut juga memiliki tantangan besar dari sisi produksi. Produser Siera Tamihardja mengungkapkan bahwa sebagian besar proses syuting dilakukan secara outdoor, termasuk sekitar 80 persen yang berlangsung di hutan.

    "Kalau ini mungkin describe-nya kayak, 'Walaupun horor siang hari dan hampir 100% outdoor, kita syuting sehat dan semuanya selesai tepat waktu'," tuturnya.

    Bagi tim produksi, keputusan tersebut tentu memiliki risiko tersendiri. Cuaca menjadi salah satu faktor yang paling sulit diprediksi ketika sebagian besar adegan dilakukan di luar ruangan. Namun, alih-alih menghindari tantangan tersebut, tim Hasut justru memilih untuk menghadapinya sejak awal.

    "Di sini kita menghasut diri sendiri untuk ngambil challenge. 'Apa 100% syutingnya outdoor? Hajar! Apa syutingnya bulan ber-ber-ber? Hajar!.' Memang sebuah challenge yang kita coba aja sih. Dan Mestakung syukurnya, semesta mendukung semua syuting yang kita jalankan memang outdoor ini, ternyata konsep yang kita pikirkan awalnya takut kayak, 'Bisa enggak ya terjadi,' ternyata berhasil," pungkasnya.

    Dengan pendekatan tersebut, Hasut mencoba menghadirkan jenis horor yang tidak bergantung pada gelapnya malam atau kemunculan sosok menyeramkan. Hutan yang terlihat tenang pada siang hari justru menjadi ruang bagi suara-suara gaib untuk memicu kecurigaan dan mengadu para karakter satu sama lain. Hasut dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More