Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Album yang Membuat Musisi Pensiun dari Industri Musik, Kenapa?

5 Album yang Membuat Musisi Pensiun dari Industri Musik, Kenapa?
Queen (facebook.com/Queen)
Intinya Sih
  • Lima album dari musisi legendaris menjadi penanda akhir karier mereka di industri musik, masing-masing dengan alasan pribadi seperti kesehatan, tekanan mental, hingga kehilangan rekan band.
  • Syd Barrett, John Deacon, Lauryn Hill, Billy Joel, dan Phil Collins memilih berhenti setelah merilis album yang mencerminkan titik balik atau perpisahan dalam perjalanan kreatif mereka.
  • Meskipun tak lagi aktif berkarya, warisan musik para musisi ini tetap hidup dan terus diapresiasi oleh generasi baru penggemar di seluruh dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di industri musik, merilis album biasanya menjadi puncak perjalanan kreatif seorang musisi. Banyak artis menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menulis lagu, merekamnya di studio, dan mempromosikannya ke seluruh dunia. Namun dalam beberapa kasus, justru album tertentu menjadi penanda akhir perjalanan karier mereka di dunia musik. Alasannya pun bermacam-macam.

Ada yang berhenti karena masalah kesehatan, tekanan mental, kehilangan rekan band, hingga merasa sudah tidak memiliki lagi sesuatu yang ingin disampaikan melalui musik. Beberapa album bahkan terasa seperti perpisahan tidak resmi dengan para penggemar. Berikut lima album yang secara tidak langsung membuat musisinya memilih mundur dari industri musik.

1. Barrett – Syd Barrett

Nama Syd Barrett dikenal sebagai sosok penting di awal perjalanan band legendaris Pink Floyd. Ia adalah penulis lagu utama di masa-masa awal band tersebut dan menciptakan berbagai karya unik seperti lagu “See Emily Play”. Namun seiring waktu, kondisi mental Barrett semakin tidak stabil sehingga membuat rekan-rekannya kesulitan bekerja bersamanya.

Akhirnya ia pun meninggalkan band yang dulu ia dirikan sendiri. Setelah keluar dari Pink Floyd, Barrett mencoba menjalani karier solo dan merilis album seperti The Madcap Laughs dan kemudian Barrett. Dalam proses pembuatan album ini, mantan rekan bandnya seperti David Gilmour dan Roger Waters bahkan ikut membantu agar proyek tersebut bisa selesai.

Meski memiliki keunikan tersendiri, album ini juga memperlihatkan bagaimana Barrett mulai kehilangan energi kreatifnya. Tak lama setelah itu, ia benar-benar menjauh dari dunia musik dan memilih hidup tenang jauh dari sorotan publik.

2. Made in Heaven – Queen

Setelah meninggalnya vokalis legendaris Freddie Mercury, masa depan Queen menjadi tanda tanya besar. Album Made in Heaven yang dirilis pada 1995 dibuat menggunakan rekaman vokal Mercury yang sempat ia tinggalkan sebelum wafat. Album ini menjadi cara terakhir bagi para anggota band untuk menghormati warisan musik sang vokalis.

Namun bagi bassist Queen, John Deacon, album tersebut terasa seperti titik akhir perjalanan. Setelah bertahun-tahun menjalani tur dan hidup di dunia musik yang penuh tekanan, Deacon memutuskan mundur dari aktivitas band. Ia tidak tertarik melanjutkan tur tanpa Mercury dan memilih hidup lebih tenang bersama keluarganya.

Meski anggota lain masih tampil bersama penyanyi tamu seperti Adam Lambert, Deacon tetap memilih pensiun dari dunia musik.

3. The Miseducation of Lauryn Hill – Lauryn Hill

Di akhir 1990-an, grup hip-hop Fugees sempat menjadi fenomena global lewat album The Score. Dari trio tersebut, sosok yang paling mencuri perhatian adalah Lauryn Hill. Ia kemudian merilis album solo debutnya, The Miseducation of Lauryn Hill, yang langsung meledak dan dianggap sebagai salah satu album terbaik sepanjang masa.

Album itu memenangkan banyak penghargaan dan memuat lagu ikonik seperti “Doo Wop (That Thing)”. Ironisnya, setelah kesuksesan besar tersebut, Hill justru jarang merilis karya baru. Ia memang masih tampil di konser atau menjadi bintang tamu dalam beberapa lagu, tetapi album studio baru hampir tidak pernah muncul.

Banyak penggemar akhirnya menganggap album legendaris itu sebagai satu-satunya karya besar yang benar-benar menandai masa aktif kariernya.

4. Fantasies and Delusions – Billy Joel

Selama dekade 1970-an hingga 1990-an, Billy Joel dikenal sebagai salah satu penyanyi dan penulis lagu paling sukses di dunia. Ia menghasilkan banyak lagu klasik seperti “Piano Man” dan “Uptown Girl”. Namun di balik kesuksesan tersebut, Joel sering mengaku bahwa proses menulis lagu pop tidak selalu mudah baginya.

Ketika merilis album Fantasies and Delusions pada tahun 2001, Joel mengambil arah yang berbeda dengan membuat karya musik klasik instrumental. Album ini sebenarnya menunjukkan sisi lain dari kemampuannya sebagai komposer.

Meski begitu, setelah proyek tersebut, ia hampir tidak lagi merilis album pop baru. Joel lebih memilih fokus pada konser dan menikmati warisan musik yang telah ia bangun selama puluhan tahun.

5. Testify – Phil Collins

Nama Phil Collins adalah salah satu ikon pop terbesar era 1980-an dan 1990-an. Selain sukses sebagai penyanyi solo, ia juga dikenal sebagai drummer dan vokalis band Genesis. Lagu-lagunya yang emosional seperti “In the Air Tonight” dan “Against All Odds” menjadikannya salah satu artis paling populer di masanya.

Namun ketika merilis album Testify pada 2002, Collins merasa bahwa waktunya di industri musik sudah hampir selesai. Setelah bertahun-tahun menghadapi kritik, tekanan tur, dan masalah kesehatan, ia mulai mengurangi aktivitas bermusik. Collins memang masih terlibat dalam beberapa proyek lain, tetapi album ini sering dianggap sebagai karya terakhir yang benar-benar menunjukkan dirinya sebagai musisi pop aktif.

Pada akhirnya, setiap musisi memiliki alasan sendiri untuk berhenti berkarya. Meski mereka tidak lagi aktif merilis album baru, karya-karya mereka tetap dikenang dan terus didengar oleh generasi baru penggemar musik. Menurutmu, album mana yang paling terasa seperti perpisahan paling emosional dari seorang musisi kepada para penggemarnya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Diana Hasna
EditorDiana Hasna
Follow Us

Latest in Hype

See More