Anggun C. Sasmi soal Fenomena Kerasukan, di Indonesia vs Luar Negeri Beda?

- Anggun C. Sasmi percaya fenomena kerasukan memiliki banyak lapisan, tidak hanya mistis, dan menilai tiap budaya punya cara berbeda dalam memaknai kondisi trance atau kehilangan kesadaran.
- Dalam film Para Perasuk, Anggun menjelaskan kerasukan digambarkan sebagai perwujudan roh binatang yang menjadi bentuk pelarian dan relaksasi emosional bagi para tokohnya.
- Anggun tertarik debut akting di film ini karena kekagumannya pada sutradara Wregas Bhanuteja, meski awalnya merasa skenario abstrak namun tetap percaya pada visi kreatif sang sutradara.
Jakarta, IDN Times - Anggun C. Sasmi ternyata percaya fenomena kerasukan. Namun, buat Anggun, kerasukan gak bisa dilihat dari satu sisi saja.
Dalam agenda media visit di kantor IDN, Kamis (1/4/2026), pelantun lagu “Mimpi” tersebut juga mengungkap bagaimana pemaknaanna soal kerasukan tersebut kemudian diinterpretasikan di film Para Perasuk yang dibintanginya.
1. Anggun C. Sasmi ungkap pandangannya soal kerasukan di Indonesia vs luar negeri

Anggun C. Sasmi mengaku percaya fenomena kerasukan. Namun menurutnya, kerasukan bukan hanya soal hal mistis seperti yang sering diperbincangkan dalam budaya Indonesia, melainkan juga memiliki berbagai lapisan yang berbeda-beda.
“Kalau secara personal, aku percaya banget. Hipnotisme juga termasuk kerasukan, kan?” ujar Anggun dengan nada yang cukup serius.
Ia pun mencontohkan pengalaman menonton dokumenter Prancis tentang hipnotisme yang digunakan untuk operasi orangtua yang tidak bisa dibius. Berdasarkan cerita Anggun, metode tersebut memungkinkan pasien tetap sadar, tetapi seperti hilang kesadaran. Menurutnya, hal ini pun termasuk ke dalam sebuah bentuk kerasukan.
Ia pun menekankan bahwa pemahaman soal kerasukan ini seharusnya tidak one-dimensional. Menurutnya, ada banyak kultur di dunia yang memiliki praktik serupa, tapi sering kali hanya sisi negatifnya saja yang terekspos.
“Jadi buat aku, sebenarnya yang kita tahu di sini, kita terlalu latah bilang kerasukan setan. Ternyata tidak, ada banyak sekali lapisannya itu. Yang aku suka adalah ini memberi tahu kita bahwa sesuatu itu tidak hanya one-dimensional. Kita harus bisa belajar juga melihat ada sisi-sisi lain, yang mungkin malah justru positif. Tapi tergantung bentuknya, tergantung motivasinya,” lanjutnya.
Anggun juga membandingkan kerasukan yang terjadi di Indonesia dengan yang di luar negeri. Misalnya, di Turki ada penari yang in trance hanya lewat gerakan dan energi kolektif, tanpa bantuan substansi apa pun. Sementara di Amerika Latin, ada beberapa ritual yang menggunakan jamur atau zat tertentu untuk memasuki alam halusinasi.
2. Fenomena kerasukan di film Para Perasuk menurut Anggun C. Sasmi

Sebagai pemeran karakter Guru Asri dalam film garapan Wregas Bhanuteja ini, Anggun C. Sasmi mengaku bahwa awalnya ia sempat terjebak dengan judul Para Perasuk yang ia kira merupakan film horor. Namun sebenarnya, judul tersebut bukan seperti yang terlihat.
“Aku terjebak kayak banyak orang, terjebak title-nya,” kata Anggun sambil tertawa kecil.
Ia kemudian menjelaskan, kerasukan di film ini bukan berarti dirasuki roh manusia, melainkan oleh roh binatang. Fenomena ini pun dimaknai sebagai semacam pelarian atau cara untuk melupakan kenyataan sejenak. Jadi, bagi yang mengalami, kerasukan justru memberikan sensasi rekreasi dan pelampiasan, mirip seperti efek relaksasi saat berada di spa.
“ini tuh bukan roh manusia, tapi roh binatang dan ide kerasukan di sini adalah semacam satu pelarian sih kayak eskeptism atau cara orang melupakan. Sebenarnya rekreasi karena ketika orang-orang yang dirasuki itu selesai, mereka tuh jadi seneng. Kayak kalo kita di spa, jadi kayak pelampiasan aja.”
3. Alasan Anggun C. Sasmi tertarik main film Para Perasuk

Tayang perdana di bioskop mulai 23 April 2026, film Para Perasuk juga terasa sangat istimewa karena tercatat sebagai debut akting Anggun C. Sasmi di industri perfilman Indonesia. Karena hal tersebut, tentu banyak yang bertanya-tanya tentang kenapa Anggun akhirnya setuju untuk memulai debutnya lewat film ini setelah perjalanan kariernya yang panjang.
Jawabannya ternyata sederhana, karena film ini diarahkan oleh Wregas Bhanutedja. Anggun mengaku memiliki kesan yang mendalam terhadap sang sutradara setelah menonton karya-karyanya terdahulu, seperti Penyalin Cahaya dan Budi Pekerti. Menurutnya, film-film Wregas selalu meninggalkan kesan emosional yang bertahan sampai berhari-hari.
“Aku nonton film dia tuh yang Penyalin Cahaya sama Budi Bekerti. Terus selama nonton filmnya dia tuh gak cuman nonton film, membekasnya tuh sampai berhari-hari loh. Budi Bekerti lagi, bikin terenyuhnya tuh sampe dipikirin sampe 2-3 hari,” kata Anggun C. Sasmi.
Anggun tak menampik bahwa saat pertama kali membaca skenario film Para Perasuk, ada banyak hal yang menurutnya terasa abstrak dan sulit dipahami. Selama proses syuting berlangsung pun, ia juga memiliki banyak pertanyaan karena sulit mengakses visi kreatif Wregas. Namun, ia dan pemain lainnya sangat percaya dengan misi sang sutradara.
“Yang aku pelajari dari syuting film ini adalah kita tuh semua setuju karena ini Wregas. Jadi, kita percaya dengan misinya dia dan ini yang paling penting sih, ini sebenarnya bukan film kita, ini filmnya Wregas, kita membantu dia supaya film ini menjelma jadi bisa dilihat. Kita tuh hanya semacam media, dan kita tuh nurut.”





![[REVIEW] Jujutsu Kaisen Season 3—Battle Royale Penyihir Terkuat](https://image.idntimes.com/post/20260403/new_2de385fb-9f82-4a05-afab-749dcd7378a2.png)













