Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Anime tentang Quarter Life Crisis, Relate untuk Usia 20-an

5 Anime tentang Quarter Life Crisis, Relate untuk Usia 20-an
Tatsuhiro Satou bersama Misaki dan Kaoru dalam salah satu adegan anime Welcome to the N.H.K. (dok. Gonzo/Welcome to the N.H.K.)
  • Lima anime menyoroti quarter-life crisis usia 20-an, mulai dari kecemasan karier, tekanan finansial, burnout, hingga rasa tertinggal dan kehilangan arah setelah masa kuliah.
  • Sing "Yesterday" for Me dan ReLIFE menggambarkan lulusan yang mandek atau menganggur akibat trauma kerja, lalu perlahan membangun keberanian menghadapi ketidakpastian dan kegagalan.
  • The Tatami Galaxy, Welcome to the N.H.K., dan Honey and Clover menampilkan penyesalan pilihan hidup, isolasi sosial, serta pencarian jati diri dalam transisi menuju dewasa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Memasuki usia 20-an sering kali menjadi fase transisi paling membingungkan ketika ekspektasi masa depan berbenturan dengan realitas hidup yang melelahkan. Tekanan mencari kestabilan finansial, kecemasan karier, hingga rasa terasing karena merasa tertinggal dari teman sebaya kerap memicu krisis eksistensial (quarter-life crisis).

Anime tidak hanya memotret dinamika masa sekolah, tetapi juga piawai menyajikan pergulatan batin para dewasa muda dengan sangat jujur dan membumi. Setidaknya, ada lima judul anime yang secara tajam menyoroti realitas krisis usia 20-an. Pembahasan difokuskan pada perjuangan para karakter dalam menghadapi kegagalan kerja, kelelahan mental (burnout), serta pencarian ulang makna hidup.

Deretan anime ini hadir sebagai tontonan yang sangat relatable sekaligus memberi ruang katarsis bagi siapa pun yang sedang berjuang menata langkah di fase dewasa. Coba tonton, mungkin kamu akan merasa relate.

  1. 1. Sing "Yesterday" for Me (2020)

    Haru Nonaka dan Rikuo Uozumi dalam salah satu adegan anime Sing "Yesterday" for Me
    Haru Nonaka dan Rikuo Uozumi dalam salah satu adegan anime Sing "Yesterday" for Me (dok. Doga Kobo/Sing "Yesterday" for Me)

    Rikuo Uozumi menjalani hari-harinya tanpa ambisi besar setelah lulus dari universitas dengan hanya bekerja paruh waktu di sebuah minimarket. Ia terjebak dalam rasa takut untuk melangkah ke dunia profesional dan merasa rendah diri saat melihat teman-teman seangkatannya mulai mapan berkarier. Keraguan batin tersebut semakin rumit ketika ia harus berhadapan dengan cinta masa lalu yang belum usai dan hubungan baru yang membingungkan.

    Anime ini secara apik menggambarkan kemandekan hidup yang kerap dialami para lulusan baru ketika realitas pascakampus tidak seindah harapan. Alih-alih menghadirkan resolusi instan, ceritanya membiarkan para karakter belajar menerima ketidakpastian dan berdamai dengan kegagalan masa lalu secara perlahan. Menonton kisah Rikuo memberikan rasa validasi bagi siapa pun yang merasa tertinggal dalam perlombaan hidup usia 20-an.

  2. 2. ReLIFE (2016)

    Arata Kaizaki dan Chizuru Hishiro dalam salah satu adegan anime ReLIFE
    Arata Kaizaki dan Chizuru Hishiro dalam salah satu adegan anime ReLIFE (dok. TMS Entertainment/ReLIFE)

    Arata Kaizaki adalah seorang pria berusia 27 tahun yang berstatus pengangguran setelah memutuskan berhenti dari pekerjaan pertamanya akibat trauma lingkungan kerja yang toksik. Kegagalan tersebut membuatnya kesulitan mencari pekerjaan tetap hingga ia terpaksa berbohong kepada teman-temannya demi menjaga harga diri. Rasa putus asa membawanya menerima eksperimen ReLIFE yang mengubah penampilan fisiknya kembali menjadi remaja SMA selama satu tahun.

    Melalui kesempatan kedua tersebut, Arata diajak meninjau kembali luka batin dan rasa tidak berdaya yang selama ini membelenggunya saat dewasa. Interaksi dengan lingkungan baru perlahan memulihkan rasa percaya dirinya untuk menghadapi kembali tuntutan hidup nyata tanpa rasa takut yang melumpuhkan. Kisah ini menjadi pengingat berharga bahwa kegagalan di awal karier bukanlah akhir dari perjalanan seseorang untuk membangun kembali hidupnya.

  3. 3. The Tatami Galaxy (2010)

    Sang Protagonis dalam salah satu adegan anime The Tatami Galaxy
    Sang Protagonis dalam salah satu adegan anime The Tatami Galaxy (dok. Madhouse/The Tatami Galaxy)

    Seorang mahasiswa tingkat akhir tanpa nama terjebak dalam penyesalan mendalam karena merasa telah menyia-nyiakan masa mudanya di universitas tanpa mencapai kehidupan kampus berwarna mawar yang ia impikan. Ia terus berandai-andai dan terjebak dalam lingkaran waktu alternatif untuk mencoba berbagai pilihan klub mahasiswa demi menemukan kebahagiaan ideal. Namun, setiap pilihan baru yang ia ambil selalu berujung pada rasa kecewa dan kehampaan yang serupa.

    Disutradarai oleh Masaaki Yuasa, anime ini membenturkan kecemasan quarter-life crisis mengenai ketakutan salah mengambil keputusan hidup dengan visual yang dinamis dan surealis. Protagonis akhirnya menyadari bahwa pencarian kesempurnaan hidup yang obsesif justru membuatnya buta terhadap keindahan realitas yang sedang dijalaninya. Narasi ini memberikan pesan kuat bahwa kebahagiaan sejati ditemukan saat kita berhenti meratapi pilihan alternatif dan mulai merangkul kenyataan saat ini.

  4. 4. Welcome to the N.H.K. (2006)

    Tatsuhiro Satou bersama Misaki dan Kaoru dalam salah satu adegan anime Welcome to the N.H.K.
    Tatsuhiro Satou bersama Misaki dan Kaoru dalam salah satu adegan anime Welcome to the N.H.K. (dok. Gonzo/Welcome to the N.H.K.)

    Tatsuhiro Satou adalah seorang pemuda berusia 22 tahun yang hidup mengurung diri (hikikomori) di apartemennya akibat rasa cemas berlebih dan trauma sosial setelah putus kuliah. Ia membangun teori konspirasi rumit di kepalanya untuk menyalahkan organisasi fiktif bernama N.H.K. atas segala kegagalan hidup dan ketidakmampuannya beradaptasi di masyarakat. Kehidupannya yang sunyi mulai terusik saat seorang gadis misterius bernama Misaki berusaha membantunya keluar dari isolasi tersebut.

    Anime ini menyajikan sisi paling kelam dari krisis usia 20-an ketika rasa takut dihakimi lingkungan sosial berujung pada depresi dan rasa benci terhadap diri sendiri. Ceritanya tidak menawarkan solusi mukjizat, melainkan memperlihatkan langkah-langkah kecil yang sangat berat untuk kembali terhubung dengan dunia luar. Perjuangan Satou menjadi potret jujur tentang betapa menantangnya proses berdamai dengan kelemahan diri demi bertahan hidup di dunia nyata.

  5. 5. Honey and Clover (2005)

    Para karakter utama dalam salah satu adegan anime Honey and Clover
    Para karakter utama dalam salah satu adegan anime Honey and Clover (dok. J.C.Staff/Honey and Clover)

    Sekelompok mahasiswa seni di Tokyo harus menghadapi persimpangan jalan ketika masa kelulusan semakin dekat sementara bakat dan arah masa depan mereka masih abu-abu. Yuta Takemoto merasa sangat kerdil dan kehilangan arah di antara teman-temannya yang berbakat luar biasa namun sama-sama memendam kegelisahan eksistensial. Puncaknya, rasa bingung yang menumpuk mendorong Takemoto nekat mengayuh sepedanya tanpa tujuan jelas demi mencari jati dirinya yang hilang.

    Anime garapan studio J.C.Staff ini dengan sangat puitis menangkap kepedihan transisi menuju kedewasaan, patah hati, dan kecemasan memilih jalur hidup. Perjalanan Takemoto merefleksikan proses pendewasaan yang sering kali menuntut seseorang untuk berani tersesat sebelum akhirnya memahami apa yang benar-benar ia inginkan. Kisah ini memberikan ketenangan emosional bahwa kebingungan di usia muda adalah fase alami yang wajib dilewati untuk mengenal potensi diri.

    Menghadapi quarter-life crisis di usia 20-an memang kerap membuat seseorang merasa sendirian di tengah tuntutan dunia yang bergerak serba cepat. Melalui pergulatan para karakternya, kelima anime ini mengingatkan kita bahwa merasa tersesat, gagal, dan ragu adalah bagian tak terpisahkan dari proses bertumbuh. Tidak ada garis akhir yang seragam dalam hidup, dan memberi waktu bagi diri sendiri untuk berproses adalah langkah pertama yang paling berharga.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More