The Odyssey (dok. Universal Pictures/The Odyssey)
Tidak semua film sejarah mempunyai standar akurasi yang sama. Standar akurasi film yang mengangkat tokoh atau peristiwa nyata tentu berbeda dengan film yang mengadaptasi karya sastra klasik. The Odyssey karya Homer, yang kemudian diadaptasi ke layar lebar oleh Christopher Nolan, menjadi salah satu studi kasus menarik untuk melihat perbedaan tersebut.
Dalam sebuah sesi tanya jawab bersama profesor dari Georgetown University, dia menjelaskan bahwa status Homer sebagai pengarang The Odyssey sendiri masih menjadi bahan perdebatan di kalangan sejarawan. Sebagian besar dari mereka sepakat kalau Homer berperan dalam menyempurnakan cerita The Odyssey yang telah ada sebelumnya, tetapi ada pula yang berpendapat kalau Homer merupakan sosok yang benar-benar menggubah epos ini. Karena tidak ada bukti yang dapat memastikan keberadaan Homer, para sejarawan tak dapat memperlakukannya sebagai tokoh sejarah yang terdokumentasi sebaik Napoleon Bonaparte atau Julius Robert Oppenheimer.
Atas dasar ini, mengukur akurasi film The Odyssey karya Christopher Nolan dengan standar seperti film sejarah yang mengangkat peristiwa nyata merupakan persepsi yang keliru. Pasalnya, cerita The Odyssey berasal dari tradisi lisan yang mengalami perubahan dan penyesuaian selama berabad-abad sebelum akhirnya dibakukan menjadi sebuah epos. Karena itu, adaptasi klasik seperti The Odyssey lebih tepat dinilai dari kemampuannya mempertahankan nilai, tema, dan esensi mitologi dengan tetap memberikan ruang kreativitas bagi sang sutradara.
Film sejarah pada akhirnya tidak bisa dipaksa menyajikan 100 persen fakta dari peristiwa masa lalu. Sebab, tujuan utamanya bukan untuk menjadi sumber pembelajaran, melainkan membangkitkan rasa penasaran penonton terhadap kisah sejarah yang diangkat. Di tengah perkembangan teknologi informasi, rasa penasaran ini dapat terjawab dengan menelusuri berbagai sumber sejarah yang valid.