3 Bukti Pertemanan Upin & Ipin Bersifat Inklusif, Sadar Gak?

- Merangkul Ijat yang memiliki keterbatasan
- Pertemanan yang tidak memandang warna kulit
- Pertemanan lintas negara, budaya, dan agama
Jika kamu penikmat serial animasi Upin & Ipin, pastinya sudah tahu kalau Upin dan Ipin punya banyak teman. Pertemanan mereka pun tampak seru dan menyenangkan. Apalagi Upin, Ipin, dan teman-temannya juga satu sekolah, sehingga mereka sudah saling mengenal.
Entah kamu sadar atau tidak, pertemanan Upin dan Ipin tak hanya soal seru dan menyenangkan, tetapi juga merepresentasi pertemanan yang inklusif. Pertemanan inklusif merujuk pada pertemanan yang terbuka pada perbedaan tanpa mengenal batasan sosial, budaya, agama, dan ras. Inilah beberapa bukti bahwa pertemanan Upin & Ipin bersifat inklusif.
1. Merangkul Ijat yang memiliki keterbatasan

Salah satu karakter dalam serial animasi Upin & Ipin adalah Ijat. Kehadirannya dalam serial tidak seperti karakter lain, karena ia digambarkan memiliki keterbatasan berbicara. Ijat juga butuh waktu yang lama untuk memahami sesuatu. Tak jarang karena keterbatasannya tersebut, Ijat sering memakai bahasa isyarat ketika berkomunikasi dengan orang lain.
Apa yang dialami Ijat bisa dikategorikan sebagai kondisi disabilitas. Meskipun memiliki keterbatasan, Ijat tetap memiliki semangat untuk menjalani kehidupannya sehari-hari. Bahkan, ia juga dikenal sebagai karakter yang rajin dan suka menolong.
Keterbatasan Ijat tidak lantas membuat Upin, Ipin, dan teman-teman lain menjauhinya. Justru Upin, Ipin, dan teman-teman sering menunjukkan keberpihakan pada Ijat. Keterbatasan Ijat tidak jadikan bahan tertawaan. Sebaliknya, itu menjadi sarana Upin, Ipin, dan teman-teman untuk memperbesar kepedulian dan kepekaan.
2. Pertemanan yang tidak memandang warna kulit

Pertemanan Upin dan Ipin yang inklusif juga ditunjukkan melalui perbedaan warna kulit yang ada. Dalam serial, tiap karakter merepresentasi warna kulit yang beragam. Jika Upin, Ipin, Ehsan, Fizi, Mail, Mei Mei, Susanti, ditampilkan dengan warna kulit yang terang, maka berbeda dengan Jarjit dan Fizi yang ditampilkan dengan warna kulit gelap.
Perbedaan warna kulit tidak membuat mereka saling mengejak atau menjadi rasis sehingga menimbulkan konflik. Meskipun dalam pertemanan mereka tetap ada konflik, tetapi konflik itu tidak lahir dari adanya perbedaan warna kulit. Mereka justru merayakan perbedaan tersebut dalam kebersamaan.
3. Pertemanan lintas negara, budaya, dan agama

Inklusivitas pertemanan Upin dan Ipin juga lahir dari perbedaan latar belakang teritorial, budaya, dan agama. Jika Upin, Ipin dan teman-teman lain sudah lama tinggal di Malaysia dan telah lama bersinggungan dengan kultur negaranya, maka berbeda dengan Susanti. Ia digambarkan sebagai karakter yang berasal dari Indonesia dan sudah terbiasa dengan budaya Indonesia. Hal tersebut jelas terlihat dari logat/aksen Susanti yang berbeda dari teman-temannya.
Selain itu, perbedaan agama juga terlihat dalam pertemanan mereka. Tidak hanya beragama Islam, tetapi juga ada agama lain yang dianut seperti Mei Mei dan Jarjit. Perbedaan agama tersebut tidak jadi penghalang. Dalam serial, justru mereka hidup dalam toleransi dengan berkunjung pada momen Lebaran.
Pertemanan Upin dan Ipin yang inklusif dapat menjadi bahan refleksi untukmu dalam menjalani kehidupan. Perbedaan bukanlah penghalang, justru dapat menjadi saran terciptanya kebersamaan dan persatuan.

















