Gak cuma KPop, kini saatnya iPop?
Marak Idol Group Baru, Era Boyband-Girlband Indonesia Bangkit Lagi?

Grup idola baru seperti no na, MARBLES, NPD, dan SEEN meramaikan musik Indonesia, sementara SM*SH, Cherrybelle, 7Icons, serta Blink kembali tampil di festival 2026.
Pengelolaan grup kini lebih terstruktur: pelatihan jangka panjang, pengembangan sebagai IP, konten digital, fandom, merchandise, dan karakter tiap member untuk menjangkau audiens lebih luas.
Pelaku industri mempelajari sistem Korea tanpa meninggalkan identitas lokal; fenomena ini dinilai evolusi format grup, yang keberlangsungannya bergantung pada karya rutin dan strategi rilis bertahap.
Boyband dan girlband kembali meramaikan industri musik Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah grup baru muncul dengan konsep yang beragam. Beberapa di antaranya ada no na yang debut dengan sangat kuat lewat identitas Indonesia dalam karya-karyanya pada 2025 lalu.
Ada juga girl group MARBLES yang cukup menyita perhatian ketika memperkenalkan diri dengan lagu "hompimpa" tahun ini. Jangan lupa, NPD yang para anggotanya sudah terkenal sebagai kreator konten, juga turut meramaikan tren grup idola di Tanah Air. Selain itu, terbaru, ada kumpulan empat cowok yang tergabung dalam SEEN, debut pada September 2026, dan langsung menerima reaksi positif dari pencinta idol group di Indonesia.
Belum selesai, karena grup-grup lama juga kembali muncul di berbagai panggung festival musik pada 2026 ini. SM*SH, Cherrybelle, 7Icons, Blink, dan lainnya mengajak penggemar lama nostalgia dengan lagu-lagu hits mereka dahulu.
Melihat banyaknya grup idola Indonesia aktif akhir-akhir ini, apakah tandanya era boyband-girlband Indonesia kembali lagi?
1. Meski sudah ada dari dulu, apa yang membedakan grup idola sekarang?

SEEN (instagram.com/seenbyseen_) Kalau ngomongin boyband dan girlband, Indonesia memang sudah punya banyak nama dari dulu walau dengan sebutan yang berbeda, yaitu grup vokal. Sebelum era SM*ASH di 2010-an, kita punya Coboy, M.E, Trio Libels, dan banyak lagi pada tahun 90 hingga 2000-an.
Setiap era punya ciri khas masing-masing yang jadi tren pada masa itu. Nah, pada generasi sekarang, seperti no na, MARBLES, SEEN, dan grup lainnya, pengamat musik Aldo Sianturi melihat ada perubahan bagaimana industri mempersiapkan serta mengelola apa yang kini disebut sebagai boy dan girl group dibanding era sebelumnya.
“Lebih terstruktur dan lebih banyak duitnya. Kalau dulu kan tadi pemodal personal, jadi selama dia udah surplus, ya menurut dia udah lah. Jadi second bisnisnya gak di-top-up lagi, mereka (pemodal) balik ke hilirisasi, bisnis utamanya,” ujar Aldo saat dihubungi IDN Times pada Senin (28/9/2026).
Menurut Aldo, proses pengembangan idol group Indonesia kini secara bisnis juga semakin dipikirkan sejak awal. Grup tidak lagi hanya dipandang sebagai proyek untuk menghasilkan lagu. Ada potensi yang lebih besar untuk mengembangkan mereka sebagai sebuah IP yang bisa bergerak ke berbagai pasar, termasuk kolaborasi di luar industri musik, seperti brand makanan hingga pakaian.
“Di musik industri itu dibutuhkan IP yang bisa dimainkan bersama-sama. Artinya, as you know mereka adalah intellectual property yang bisa dikembangkan menjadi konten, performance, community, merchandise, endorsement sampai entertainment franchise,” jelas Aldo.
Dengan pendekatan tersebut, keberadaan beberapa member dalam satu grup adalah nilai tambah. Setiap member membawa karakter, kepribadian, dan potensi audiens yang berbeda sehingga grup punya lebih banyak pintu untuk menjangkau publik. Hal ini semakin relevan dengan kondisi industri musik saat ini yang menurut Aldo berada dalam era attention economy. Perhatian publik menjadi sesuatu yang perlu diperebutkan, termasuk melalui berbagai platform digital.
“We are living in the attention economy sekarang. Jadi kalau grup dibanding dengan solo pasti berbeda. Misalnya grup itu ada lima orang, berarti kan dia ada lima wajah, lima personality, lima sumber konten, terus lima pintu masuk ke audience. Jadi dalam algoritmanya TikTok, Instagram, sama YouTube, personality itu adalah aset distribusi,” tuturnya.
Konsep pengembangan grup yang mengandalkan IP serta kedekatan antara member dan fandom sebenarnya bukan hal baru di Indonesia. Salah satu contohnya adalah JKT48 yang sejak awal mengadopsi konsep dari AKB48. JKT48 merupakan sister group resmi AKB48 dan membawa konsep “idola yang dapat dijumpai” sehingga penggemar bisa melihat para member secara rutin di teater JKT48, fX Sudirman.
Bedanya, di era media sosial sekarang, ruang untuk mengembangkan karakter dan IP tersebut menjadi jauh lebih luas. Member gak hanya bisa dikenal lewat panggung atau aktivitas grup, tetapi juga melalui konten digital dan berbagai platform yang memungkinkan mereka menjangkau audiens secara lebih personal lewat karakter setiap membernya.
2. Belajar dari Korea, gak harus jadi KPop

potret MARBLES (Instagram.com/marbles.sphere) Grup-grup baru saat ini juga dibentuk dengan proses persiapan yang lebih matang. Ada sistem pelatihan atau training yang memakan waktu hingga bertahun-tahun seperti yang dilakukan oleh Korea yang selama ini dikenal memiliki sistem pengembangan talenta yang begitu kuat dan terstruktur.
Menurut Aldo, industri KPop menjadi salah satu referensi yang dipelajari pelaku musik Indonesia. Gak sedikit orang Indonesia yang melakukan studi banding ke berbagai agensi Korea Selatan untuk melihat bagaimana proses pengembangan talenta dilakukan.
“We all learn from Korean market ya, music market, yang di mana banyak orang Indonesia yang udah melakukan studi banding ke YG Entertainment, ke SM Entertainment dan ke mana-mana gitu untuk melihat sebenarnya how talent academy is created,” ujar pebisnis yang telah berpengalaman lebih dari 30 tahun di industri musik ini.
Namun, mempelajari sistem KPop bukan berarti boyband dan girlband Indonesia harus ikut terdengar atau terlihat seperti KPop. Aldo justru melihat, sekarang adalah momentum yang tepat untuk membawa identitas Indonesia ke dalam karya yang dibuat. Apalagi, Indonesia dikenal dengan keberagaman dan kekayaan budaya.
“This is the right time, karena kesadarannya masyarakat dengan berbagai lapisan generasi juga itu semakin baik dan terbuka terhadap kebudayaan kita. Secara kebudayaan kita sudah dibilang sama western market itu, ‘Kita paling gak bisa di-copy,'” lanjutnya.
Dalam kesempatan terpisah, IDN Times juga melakukan wawancara dengan A-List Entertainment, manajemen yang baru mendebutkan grup iPop baru, MARBLES dan SEEN. Perwakilan A-List Entertainment mengiyakan, melakukan sistem training pada grup-grup di bawah asuhan mereka. A-List menyebut, mulai mengembangkan boy group dan girl group Indonesia sejak 2021 dengan melibatkan konsultan dari luar negeri. MARBLES dan SEEN dipersiapkan selama sekitar dua hingga tiga tahun sebelum akhirnya debut.
“Kita memang hadirkan konsultan-konsultan yang datang baik dari Korea, ada musik produser dari LA, dari Swedia, untuk nge-develop bagaimana cara terbaik untuk mengembangkan baik girlband maupun boyband dari 2021 sampai 2023,” ujar perwakilan A-List Entertainment melalui sambungan suara pada Senin (28/9/2026).
Meski menggunakan referensi dari sistem training Korea, A-List mengaku tetap berusaha memasukkan unsur Indonesia ke dalam karya yang dibuat. Misalnya pada MARBLES yang menggunakan kata “hompimpa” dari permainan masa kecil di Indonesia sebagai judul lagu debut mereka.
“Jadi kita tetap gak akan ninggalin unsur-unsur Indonesianya. Misalkan kayak beberapa MARBLES contohnya, itu kayak lagunya atau unsur karyanya kan ada kayak sound-sound yang mengarah ke tradisionalnya juga gitu,” lanjutnya.
Contoh lain bisa dilihat dari no na, di bawah nauangan 8rising, yang membangun genre yang mereka sebut sebagai Island Pop. Musik mereka memadukan pengaruh pop dan R&B dengan berbagai elemen bunyi-bunyian dari Indonesia, seperti ceng-ceng dalam “work”, gamelan dalam “rollerblade”, hingga suara klakson angkot dalam “honk!”.
3. Apakah ini era kebangkitan boyband dan girlband Indonesia?

Boyband SM*SH (instagram.com/smash_ina) Dengan kelahiran grup-grup 'iPop' baru hingga maraknya reuni para senior, pertanyaan berikutnya adalah apakah fenomena ini bisa disebut sebagai kebangkitan lagi boyband dan girlband di Indonesia? Menurut Aldo, karena sistem serta pola industri dulu dan sekarang berbeda, yang terjadi saat ini bukan kembalinya era boyband dan girlband lama, melainkan bentuk evolusi dari format grup.
“Ini kita ngebacanya gak boleh salah. Ini bukan boyband or girlband comeback, bukan. Ini memang evolusi format grup. Jadi generasi hari ini tuh gak harus ngikutin formula boyband atau girlband 2000-an gitu, karena sekarang bisa digabung vocal group, terus ada kreator ekonomi, social media personality, live entertainment kayak NPD. Makanya semuanya kayak in one go, in one package," katanya.
4. Apakah boyband dan girlband akan jadi tren musiman?

no na (youtube.com/nonawav) Ketika membahas apakah tren idol group ini akan musiman, menurut sang pengamat, tren entertainment selalu memiliki siklus yang terus berulang. Sebuah format musik bisa kembali populer, kemudian meredup, sebelum muncul lagi dalam bentuk yang berbeda.
“Kalau dilihat siklusnya entertainment ini itu per empat tahun, per empat tahun nanti dia akan decline, nanti muncul lagi, empat tahun lagi biasanya seperti itu. Nah, packaging-nya aja yang berubah sebenarnya. Di musik ini gak ada yang berubah dari dulu, gak pernah berubah. Yang berubah cuma teknologinya aja. Gak ada yang pernah berubah, ini pengulangan semua,” jelasnya.
Karena itu, pertanyaan yang tepat adalah bagaimana grup-grup ini menjaga eksistensinya. Menurut Aldo, merilis satu lagu lalu membiarkan publik menunggu respons berikutnya bukan strategi yang cukup. Grup perlu memiliki cukup banyak materi untuk terus berkomunikasi dengan audiensnya melalui berbagai platform.
“Most important thing adalah setelah dirilis lagunya gitu bukan berarti abis rilis lagu selesai. Rata-rata biasanya udah selesai aja, let's see what happens. Nah, gak bisa gitu. Mereka harus sampai 18 bulan harus tetap stick with it,” ujarnya.
Salah satu strategi yang menurutnya bisa dilakukan adalah waterfall strategy, yakni merilis sejumlah single secara bertahap sebelum akhirnya dikembangkan menjadi album atau mini album. Pola tersebut, menurutnya, diterapkan no na yang merilis single-single sebelum meluncurkan album debut Island Girl sekitar 16 bulan setelah perilisan karya pertama mereka.
“Jadi yang mereka lakukan saat ini waterfall strategy namanya, jadi rilis satu lagu, satu single, single, single baru ujungnya album atau mini album,” jelasnya.
Pendekatan tersebut akan membuat perjalanan sebuah grup gak berhenti pada satu lagu. Setiap rilisan bisa memperkenalkan sisi lain dari member kepada pendengar. A-List Entertainment pun melihat karya sebagai bagian penting untuk menjaga keberlangsungan karier grup mereka. Selain itu, mereka juga tetap mengadakan pelatihan khusus meski para member sudah resmi debut.
“Kalau ngomongin longevity pasti dari karya ya, kita harus menyuburkan diri para member ini untuk terus berkarya terutama bikin musik baru. Kita punya program songwriting camp untuk bikin mereka menjadi mencoba terus relevan dengan industri musiknya sehingga mereka bisa terus mengeluarkan karya-karya,” ujar perwakilan A-List Entertainment tersebut.
Dengan sistem training yang semakin kuat dan terencana dan upaya melekatkan identitas Indonesia pada musik mereka, kemunculan boyband dan girlband (atau kini lebih sering disebut boy group dan girl group) generasi baru ini menarik untuk diantisipasi. Apakah Indonesia akan punya iPop group yang siap mendominasi pasar global?
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















