Dee Lestari Harapkan Regulasi untuk Penggunaan AI di Sebuah Karya

- Dee Lestari mengungkap keresahannya karena suaranya pernah digunakan tanpa izin melalui teknologi AI, menyoroti perlunya regulasi yang jelas untuk melindungi hak kreator.
- Ia mencontohkan kasus penarikan katalog lagu Ariana Grande dan artis UMG dari TikTok sebagai bentuk perlindungan terhadap penyalahgunaan suara oleh teknologi AI.
- Dalam Indonesia Summit 2026, Dee menekankan pentingnya transparansi penggunaan AI dalam karya agar publik tahu mana hasil kreativitas manusia dan mana yang dibantu teknologi.
Jakarta, IDN Times - Kemajuan teknologi akal imitasi (AI) ikut membuat Dee Lestari merasa resah. Dalam sesi “Culture is Currency: The Challenge for Local IP Goes Global” di Indonesia Summit 2026, ia menuturkan pernah mengalami suaranya digunakan tanpa izin.
“Suara saya dipakai untuk menyanyikan lagu orang lain, tapi tanpa izin saya. Dan ini terjadi,” ungkap Dee Lestari pada Kamis (18/6/2026).
Ia kemudian mengambil contoh kasus lain, yaitu penarikan katalog lagu Ariana Grande dan sejumlah artis Universal Music Group (UMG) dari TikTok. Salah satu alasan penarikan katalog ini terjadi untuk perlindungan AI, karena suara sang musisi digunakan tanpa izin menggunakan inovasi teknologi. Terkait kejadian tersebut, Dee lalu menyoroti area hukum yang lalu menjadi abu-abu.
Dee menuturkan, “Apakah itu bisa pembajakan? Dia tidak mereplikasi masternya Ariana Grande, hanya menjadikannya sebagai gimik, dimainin, dimasukkan ke dalam lagu lain bukan punya dia. Artinya terjadi variasi reproduksi, replika, dan sebagainya di dalam masyarakat dan pengguna gitu yang mungkin secara varian itu sudah tak terhitung lagi gitu.”
Dalam menangani kejadian ini, Dee berpendapat bahwa transparansi penggunaan AI di sebuah karya bisa menjadi kunci awal. Dengan begitu, penikmat juga bisa memilih karya mana yang ingin dinikmati, apakah sepenuhnya hasil AI atau kreativitas manusia asli.
“Setidaknya didorong oleh regulasi kewajiban untuk transparan menyatakan bahwa ada sekian karya menggunakan AI. Atau ‘Ini karya dibantu oleh AI,’ gitu ya. Dan ada kewajiban untuk mencantumkan itu,” ungkapnya.
IDN menggelar Indonesia Summit (IS) 2026, sebuah konferensi independen yang khusus diselenggarakan untuk dan melibatkan generasi Milenial dan Gen Z di Tanah Air. Dengan tema "The Next Us: Indonesia's Leap in the Algorithmic Age". IS 2026 bertujuan membentuk dan membangun masa depan Indonesia dengan menyatukan para pemimpin dan tokoh nasional dari seluruh nusantara.
IS 2026 diadakan di Tribrata Dharmawangsa, Jakarta, pada 17-18 Juni 2026. Dalam IS 2026, IDN juga meluncurkan Indonesia Millennial and Gen-Z Report 2027.
Survei ini dikerjakan oleh IDN Research Institute. Melalui survei ini, IDN Media menggali aspirasi dan DNA Milenial dan Gen Z, apa nilai-nilai yang mendasari tindakan mereka. Survei ini menjangkau responden Milenial dan Gen Z di sembilan wilayah di Indonesia, antara lain Sumatra Utara, Kepulauan Riau, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan, dan Sulawesi.

















