Potret Denny Sumargo bersama para cast di press conference film Baby Udon yang digelar di Jakarta, Senin (3/8/2026) (IDN Times/Juan Dwi)
Merasa seperti 'terjebak' untuk membuat film, Densu mencari cara agar project tersebut batal dengan sengaja membuat berbagai syarat, mulai dari mencari sutradara sampai rekanan production house yang cocok. Di luar dugaan, seluruh syarat tersebut terpenuhi satu per satu dengan bergabungnya Fajar Bustomi sebagai sutradara, sinematografer Yudi Datau, hingga LYTO Pictures yang mau diajak bekerja sama.
"Gimana ya persulitnya? Ah, 'Kalau film PH baru gak bisa masuk bioskop, gak bisa dia, harus ada gandengan collab.' Dicari tuh, dia (Olivia) muter-muter, gak ketemu. Sulit tuh. Terakhir, dia datang, 'Yang, aku ketemu orang LYTO Pictures,' katanya. 'Jadi, Yang.' 'Jadi apa?' gue bilang. 'Jadi kita kerja sama dia.' Innalillahi, jadi ini Pak. Jadi ini barang," cerita Densu yang disambut tawa.
Densu sendiri menolak memproduksi film Baby Udon, karena takut akan mengecewakan Fanny dan Hajime Kondoh. Ia pun memiliki kekhawatiran membuat film yang tidak sebagus cerita Fanny di podcast-nya. Berangkat dari perasaan itulah, Densu berusaha mencari cara agar film tersebut berjalan tanpa keterlibatannya.
"Gue takut nanti gue bikin (film), Fanny Kondoh-nya kecewa. Gue takut nanti gue bikin, Hajime Kondoh-nya kecewa, dan gue takut cerita yang ada di podcast gue yang udah kita denger, yang udah kita nonton, yang kita udah punya imajinasi itu, ketika kita nonton, kalian kecewa. Gue gak mau ngecewain orang," jelas Densu.