Resident Evil (dok. Sony Pictures Releasing/Resident Evil)
Menariknya, ending yang ditampilkan di bioskop bukan satu-satunya versi yang pernah dibuat Zach Cregger. Dalam wawancara dengan Collider (19/9/2026), Cregger dan pemeran Bryan, Austin Abrams, membahas bagaimana ending sebenarnya memperlihatkan obat penawar dihancurkan jauh lebih cepat, bahkan sebelum Bryan sepenuhnya berubah menjadi monster.
"Awalnya dalam naskah, ilmuwan itu mencabut jarumnya, dan begitu Austin (Bryan) meraih wajah ilmuwan wanita itu, dia menjatuhkannya, dan jarum itu hancur berkeping-keping. Kemudian sisa filmnya hanya tentang Austin (Bryan) membunuh para ilmuwan, dan orang-orang langsung berkata, 'Tidak, sudah berakhir'," kata Cregger.
Menurut Cregger, hilangnya sisi kemanusiaan Bryan terlalu cepat menjadi salah satu "kesalahan" yang ia buat dalam versi awal cerita. Karena itu, tim Resident Evil merekam adegan alternatif yang kemudian digunakan dalam versi final. Dalam versi tersebut, ilmuwan terakhir masih menyimpan obat penawar sehingga penonton tetap memiliki harapan bahwa Bryan mungkin bisa diselamatkan.
"Jadi kami mengatur ulang rangkaian peristiwa. Syukurlah saya merekam ini sebagai rencana cadangan. Itu seperti rencana B saya. Itu menjaga ketegangan tetap tinggi hingga akhir. Rasanya seperti, 'Selamatkan dia, selamatkan dia,' sedangkan sebelumnya hanya seperti, 'Bunuh mereka, kurasa? Bunuh mereka semua?'," lanjutnya.
Perubahan tersebut membuat ending terasa lebih tragis. Penonton masih berharap Bryan dapat diselamatkan karena obat penawar belum benar-benar hilang. Kita terus mengikuti perjuangannya, sementara tubuhnya perlahan kehilangan kendali. Namun, Cregger tetap tidak mengubah nasib Bryan. Apa pun yang terjadi dengan obat penawar tersebut, Bryan memang akan berubah menjadi monster.
"Jika Anda tidak menyukai akhir ceritanya, kita hanya berbeda pendapat, dan saya menghormatinya, tetapi saya tidak akan pernah mengubahnya," tegas Cregger.