Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

12 Fakta Menarik Franchise The Hunger Games, Bergema hingga Kini

11 min read
12 Fakta Menarik Franchise The Hunger Games, Bergema hingga Kini
The Hunger Games: Catching Fire (dok. Lionsgate/The Hunger Games: Catching Fire)
  • Lionsgate membeli hak adaptasi The Hunger Games pada 2008 seharga 200.000 dolar AS; franchise ini kemudian meraup lebih dari 3,3 miliar dolar AS di box office global.
  • Jennifer Lawrence memenangkan peran Katniss setelah bersaing dengan 29 kandidat lain, sementara Gary Ross menyutradarai film pertama sebelum Francis Lawrence mengambil alih mulai Catching Fire.
  • Produksi sekuel menghadapi jadwal ketat, termasuk penulisan Catching Fire selama 12 minggu; Mockingjay diubah setelah Philip Seymour Hoffman meninggal, dan Gwendoline Christie menggantikan Lily Rabe.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sebelum Maret 2012, Katniss Everdeen dan karakter lain dari franchise The Hunger Games hanya ada di halaman novel karya Suzanne Collins. Namun, saat teks-teks tersebut diadaptasi ke layar lebar, film-film itu langsung viral di kalangan penonton. Bahkan, The Hunger Games kembali diperbincangkan mengingat kisahnya yang mirip dengan alegori ketidakadilan hidup di dunia nyata.

Meskipun sangat populer, masih ada beberapa bagian dari sejarah franchise The Hunger Games yang mungkin belum kamu ketahui. Rahasia film The Hunger Games mencakup segala hal, mulai dari biaya untuk mengadaptasi buku-buku tersebut ke layar lebar hingga mencari aktor untuk memerankan karakter-karakter kuncinya. Nah, sambil nunggu film terbaru dari franchise ini, yaitu The Hunger Games: Sunrise on the Reaping yang dijadwalkan tayang di bioskop pada November 2026, serta kembali menghadirkan Jennifer Lawrence dan Josh Hutcherson, yuk kita bahas dulu fakta-fakta menarik tentang franchise The Hunger Games.

  1. 1. Lionsgate membeli hak film The Hunger Games dengan harga yang murah

    The Hunger Games
    The Hunger Games (dok. Lionsgate/The Hunger Games)

    Serial The Hunger Games menghasilkan pendapatan global lebih dari 3,3 miliar dolar AS (sekitar Rp 53 triliun) di box office. Ini menjadikannya salah satu franchise film terbesar di tahun 2010-an. Dan menjadi prestasi yang mengesankan, terutama mengingat materi sumbernya masih segar dalam kesadaran publik. Alhasil, franchise ini gak sulit mendapat keuntungan box office setiap kali dirilis.

    Mengingat kesuksesan finansial yang luar biasa dari franchise The Hunger Games, mungkin kamu terkejut jika tahu kalau pada tahun 2008, Lionsgate hanya mengeluarkan 200.000 dolar AS (setara dengan Rp3,6 miliar) untuk membawa Katniss Everdeen dan rekan-rekannya ke layar lebar. Meskipun bukan angka yang kecil, angka itu justru sangat minim mengingat kesuksesan franchise tersebut. Pengembalian investasinya ternyata sangat besar, dengan pendapatan box office jauh melebihi harga yang dibayarkan untuk hak franchise tersebut.

  2. 2. Proses pemilihan Katniss Everdeen sangat ketat

    The Hunger Games
    The Hunger Games (dok. Lionsgate/The Hunger Games)

    Saat ini, mustahil banget membayangkan orang lain selain Jennifer Lawrence yang memerankan karakter utama Katniss Everdeen dalam The Hunger Games. Yap, peran tersebut melekat banget sama dia. Lawrence bahkan menerima pujian atas aktingnya.

    Di samping itu, film pertama The Hunger Games (2012) juga dirilis pada saat yang penting dalam karier Jennifer Lawrence. Popularitasnya sedang melejit setelah aktingnya dalam Winter's Bone (2010) dan debutnya sebagai Mystique dalam X-Men: First Class (2011). Adapun, The Hunger Games tayang perdana hanya beberapa bulan sebelum dirilisnya Silver Linings Playbook.

    Jika dilihat ke belakang, sepertinya Jennifer Lawrence memang ditakdirkan untuk memerankan Katniss, tapi pemilihannya saat itu jauh dari kepastian. Dikutip People, pencarian pemeran untuk Katniss sangat banyak. Yap, ada 30 perempuan muda yang saat itu dipertimbangkan untuk peran tersebut.

    Jennifer Lawrence sendiri memang kandidat utama sejak awal, tapi bintang muda lain seperti Hailee Steinfeld, Saoirse Ronan, dan calon bintang Divergent, Shailene Woodley, juga masuk dalam daftar kandidat. Proses seleksi mempertimbangkan para pemeran berusia 14—24 tahun. Akhirnya, Lawrence yang baru saja mendapatkan nominasi Oscar untuk film Winter's Bone mendapat peran Katniss. Kariernya pun semakin cemerlang setelah itu.

  3. 3. Pencarian sutradara The Hunger Games

    Gary Ross
    Gary Ross (youtube.com/AmazonBooks)

    Meskipun gak sebesar pencarian Katniss Everdeen, pencarian Lionsgate untuk sutradara film The Hunger Games pertama bisa dibilang sebagai sebuah proses yang cukup panjang. Pada September 2010, Deadline melaporkan bahwa kandidat utama untuk sutradara film itu adalah Gary Ross, Sam Mendes, dan David Slade. Francis Lawrence, yang kemudian menyutradarai semua sekuel The Hunger Games, juga dipertimbangkan untuk film pertama, tapi akhirnya ia gak terpilih sebagai sutradara film pertamanya.

    Adapun, David Slade sendiri saat itu sukses menyutradarai film Twilight ketiga, Eclipse (2010), yang berhasil mencapai puncak box office domestik untuk franchise tersebut. Sementara itu, Sam Mendes memang gak punya pengalaman menyutradarai film yang ditujukan untuk remaja, tapi reputasinya sebagai sutradara film pemenang Oscar Best Picture untuk American Beauty (1999), dianggap bisa ngasih prestise pada The Hunger Games. Namun pada akhirnya, Lionsgate memilih Gary Ross—sutradara yang sudah familiar dengan penghargaan berkat filmnya Seabiscuit (2003).

  4. 4. John C. Reilly hampir memerankan Haymitch

    John C. Reilly
    John C. Reilly (commons.wikimedia.org/John Bauld)

    Pencarian pemeran untuk Katniss, Peeta, dan Gale menyita banyak perhatian media, tetapi mereka bukanlah satu-satunya karakter yang membutuhkan bintang berbakat. Salah satu tokoh terpenting dalam keseluruhan franchise adalah Haymitch, mantan pemenang Hunger Games sekaligus sosok mentor bagi Katniss. Haymitch adalah karakter yang humoris sekaligus punya rasa sedih dan trauma di masa lalu. Itu kenapa perannya sangat kompleks, dan juga sangat penting agar cerita bisa berjalan dengan baik.

    Pada April 2011, ketika The Hunger Games hampir memulai pengambilan gambar utamanya. Vulture melaporkan bahwa John C. Reilly akan ditawari peran tersebut. Sebagai aktor yang dikenal karena berkarya di semua genre, Reilly digadang-gadang sangat cocok. Ia bisa menangani sisi komedi Haymitch, dan aktingnya sebagai orang yang rentan dan gak berdaya. Namun, meskipun pemilihan pemerannya terdengar menjanjikan, Reilly gak memerankan Haymitch. Woody Harrelson akhirnya terpilih untuk peran tersebut dan kemudian mengulangi peran itu di semua sekuel The Hunger Games.

  5. 5. Steven Soderbergh membantu mengerjakan film The Hunger Games pertama

    Sutradara film Amerika Steven Soderbergh di Festival Film Internasional Karlovy Vary ke-58.
    Sutradara film Amerika Steven Soderbergh di Festival Film Internasional Karlovy Vary ke-58. (commons.wikimedia.org/Jan Beránek)

    Meskipun berstatus sebagai film blockbuster franchise beranggaran besar, film-film The Hunger Games sering menarik perhatian tokoh-tokoh industri yang lebih artistik, termasuk Steven Soderbergh. Meskipun bukan orang asing dalam film-film mainstream sebagai sutradara Ocean's Eleven (2001), Soderbergh juga merupakan orang yang bertanggung jawab atas film-film seperti Traffic (2000), Logan Lucky (2017), dan Bubble (2005). Karyanya bisa sulit dipahami, dan lucu. Namun, namanya gak pernah dikaitkan dengan franchise besar. Meskipun begitu, untuk film The Hunger Games yang pertama, Soderbergh membuat pengecualian.

    Dikutip Collider, Soderbergh mengungkapkan kalau dia dan Gary Ross adalah teman lama yang sering bertukar pikiran dalam bidang perfilman. Saat The Hunger Games bersiap untuk memulai pengambilan gambar utama, Ross menelepon Soderbergh untuk meminta bantuan dalam mengambil gambar unit kedua, karena Soderbergh adalah orang yang dipercaya Ross. Melihat jadwalnya kosong, Soderbergh pun menyetujui pekerjaan tersebut dan bekerja selama dua hari. Ia menambahkan sedikit sentuhan khasnya yang sangat diakui kritikus pada produksi tersebut.

  6. 6. Pencarian sutradara The Hunger Games: Catching Fire terbilang sangat cepat

    Francis Lawrence di San Diego Comic Con International 2015, untuk promosikan The Hunger Games: Mockingjay Part 2, di San Diego Convention Center di San Diego, California.
    Francis Lawrence di San Diego Comic Con International 2015, untuk promosikan The Hunger Games: Mockingjay Part 2, di San Diego Convention Center di San Diego, California. (commons.wikimedia.org/Gage Skidmore)

    Setelah The Hunger Games menjadi film laris di box office, terlihat kalau dua buku lainnya dalam seri tersebut, Catching Fire dan Mockingjay, juga akan diadaptasi menjadi film layar lebar. Bahkan sebelum film pertama dirilis, Lionsgate yakin banget dengan menjadwalkan adaptasi Catching Fire untuk dirilis pada November 2013. Langkahnya bisa dibilang sangat berani, dan menunjukkan ekspektasi Lionsgate yang tinggi untuk The Hunger Games. Yap, waktu produksinya terbilang sangat cepat.

    Hanya beberapa hari setelah penayangan The Hunger Games di bioskop, sutradara Gary Ross ngasih tahu kalau ia gak akan menyutradarai The Hunger Games: Catching Fire. Dilansir Entertainment Weekly, Ross bilang kalau dia butuh waktu lebih lama untuk memproduksi sekuel dan gak mau buru-buru. Itu kenapa ia memilih mundur. Lionsgate pun segera mencari sutradara pengganti untuk The Hunger Games: Catching Fire.

    Persaingan pun dipersempit menjadi dua nama: Bennett Miller dan Francis Lawrence. Pada saat itu, Miller dianggap sebagai pilihan yang tepat, karena ia menyutradarai film Capote (2005) dan Moneyball (2011). Lawrence, di sisi lain, adalah seorang sutradara film genre berpengalaman yang dikenal dengan film Constantine (2005) dan I Am Legend (2007). Namun, peluangnya berpihak pada Lawrence, yang akhirnya menjadi sutradara untuk film The Hunger Games: Catching Fire dan kemudian menyutradarai kedua bagian adaptasi Mockingjay juga.

  7. 7. Michael Arndt dikasih waktu yang sangat singkat untuk menulis skenario The Hunger Games: Catching Fire

    Michael Arndt, penulis skenario di Cody's Books, Berkeley, California.
    Michael Arndt, penulis skenario di Cody's Books, Berkeley, California (commons.wikimedia.org/Steve Rhodes)

    Penulis skenario Michael Arndt langsung melesat di awal kariernya di Hollywood. Skenario pertamanya yang diproduksi adalah Little Miss Sunshine (2006), yang kemudian memenangkannya Academy Award. Setelah itu, Arndt menulis skenario untuk Toy Story 3 (2010). Hal ini menjadikannya sukses dengan dua skenario yang mendapat pujian kritis. Salah satu dari banyak pekerjaannya setelah mengerjakan film Pixar adalah menulis ulang skenario untuk The Hunger Games: Catching Fire, yang dianggapnya sebagai tantangan besar.

    Saat diwawancarai The Hollywood Reporter, Arndt bilang kalau masalah utama yang dihadapinya dalam menulis skenario The Hunger Games: Catching Fire adalah waktu. Setiap penulis skenario berharap punya waktu yang lebih banyak untuk menulis skenario mereka, tapi Arndt dikasih tantangan khusus untuk mengerjakan seluruh film hanya 12 minggu sebelum syuting dimulai. Yap, dengan waktu yang amat terbatas, Arndt meminta bantuan yang bisa didapatnya. Untungnya, penulis skenario Simon Beaufoy dan seluruh tim kreatif The Hunger Games siap ngasih bantuan tersebut. Lewat kolaborasi, Arndt memastikan kalau skenario The Hunger Games: Catching Fire siap tepat waktu sebelum proses syuting dimulai.

  8. 8. Proses syuting The Hunger Games: Catching Fire untuk IMAX

    The Hunger Games: Catching Fire
    The Hunger Games: Catching Fire (dok. Lionsgate/The Hunger Games: Catching Fire)

    Film The Hunger Games yang pertama ternyata sangat populer di IMAX, sampai-sampai diberi perpanjangan penayangan dalam format tersebut karena tingginya permintaan. Mengingat kesuksesan besar The Hunger Games di IMAX, gak mengherankan jika The Hunger Games: Catching Fire diproduksi dengan mempertimbangkan media tersebut.

    Hampir 50 menit cuplikan The Hunger Games: Catching Fire memang direkam menggunakan kamera IMAX. Pada saat itu, film-film yang banyak menggunakan IMAX seperti The Dark Knight Rises (2012) hanya menampilkan segmen cuplikan yang lebih singkat untuk format IMAX, dengan banyak perubahan rasio aspek di sepanjang filmnya. The Hunger Games: Catching Fire justru meningkatkan standarnya dengan menolak untuk menyimpang dari rasio aspek IMAX selama keseluruhan bagian permainan dalam film tersebut. Itulah jenis sentuhan visual yang dibutuhkan untuk memenuhi ekspektasi selangit yang dimiliki para penggemar The Hunger Games, dan The Hunger Games: Catching Fire benar-benar berhasil memenuhinya.

  9. 9. Tiga lagu Ed Sheeran ditolak untuk film The Hunger Games: Catching Fire

    Penyanyi-penulis lagu Ed Sheeran di Festival Film Internasional Berlin ke-68 tahun 2018.
    Penyanyi-penulis lagu Ed Sheeran di Festival Film Internasional Berlin ke-68 tahun 2018. (commons.wikimedia.org/Harald Krichel)

    Ed Sheeran adalah artis yang sangat populer. Jadi, gak mungkin banget menolak kesempatan untuk bekerja sama dengannya. Ia juga sukses besar dalam menyumbangkan lagu untuk film The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013) dan Yesterday (2019). Namun, Lionsgate justru melewatkan kesempatan untuk bekerja dengan Ed Sheeran dalam The Hunger Games: Catching Fire, karena menolak tiga lagu yang ia usulkan untuk soundtrack film tersebut.

    Dalam sebuah wawancara dengan stasiun radio Click 98.9, Ed Sheeran bilang kalau ia mengajukan tiga lagu orisinal untuk soundtrack The Hunger Games: Catching Fire, tapi semuanya ditolak. Sheeran juga menceritakan pengalaman serupa, yaitu proposal lagunya ditolak untuk film Twilight. Terlepas dari penolakan tersebut, ia bilang masih ingin memproduksi musik untuk film karena ingin memperluas cakrawala kreatifnya.

  10. 10. Kenapa Mockingjay dibagi menjadi dua film?

    Katniss Everdeen
    Katniss Everdeen (dok. Lionsgate/The Hunger Games: Mockingjay Part I)

    Bisa dimakhlumi kenapa buku ketiga dalam seri buku The Hunger Games, Mockingjay, dibagi menjadi dua film mengingat adanya tren adaptasi buku tebal di tahun 2010-an. Di era di mana buku terakhir Harry Potter dan Twilight dibagi menjadi dua film dan The Hobbit menghasilkan trilogi lengkap, wajar aja kalau The Hunger Games mengikuti jejak mereka. Lagipula, mengubah satu buku menjadi beberapa film berarti ada peluang tambahan bagi studio untuk memanfaatkan nama brand yang menguntungkan di box office.

    Namun, alasan resmi yang diberikan oleh sutradara Francis Lawrence untuk membagi buku Mockingjay menjadi dua film adalah untuk menekankan dua nada yang berbeda dalam petualangan terakhir Katniss Everdeen. Dikutip Gizmodo, Lawrence melihat film Mockingjay pertama sebagai sesuatu yang lebih "internal"—urusan politik yang tenang tapi mengancam—sedangkan film kedua adalah kisah perang yang jauh lebih besar. Bagi Lawrence, mencoba memadatkan estetika yang berbeda ini ke dalam satu film dianggap gak akan berhasil, jadi dia menyambut baik kesempatan untuk membagi cerita menjadi dua film panjang. Tentu saja, fakta bahwa Lionsgate punya satu film blockbuster tambahan dari keputusan ini juga merupakan bonus bagi studio tersebut.

  11. 11. Meninggalnya Philip Seymour Hoffman

    cuplikan adegan yang diperankan Philip Seymour Hoffman dalam film The Hunger Games: Mockingjay - Part 2 (dok. Lionsgate/The Hunger Games: Mockingjay - Part 2)
    cuplikan adegan yang diperankan Philip Seymour Hoffman dalam film The Hunger Games: Mockingjay - Part 2 (dok. Lionsgate/The Hunger Games: Mockingjay - Part 2)

    Pada Februari 2014, Hollywood kehilangan seorang aktor legendaris Philip Seymour Hoffman. Meninggal karena overdosis obat-obatan, Hoffman meninggalkan karya luar biasa semasa hidupnya. Ia meninggal menjelang akhir syuting dua judul Mockingjay. Saat itu, Hoffman sedang berperan sebagai Plutarch Heavensbee. Nah, karena Heavensbee merupakan titik fokus dalam buku dan film Catching Fire, kematian Hoffman berdampak besar pada tim di balik The Hunger Games.

    Namun akhirnya, hanya diperlukan sedikit perubahan setelah meninggalnya Hoffman. CinemaBlend menjelaskan kalau aktor tersebut hanya memiliki dua adegan tersisa untuk difilmkan di bagian kedua Mockingjay, dan semua materi untuk bagian pertama sudah selesai. Salah satu adegan yang tersisa menunjukkan Heavensbee bertemu Katniss setelah penahanannya di babak ketiga. Dalam versi final Mockingjay, adegan tersebut diubah sehingga Haymitch yang mengunjunginya dan membaca catatan yang ditulis oleh Heavensbee. Adegan itu adalah momen yang campur aduk. Yap, sebuah pengingat akan ketidakhadiran Hoffman dan kehilangan sang legenda di dunia akting.

  12. 12. Lily Rabe gagal muncul di The Hunger Games: Mockingjay

    Lily Rabe di acara pembukaan Metropolitan Opera pada tahun 2008.
    Lily Rabe di acara pembukaan Metropolitan Opera pada tahun 2008. (commons.wikimedia.org/Rubenstein)

    Dalam The Hunger Games: Mockingjay–Part 2, Lily Rabe akan memerankan Komandan Lyme. Sayangnya, Rabe harus mundur dari produksi. Perannya pun digantikan oleh Gwendoline Christie dalam versi final.

    Saat diwawancarai Collider pada 2021, Rabe menjelaskan kalau pertama kali menandatangani kontrak untuk Mockingjay, ia gak ada jadwal apapun. Namun, karena syutingnya terus diundur, akhirnya film blockbuster tersebut bentrok dengan produksi teater Shakespeare in the Park yang berjudul Much Ado About Nothing. Nah, karena Rabe lebih dulu menandatangani kontrak untuk drama tersebut, Rabe pun memilih mundur dari Mockingjay. Menurut Rabe, para produser film sangat pengertian dan mendukung pilihan Rabe ketika dia harus memilih salah satu di antara keduanya.

    Alih-alih hanya beresonansi dengan penggemar buku, The Hunger Games berhasil memikat pikiran dan hati penonton baru. Yap, siapa yang gak terpesona dengan tema-tema sosial politik dan cinta segitiganya dalam cerita tersebut. Meskipun seri film awalnya selesai bertahun-tahun yang lalu, pengaruh The Hunger Games terus bergema di seluruh dunia hingga saat ini.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More