potret Ernest Prakasa dan Edy Khemod (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
Syuting di tengah keramaian festival musik tentu menghadirkan tantangan tersendiri bagi Edy Khemod sebagai sutradara. Drummer Seringai tersebut mengaku sejak awal sudah menyadari kerumunan penonton merupakan salah satu elemen yang tidak mungkin bisa dikendalikan sepenuhnya.
Untuk menyiasatinya, tim produksi menyiapkan sejumlah elemen lain yang bisa mereka kendalikan. Salah satunya dengan melibatkan aktor dan extras untuk adegan-adegan tertentu. Misalnya, ketika membutuhkan shot penonton yang sedang berjoget, mereka tidak hanya mengandalkan pengunjung festival secara acak, melainkan juga mengarahkan aktor dan extras agar adegan sesuai dengan kebutuhan.
Gak tanggung-tanggung, Ernest mengungkap bahwa produksi film ini sampai melibatkan hingga 500 extras, lho.
“Dari produksi film ini maksimalnya tuh ada 500 orang,” ungkap Ernest.
Menurut Edy Khemod, extras tersebut juga mengikuti jadwal syuting yang cukup panjang. Proses pengambilan gambar di Pestapora tidak hanya dilakukan saat festival berlangsung, tetapi juga beberapa hari sebelum acara ketika panggung sudah selesai dibangun dan siap digunakan.
“Jadi kita syuting di Pestapora bukan cuman di hari H, tapi kita juga syuting di H- (min). Jadi acara belum mulai, panggung udah jadi, itu kita pake. Makanya kita bekerja sama dengan Boss Creator sehingga kita bisa melakukan itu,” kata Edy Khemod.
Gak sampai di situ, tim produksi saat itu juga membawa band dan menyalakan seluruh perlengkapan lighting untuk mendukung adegan. Dengan begitu, suasana yang terekam seolah-olah masih menjadi bagian dari euforia Pestapora.
“Kita bawa extras 500, kita bawa band-nya, lighting-nya, kita nyalain semua. Jadi seakan-akan kayak konsep beneran, padahal sebenernya itu rekayasa. Nah, kita berharapnya dengan editing magic ini sampai penonton udah gak bisa bedain mana yang rekayasa, mana yang beneran,” lanjut Edy.