Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Fakta-Fakta Menarik BTS Operasi Pesta Copet, Pakai 500 Extras di Pestapora
potret Ernest Prakasa dan Edy Khemod (dok. IDN Times/Rani Asnurida)
  • Film Operasi Pesta Copet mengambil gambar langsung di tengah Pestapora 2025 dengan empat kamera, sambil menjaga agar aktivitas produksi tidak mengganggu pengunjung festival.
  • Produksi melibatkan hingga 500 figuran, band, dan lighting untuk membangun adegan festival; syuting juga dilakukan sebelum acara melalui kerja sama dengan Boss Creator.
  • Debut film panjang Edy Khemod ini mengembangkan skenario hingga delapan draf, dengan perhatian pada kelayakan teknis dan detail artistik; film tayang 27 Agustus 2026.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Jakarta, IDN Times - Festival musik merupakan salah satu tempat yang pas untuk melepas penat dan bersenang-senang. Namun, di tengah lautan manusia yang asyik menikmati penampilan musisi favorit mereka, ada saja tangan-tangan jahil yang beraksi mencopet. Situasi tersebut yang diangkat ke dalam film Operasi Pesta Copet.

Film terbaru dari rumah produksi Imajinari ini menghadirkan kisah pencopetan yang terjadi di tengah hiruk-pikuk festival musik. Dalam sesi wawancara bersama IDN Times, Kamis (6/8/2026) Ernest Prakasa selaku produser mengungkap, proses syuting dilakukan langsung di tengah keramaian Pestapora 2025. Bahkan, demi mendukung kebutuhan adegan dan membuat suasana di film terasa lebih autentik, produksi Operasi Pesta Copet sampai melibatkan hingga 500 extras, lho.

1. Syuting di tengah crowd Pestapora 2025

potret Ernest Prakasa dan Edy Khemod (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Salah satu hal yang cukup menarik dari proses produksi Operasi Pesta Copet adalah pengambilan gambar yang dilakukan langsung di tengah keramaian festival musik Pestapora 2025. Menurut Ernest, para pengunjung cukup menyadari keberadaan tim produksi karena mereka datang dengan banyak kru dan membawa empat kamera untuk kebutuhan syuting.

“Pasti sadar sih, kita kan lewat rame-rame. Kita bawa kamera. Kameranya ada 4 kamera. Jadi 4 kamera, kameramen, dan lain-lain, pokoknya banyak. Jadi pasti orang ngeh kita lagi syuting,” ungkap Ernest saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan.

Meski begitu, Ernest menegaskan, dalam proses pengambilan gambar, timnya sangat menjaga agar tidak mengganggu pengunjung yang sedang menikmati festival. Ia juga menilai penonton Pestapora cukup terbiasa dengan aktivitas syuting sehingga situasi tersebut tetap berjalan dengan kondusif.

2. Libatkan sekitar 500 ektras

potret Ernest Prakasa dan Edy Khemod (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Syuting di tengah keramaian festival musik tentu menghadirkan tantangan tersendiri bagi Edy Khemod sebagai sutradara. Drummer Seringai tersebut mengaku sejak awal sudah menyadari kerumunan penonton merupakan salah satu elemen yang tidak mungkin bisa dikendalikan sepenuhnya.

Untuk menyiasatinya, tim produksi menyiapkan sejumlah elemen lain yang bisa mereka kendalikan. Salah satunya dengan melibatkan aktor dan extras untuk adegan-adegan tertentu. Misalnya, ketika membutuhkan shot penonton yang sedang berjoget, mereka tidak hanya mengandalkan pengunjung festival secara acak, melainkan juga mengarahkan aktor dan extras agar adegan sesuai dengan kebutuhan.

Gak tanggung-tanggung, Ernest mengungkap bahwa produksi film ini sampai melibatkan hingga 500 extras, lho.

“Dari produksi film ini maksimalnya tuh ada 500 orang,” ungkap Ernest.

Menurut Edy Khemod, extras tersebut juga mengikuti jadwal syuting yang cukup panjang. Proses pengambilan gambar di Pestapora tidak hanya dilakukan saat festival berlangsung, tetapi juga beberapa hari sebelum acara ketika panggung sudah selesai dibangun dan siap digunakan.

“Jadi kita syuting di Pestapora bukan cuman di hari H, tapi kita juga syuting di H- (min). Jadi acara belum mulai, panggung udah jadi, itu kita pake. Makanya kita bekerja sama dengan Boss Creator sehingga kita bisa melakukan itu,” kata Edy Khemod.

Gak sampai di situ, tim produksi saat itu juga membawa band dan menyalakan seluruh perlengkapan lighting untuk mendukung adegan. Dengan begitu, suasana yang terekam seolah-olah masih menjadi bagian dari euforia Pestapora.

“Kita bawa extras 500, kita bawa band-nya, lighting-nya, kita nyalain semua. Jadi seakan-akan kayak konsep beneran, padahal sebenernya itu rekayasa. Nah, kita berharapnya dengan editing magic ini sampai penonton udah gak bisa bedain mana yang rekayasa, mana yang beneran,” lanjut Edy.

3. Demi cerita yang matang, skenario Operasi Pesta Copet direvisi hingga 8 draft

potret Ernest Prakasa dan Edy Khemod (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Operasi Pesta Copet pun tercatat sebagai karya debut Edy Khemod dalam menyutradarai film panjang. Sebelumnya, ia lebih banyak dikenal lewat karya-karya dalam format pendek, termasuk video musik. Edy tak menampik peralihan ke format film panjang menghadirkan tantangan tersendiri baginya, terutama dalam menjaga struktur cerita agar tetap menarik hingga akhir.

“Tantangan terbesar adalah menjaga struktur ceritanya engaging. Dan karena dengan format durasi panjang, itu kan ada teorinya, ada strukturnya. Itu yang menurut gue justru sangat menantang, karena gue terbiasa bekerja dalam format pendek. Untuk menjaga atensi orang yang ingin terus dalam format panjang itu menantang,” ungkap Edy Khemod.

Walaupun menjadi pengalaman pertamanya menggarap film panjang, Edy Khemod mengaku tidak mendapat tekanan dari Ernest maupun Dipa Andika.

“Justru makanya gue mau bekerja sama dengan Ernest supaya tidak ada tekanan itu,” ungkap Edy Khemod sambil tertawa.

Meski begitu, ia juga menegaskan bahwa sejak awal proses pengembangan cerita, ia dan Ernest sudah banyak berdiskusi untuk mematangkan berbagai bagian dalam skenario. Proses tersebut pun membuat skenario Operasi Pesta Copet harus bolak-balik direvisi hingga mencapai delapan draft.

“Makanya kita draft-nya bolak-balik lumayan banyak sampai 8 draft,” lanjutnya.

4. Aspek teknis hingga detail artistik

potret Ernest Prakasa dan Edy Khemod (dok. IDN Times/Rani Asnurida)

Menurut Ernest, sejak awal penulisan skenario, mereka sudah memikirkan adegan mana saja yang bisa direalisasikan saat syuting. Pengalaman Edy Khemod di dunia pertunjukan pun juga membantunya memperkirakan adegan yang memungkinkan untuk dilakukan. Oleh karena itu, ia mengungkapkan tidak ada adegan yang harus dihapus atau sulit diwujudkan karena kendala saat syuting.

“Jadi dari sejak skenario, udah kita bayangkan bersama-sama kalau ini semua itu bisa dilakukan sehingga gak ada yang harus dihapus,” ungkap Ernest.

Selain mempertimbangkan aspek teknis, Ernest dan tim juga sangat memperhatikan detail artistik untuk membangun dunia dalam film. Menurut Ernest, tim production design dan artistik merancang berbagai detail kecil di sejumlah lokasi, seperti kontrakan dan rumah para karakter.

“Ada banyak hal yang di dunianya si Ijal dan teman-teman ini, yang memang menurutku tim production design itu, terutama dari tim-tim artistik itu nge-design dengan sangat detail. Di-dress-up dengan sangat detail. Jadi pengin bikin universe-nya tuh believable. Menurutku detail-detail yang ada di film ini tuh secara tata artistik kaya banget. Gak asal, ‘Oh iya ini set rumah, rumah gitu,’ tapi dikasih aksen-aksen kecil yang bikin dia sesuai sama karakter.”

Dibintangi oleh Iqbaal Ramadhan dan Kawai Labiba, Operasi Pesta Copet dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 27 Agustus 2026.

Curated For You

Editorial Team

Related Article