Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Film Berlatar Talk Show yang Tunjukkan Kemunafikan Manusia
Late Night with the Devil (dok. Shudder/Late Night with the Devil)
  • Artikel menyoroti lima film berlatar talk show yang mengungkap sisi gelap industri hiburan, dari manipulasi citra hingga ambisi mengejar popularitas.
  • Late Night with the Devil, Woman of the Hour, dan Primetime menampilkan ketegangan saat acara televisi mempertemukan sensasi, kejahatan, serta motif tersembunyi para pelakunya.
  • Network dan Talk Radio menggambarkan rating serta konflik sebagai komoditas, dengan dampak pada eksploitasi manusia, kesehatan mental, dan keselamatan penyiar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Talkshow atau acara bincang-bincang memang salah satu format hiburan yang umum dan terbukti disukai khalayak luas. Apalagi pada era emas televisi dan radio, rasanya kurang lengkap kalau perusahaan media tidak punya acara dalam format bincang-bincang interaktif. Bintang tamunya beragam dan jadi semacam variasi yang tak ada habisnya. Talkshow pun tak kehilangan peminat saat penonton beralih ke layanan streaming dan video on demand (VOD).

Beberapa acara talk show besar di kanal streaming pun menjamur. Sebut saja Chicken Shop Date yang digawangi Amelia Dimoldenberg dan Hot Ones bersama Sean Evans. Menariknya, format acara tersebut ternyata bisa menyimpan sesuatu yang tak pernah kita duga, lho. Salah satunya adalah kemampuan manusia dalam bersandiwara dan menutupi kemunafikannya.

Kalau gak percaya, coba tonton film-film berlatar talk show berikut dan bagikan pendapatmu.

1. Late Night with the Devil (2022)

Late Night with the Devil (dok. IFC Films/Late Night with the Devil)

Late Night with the Devil adalah film berformat mockumentary dan found footage yang mengikuti perjalanan di balik dan di depan layar sebuah acara talk show terkenal di Amerika Serikat. Jack Delroy adalah pembawa acara andalannya, seorang pria karismatik yang sayangnya baru kena masalah karena kematian ganjil istrinya. Hampir diboikot, Delroy dan produsernya berusaha meyakinkan stasiun televisi bahwa mereka masih relevan dengan mencoba pendekatan baru.

Pada malam Halloween 1977, mereka membuat segmen spesial horor dengan mengundang beberapa bintang tamu. Mulai dari paranormal, cenayang, kelompok skeptis, hingga bocah perempuan yang mengaku sering kerasukan sosok iblis. Berhasilkah Jack menarik simpati penonton lewat gimmick itu?

  • Genre: horor-supranatural, mockumentary

  • Pemain: David Dastmalchian, Fayssal Bazzi

  • Sutradara: Cameron Cairnes, Colin Cairnes

2. Woman of the Hour (2024)

Woman of the Hour (dok. Netflix/Woman of the Hour)

Lanjutkan petualangan sinematikmu dengan nonton Woman of the Hour yang dibintangi dan disutradarai oleh Anna Kendrick. Sang aktris memerankan Sheryl, seorang perempuan yang setelah gagal audisi berkali-kali memutuskan untuk mencari eksposur dengan menjadi peserta sebuah acara pencarian jodoh yang formatnya hampir seperti talk show.

Ada interaksi dua arah yang terjadi antara kontestan perempuan dan laki-laki, dengan pembawa acara sebagai moderatornya. Di sinilah, Sheryl kemudian tak sengaja berjodoh dengan salah satu kontestan yang ternyata buronan kasus pembunuhan berantai, Rodney Alcala. Film ini tak hanya menyorot interaksi menegangkan antara Alcala dan Sheryl yang hampir menjadi korban berikutnya. Namun, juga kultur seksisme dan misogini di industri hiburan.

  • Genre: thriller, true-crime

  • Pemain: Anna Kendrick, Daniel Zovatto

  • Sutradara: Anna Kendrick

3. Primetime (2026)

Primetime (dok. A24/Primetime)

Robert Pattinson didapuk untuk memerankan Chris Hansen, seorang presenter yang cukup kontroversial karena ambisinya saat menjadi pentolan sebuah acara talk show berjudul To Catch a Predator. Acara dan tokoh Hansen nyata, tetapi didramatisasi dalam film.

Hansen diceritakan sebagai sosok ambisius yang mencoba menaikkan rating acara dengan menjebak tersangka kejahatan dalam acaranya untuk akhirnya tertangkap basah oleh polisi yang sudah bersiap di lokasi. Ia mungkin dilihat sebagai pahlawan awalnya, tetapi pada akhirnya kita justru disuguhi berbagai penyimpangan dan kemunafikan dari intensi Hansen.

  • Genre: thriller-psikologi

  • Pemain: Robert Pattinson, Merritt Wever

  • Sutradara: Lance Oppenheim

4. Network (1976)

Network (dok. Criterion/Network)

Gak mau mengambil risiko dengan mencatut tokoh dan judul acara nyata, semua elemen dalam film Network adalah fiktif. Film bermula dari kemarahan dan rasa frustrasi Howard Beale, presenter acara televisi yang dianggap tak lagi relevan dan akan dipecat dalam waktu dekat.

Pada hari terakhirnya, Beale memutuskan untuk meluapkan amarahnya di depan layar dan mengaku akan melakukan aksi bunuh diri pada siaran langsung. Aksinya jelas bikin jajaran direksi geram, tetapi tak disangka, ancaman Beale justru bikin publik penasaran dan rating acara yang digawanginya naik drastis. Apalagi ketika ia akhirnya tak jadi melakukan aksi itu. Melihat itu, produser dan direksi perusahaan pun mencoba terus mengeksploitasi popularitas Beale demi profit.

  • Genre: drama, satire

  • Pemain: Peter Finch, Faye Dunaway

  • Sutradara: Sidney Lumet

5. Talk Radio (1988)

Talk Radio (dok. Cineplex Odeon Films/Talk Radio)

Pembawa acara talk show radio, Barry, berhasil meraih sukses lewat pendekatan nonkonvensionalnya. Acara Night Talk yang ia inisiasi berisi pandangan politik yang ternyata bikin pendengar geram untuk ikut berkomentar dan mendebatnya. Jadilah, acara ini makin panas dan seru tiap hari. Pendengar gak sabar menanti Barry dihujat dan diserang oleh penelepon yang bertentangan dengannya. Namun, di balik kesuksesan itu ada harga yang harus dibayar Barry, mulai dari kondisi mental sampai keselamatannya.

  • Genre: thriller-pskilogi

  • Pemain: Eric Bogosian, Alec Baldwin

  • Sutradara: Oliver Stone

Talk show memang menarik, seru, dan variatif. Selalu ada kejutan yang bikin penonton penasaran, tetapi di balik itu ada upaya dan kompetisi yang tak sehat untuk mendongkrak rating atau jumlah penonton. Apa pun akan dilakukan demi profit dan popularitas, sampai-sampai sandiwara dan kemunafikan jadi solusi. Film-film tadi juga jadi pengingat bahwa apa yang ada di internet dan televisi tidak selalu bisa kita percaya. Ini perlunya cek fakta dan kemampuan berpikir kritis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article