Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Film dengan Lakon Tone Deaf yang Bikin Geregetan
adegan dalam film Marie Antoinette (dok. Columbia Pictures/Marie Antoinette)
  • Lima film lintas genre menampilkan karakter tone deaf, dengan ketidakpekaan mereka menjadi sumber konflik, satire sosial, drama keluarga, hingga horor.
  • The Square, Force Majeure, dan The Squid and the Whale menyoroti tokoh yang mengutamakan gengsi, penyangkalan, atau superioritas dibanding perasaan orang terdekat.
  • Tone-Deaf membahas kebencian antargenerasi, sementara Marie Antoinette menggambarkan keterasingan hidup mewah di tengah memburuknya kondisi rakyat Prancis.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gak semua karakter film punya kepekaan untuk memahami situasi atau perasaan orang di sekitarnya. Ada yang terlalu sibuk mempertahankan gengsi, terjebak dalam dunianya sendiri, atau merasa pendapatnya selalu paling benar. Dalam konteks sosial, karakter-karakter seperti ini bisa dibilang cukup tone deaf.

Menariknya, sifat tersebut justru kerap menghasilkan konflik yang seru sekaligus bikin penonton jengkel sendiri. Mulai dari drama keluarga, satire sosial, hingga horor, karakter tone deaf bisa ditemukan dalam berbagai genre. Berikut lima film dengan lakon tone deaf yang siap bikin kamu geregetan!

1. The Square (2017)

adegan dalam film The Square (dok. Film i Väst/The Square)

Christian (Claes Bang) adalah kurator sukses di sebuah museum seni kontemporer di Stockholm yang tengah menyiapkan instalasi bertajuk The Square. Instalasi tersebut membawa gagasan tentang kepercayaan, kesetaraan, dan kewajiban manusia untuk saling membantu. Ironisnya, kehidupan pribadi Christian justru memperlihatkan bahwa ia sendiri belum tentu menjalankan nilai-nilai yang dipromosikannya.

Begitu barangnya dicuri, Christian langsung gegabah mencurigai orang-orang di sebuah apartemen kelas pekerja. Ia begitu sibuk mempertahankan harga diri hingga gagal menyadari dampak tindakannya terhadap orang-orang yang gak bersalah. Kontras antara citranya sebagai sosok progresif dan perilaku aslinya inilah yang bikin The Square menjadi satire sosial yang terasa begitu getir sekaligus lucu.

2. Force Majeure (2014)

adegan dalam film Force Majeure (dok. Film i Väst/Force Majeure)

Liburan keluarga Tomas (Johannes Kuhnke) di pegunungan Alpen berubah setelah sebuah longsoran salju tampak mengarah ke tempat mereka makan. Dalam kepanikan, Tomas justru meninggalkan istri dan kedua anaknya untuk menyelamatkan diri. Meski semua orang melihat kejadian tersebut, ia kemudian bersikeras bahwa dirinya gak melakukan hal itu.

Di sinilah sifat tone deaf Tomas mulai benar-benar terlihat. Ia lebih fokus menyangkal kenyataan dan menjaga harga dirinya daripada memahami kekecewaan serta perasaan keluarganya. Semakin Tomas berusaha membela diri, makin canggung pula situasi yang tercipta dalam film garapan Ruben Östlund ini.

3. The Squid and the Whale (2005)

adegan dalam film The Squid and the Whale (dok. Samuel Goldwyn Films/The Squid and the Whale)

Film ini berfokus pada keluarga Berkman yang berantakan setelah Bernard (Jeff Daniels) dan Joan (Laura Linney) memutuskan untuk berpisah. Di tengah konflik tersebut, kedua putra mereka harus menghadapi masalah keluarga yang semakin rumit. Namun, Bernard justru sering menjadi pusat persoalan karena ego dan sikap superiornya.

Sebagai seorang akademisi dan mantan penulis sukses, Bernard merasa memiliki pandangan yang lebih baik daripada orang-orang di sekitarnya. Ia bahkan tanpa sadar menularkan sikap sombong tersebut kepada putranya, Walt (Jesse Eisenberg). The Squid and the Whale pun menarik karena memperlihatkan bagaimana orang yang merasa paling pintar justru bisa sangat gak peka terhadap perasaan keluarganya sendiri.

4. Tone-Deaf (2019)

adegan dalam film Tone-Deaf (dok. Saban Films/Tone-Deaf)

Sesuai judulnya, Tone-Deaf menjadikan ketidakpekaan sosial sebagai bagian penting dari konfliknya. Ceritanya dimulai saat Olive (Amanda Crew), yang sedang stres karena dipecat dan diterpa masalah pribadi, memutuskan untuk menyendiri di sebuah rumah sewaan yang terpencil. Di sana, ia bertemu Harvey (Robert Patrick), pria tua yang menyimpan kebencian besar terhadap generasi muda.

Bagi Harvey, anak muda zaman sekarang, terutama kaum milenial, adalah biang kerok berbagai masalah. Ia pun sama sekali gak tertarik mendengarkan sudut pandang mereka. Perpaduan komedi gelap dan horor yang diusungnya bikin Tone-Deaf cukup unik, meski memang gak cocok untuk semua orang.

5. Marie Antoinette (2006)

adegan dalam film Marie Antoinette (dok. Columbia Pictures/Marie Antoinette)

Sofia Coppola mengisahkan Marie Antoinette (Kirsten Dunst) sebagai seorang perempuan muda yang terjebak dalam kehidupan mewah Istana Versailles. Sejak usia remaja, ia harus meninggalkan rumah dan menjalani pernikahan politik dengan Louis XVI (Jason Schwartzman). Kesepian dan tekanan hidup kemudian membuat Marie mencari pelarian melalui pesta, pakaian, serta berbagai kemewahan.

Masalahnya, kehidupan Marie yang penuh kemewahan berlangsung ketika kondisi rakyat Prancis semakin memburuk. Ia begitu terisolasi di balik tembok Versailles hingga tampak jauh dari realitas yang terjadi di luar sana. Namun, alih-alih sekadar menjadikannya sosok yang mudah dibenci, Marie Antoinette juga memperlihatkan bagaimana lingkungan tempatnya hidup ikut membentuk ketidakpekaan tersebut.

Karakter tone deaf memang sering kali menyebalkan karena mereka seperti gak pernah menyadari kesalahan sendiri. Namun, dari situlah konflik dan satire dalam berbagai film ini justru berkembang dengan menarik. Jadi, dari lima karakter di atas, siapa yang menurutmu paling gak bisa membaca situasi?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article