Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
7 Film Feminis Hiper-Realistis, Butuh Kesiapan Mental untuk Nonton
Alice Doesn't Live Here Anymore (dok. Criterion/Alice Doesn't Live Here Anymore)
  • Tujuh film feminis hiper-realistis ini menyoroti perjuangan perempuan menghadapi patriarki melalui kisah nyata dan emosional tanpa romantisasi, dari era 1970-an hingga 2010-an.
  • Setiap film menggambarkan perjalanan perempuan menemukan jati diri, kebebasan, dan kekuatan setelah menghadapi kehilangan, kesepian, atau tekanan sosial yang membatasi mereka.
  • Dengan pendekatan realistis dan karakter kompleks, film-film ini mengajak penonton memahami bahwa kebebasan perempuan sering kali masih terhalang oleh sistem patriarki yang mengakar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sebagai salah satu ideologi yang menantang status quo, feminisme memang kerap membuat orang tak nyaman. Terutama yang diuntungkan oleh sistem patriarki yang dominan dan berlaku saat ini. Jadi, sebenarnya gak heran kalau film-film berlabel feminis itu kadang terasa mengganggu.

Apalagi kalau pendekatannya hiper-realistis bukan analogis atau hiperbola. Seperti ketujuh film berikut, relevansinya begitu nyata dan dekat dengan masalah perempuan sehari-hari. Tonton dan buktikan, tapi pastikan kamu sudah siap mental, ya!

1. Alice Doesn’t Live Here Anymore (1974)

Alice Doesn't Live Here Anymore (dok. Criterion/Alice Doesn't Live Here Anymore)

Genrenya romcom dan jadi salah satu film paling terlupakan yang pernah dibuat Martin Scorsese sepanjang kariernya. Alice Hyatt adalah nyawa utama film ini, seorang istri dan ibu yang dikejutkan oleh kematian mendadak suaminya. Namun, tragedi itu ternyata jadi momen liberasi buatnya.

Alice memutuskan untuk menjual barang-barangnya dan pindah ke kota baru bersama putranya yang berusia 12 tahun. Tujuannya adalah untuk menghidupkan kembali mimpi-mimpinya yang terkubur setelah menikah. Perjalanan Alice tidak mudah ala film-film Hollywood biasa, tetapi justru elemen realistiknya yang diapresiasi penonton.

  • Genre: drama, romcom

  • Pemain: Ellen Burstyn, Alfred Lutter

  • Sutradara: Martin Scorsese

2. An Unmarried Woman (1978)

An Unmarried Woman (dok. Criterion/An Unmarried Woman)

An Unmarried Woman adalah film feminis hiper-realistis yang berlakonkan Erica, perempuan karier yang diselingkuhi suaminya. Erica memang terpukul ketika perceraian terjadi, tetapi seiring berjalannya waktu, Erica justru menemukan kenyamanan dengan status lajangnya. Pengalaman masa lalu membuatnya lebih berhati-hati dan cerdik ketika ada pria yang mulai mendekatinya. Banyak momen yang bikin kamu khawatir, tetapi semua kaya akan pesan pemberdayaan.

  • Genre: drama, romance

  • Pemain: Jill Clayburgh, Alan Bates

  • Sutradara: Paul Mazursky

3. Wanda (1970)

Wanda (dok. Criterion/Wanda)

Disutradarai dan diperankan sendiri oleh Barbara Loden, Wanda adalah tokoh fiktif yang mungkin mengingatkanmu pada seseorang atau dirimu sendiri. Ia adalah perempuan yang memutuskan untuk meninggalkan suaminya karena hubungan mereka sudah tak sehat lagi.

Bersama dengan itu, ia kehilangan hak asuh atas anaknya dan menemukan dirinya sendirian untuk pertama kali setelah sekian lama. Wanda sempat terseok-seok karena tak punya pekerjaan tetap dan cukup uang untuk menyewa hunian. Kondisi sulit ini mengantarnya bertemu dengan sejumlah orang yang ternyata tak selalu bisa dipercaya.

  • Genre: drama

  • Pemain: Barbara Loden, Michael Higgins

  • Sutradara: Barbara Loden

4. Tully (2018)

Tully (dok. Focus Features/Tully)

Tully tak kalah mengganggu. Kita akan berkenalan dengan Marlo, perempuan 30-an yang baru saja melahirkan anak ketiganya dan kewalahan mengasuh mereka. Parahnya, sang suami tidak banyak membantu dan memaksanya untuk merekrut bantuan eksternal.

Seorang pengasuh anak bernama Tully datang ke hidupnya dan meringankan beban Marlo. Namun, seiring bergulirnya film, Tully ternyata bukan seperti yang kita kira. Bukan thriller, bukan horor, Tully adalah psikodrama yang membedah sindrom pascamelahirkan dengan cara unik dan nampol.

  • Genre: psikodrama

  • Pemain: Charlize Theron, Mackenzie Davis

  • Sutradara: Jason Reitman

5. Losing Ground (1982)

Losing Ground (dok. BFI/Losing Ground)

Dijuluki sebagai film Amerika Serikat pertama yang ditulis oleh perempuan kulit hitam, Losing Ground adalah sebuah karya semibiografi Kathleen Collins. Premisnya tentang Sara, seorang akademisi yang menikahi seniman bernama Victor. Perlahan, prioritas dan kepentingan mereka berseberangan, menciptakan sebuah jurang dalam hubungan itu.

Sara awalnya masih bersikeras mempertahankan hubungan itu, terlepas dari upaya suaminya yang hampir nol. Namun, sebuah tawaran kerja membuat Sara mengicipi liberasi yang sesungguhnya dan semua berubah. Tidak bombastis dan mendadak, perpecahan Sara dan Victor dipotret dengan saksama dan realistis.

  • Genre: drama

  • Pemain: Bill Gunn, Seret Scott

  • Sutradara: Kathleen Collins

6. May (2002)

May (dok. 2 Loop Productions/May)

May adalah seorang perempuan yang sejak kecil dicap aneh karena kondisi matanya. Pada usia 20-an, May bekerja sebagai asisten dokter hewan dan mulai menemukan orang-orang satu frekuensi. Namun, pada fase ini pula, dampak dari kesepian mendalam yang dirasakan May muncul dan termanifestasi secara nyata.

Film ini secara tersirat mengkritik banyak hal soal patriarki, seperti standar kecantikan yang tak wajar, objektifikasi terhadap perempuan, sampai stigma yang melekat pada psikis perempuan.

  • Genre: horor, thriller

  • Pemain: Angela Bettis, Jeremy Sisto

  • Sutradara: Lucky McKee

7. Working Girls (1986)

Working Girls (dok. Criterion/Working Girls)

Working Girls berlatarkan sebuah rumah bordil di New York, tempat salah satu lakon film bekerja tiap malam setelah pulang kuliah. Ia mengambil pekerjaan ini demi bisa menyewa hunian sendiri bareng kekasihnya. Namun, ternyata menjadi pekerja seks tidak semudah yang dibayangkan.

Mereka bekerja tanpa ikatan kontrak yang jelas, rawan dieksploitasi, berisiko mendapat perlakuan kasar dari klien, harus memikirkan sendiri mitigasi risiko dari penyakit menular, dan masih banyak lainnya. Lebih menampar lagi, kebanyakan pekerja di rumah bordil itu datang dari kelompok marjinal, seperti kaum LGBTQ+ dan imigran.

  • Genre: drama

  • Pemain: Marusia Zach, Ellen McElduff

  • Sutradara: Lizzie Borden

Tanpa latar estetik dan romantisasi hidup, kamu benar-benar diajak menghadapi realitas di film-film feminis tadi. Mereka seolah mengingatkanmu bahwa kebebasan itu terkadang hanya ilusi, apalagi untuk perempuan di tengah dominasi sistem patriarki. Sudah nonton film-film feminis hiper-realistis di atas?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article