Kenapa Film The Odyssey Karya Christopher Nolan Menuai Kontroversi?

- Film The Odyssey karya Christopher Nolan menuai pujian kritikus namun juga kontroversi karena pemilihan pemeran, terutama Lupita Nyong'o sebagai Helen dari Troya yang memicu tuduhan wokeisme dan kritik rasis.
- Lokasi syuting di Sahara Barat menimbulkan kecaman politik karena wilayah tersebut berstatus sengketa, membuat Nolan dianggap mendukung pendudukan militer Maroko terhadap rakyat Sahrawi.
- Nolan dikritik karena penggunaan bahasa Inggris beraksen Amerika serta kostum dan kapal yang dinilai tidak akurat secara historis, meski ia berdalih demi alasan artistik dan interpretasi modern.
Adaptasi Christopher Nolan yang sudah lama ditunggu-tunggu dari Odyssey, puisi Yunani Kuno yang dikaitkan dengan Homer, sudah tayang di bioskop Indonesia pada Rabu (15/07/2026). Menariknya, Nolan dan timnya di Universal Pictures hanya mengundang anggota pers yang menonton film ini lebih awal di World Premiere di London, Inggris, dan mengesampingkan para influencer. Itu berarti, reaksi pertama ini berasal dari para profesional.
Nah, di antara mereka ada Erik Davis dari Fandango dan Rotten Tomatoes. Ia menulis di X. "The Odyssey adalah kemenangan mutlak dan pencapaian sinematik dari salah satu pembuat film hebat di zaman kita."
Davis juga bilang kalau Nolan merangkul beberapa unsur horor dan menghadirkan para pemain yang bertabur bintang. Ia pun memberi pujian untuk akting Anne Hathaway dan Robert Pattinson, yang memerankan istri Odysseus, Penelope, dan penjahat Antinous, yang mencoba merayu Penelope saat Odysseus gak ada.
Nah, meskipun menerima pujian dari para kritikus film di berbagai media, The Odyssey juga mengundang komentar yang kontroversial. Penasaran, kan? Apa saja, ya?
1. Salah satu pemeran The Odyssey, Lupita Nyong'o, menghadapi kecaman rasis karena berperan sebagai Helen dari Troya

Film The Odyssey karya Christopher Nolan kini tengah menjadi sasaran kritik pedas, karena alasan yang bisa dibilang cukup unik. Yap, pemilihan Matt Damon (Odysseus), Anne Hathaway (Penelope), Tom Holland (Telemachus), Robert Pattinson (Antinous), dan Zendaya (Athena) dianggap menyimpang dari kisahnya karena seharusnya dibintangi oleh aktor Yunani asli. Namun, ada satu pemeran yang menjadi sasaran utama dari kritikan tersebut. Dia adalah Lupita Nyong'o.
Banyak kritikus terkejut ketika Christopher Nolan mengumumkan bahwa filmnya akan dibintangi oleh Lupita Nyong'o. Ia pun harus menghadapi tuduhan wokeisme atau woke culture (tuduhan rasisme, seksisme, dan diskriminasi) karena memilih Lupita Nyong'o yang berperan ganda sebagai Helen dari Troya dan saudara tirinya, Clytemnestra. Homer memang tidak memberikan penjelasan rinci tentang Helen di Odyssey, tetapi ia menggambarkannya sebagai perempuan “berambut indah” dan “berlengan putih".
Namun, Nyong'o sendiri menanggapi kritikan itu secara berkelas. Saat diwawancarai oleh Elle Magazine tentang pengalamannya di The Odyssey, ia menanggapi reaksi negatif terhadap pemilihan dirinya dengan bilang, "Ini adalah kisah mitologi. Aku sangat mendukung niat Christopher Nolan dan versi cerita yang dia sampaikan. Aku gak akan membela diri. Kritik akan tetap ada, meskipun aku menanggapinya atau tidak.”
Gak hanya itu, Elon Musk bahkan menyayangkan pemilihan Lupita Nyong'o dengan berkomentar lewat akun X-nya. Ia menulis, "Chris Nolan telah kehilangan integritasnya."
2. Pemilihan lokasi syuting The Odyssey di Sahara Barat menuai kecaman

The Odyssey menjalani syuting di berbagai lokasi di seluruh dunia. Syuting dilakukan di Aït Benhaddou, Maroko, dan berbagai lokasi di sekitar Yunani. Beberapa adegan juga difilmkan di Sisilia, Malta, Skotlandia, dan Islandia. Yap, agaknya Nolan mau mengunjungi kembali lokasi asli Mediterania tempat puisi epik Odyssey berlangsung.
Namun, menurut laporan Deadline, salah satu lokasi syuting The Odyssey yang dipilih Christopher Nolan justru bermasalah secara politis atau bersengketa. Zendaya dan Matt Damon mengambil beberapa adegan di wilayah Sahara Barat dekat kota Dakhla. Usut punya usut, wilayah ini dinyatakan sebagai "wilayah yang tidak berpemerintahan" oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa, sebutan yang diberikan sejak 1963.
Sahara Barat diduduki secara militer oleh Maroko, tetapi Maroko belum diakui secara internasional sebagai penguasa yang sah di wilayah tersebut. Artinya, penduduk asli Sahrawi sedang ditindas di wilayah tersebut.
Namun, belum lama ini, Amerika Serikat dan Inggris mengklaim bahwa Sahara Barat adalah bagian dari Maroko. Studio film besar AS dan Inggris bahkan telah bernegosiasi dengan pemerintah Maroko untuk melakukan syuting di sana. Hal ini menimbulkan kontroversi dan persetujuan diam-diam terhadap pendudukan Maroko di wilayah tersebut. Nah, dengan syuting The Odyssey di Sahara Barat, tanpa disadari, Christopher Nolan dianggap memberi dukungan terhadap pendudukan militer serta penindasan dan penghapusan keberadaan rakyat Sahrawi di wilayah tersebut.
Dewan Festival Film Internasional Sahara Barat (atau FiSahara), mengeluarkan pernyataan tentang masalah ini: "Dakhla bukan hanya lokasi yang indah dengan bukit pasir yang sinematik. Terutama, ini adalah kota yang diduduki dan dimiliterisasi. Penduduk asli Sahrawinya mengalami penindasan brutal oleh pasukan Maroko yang menduduki wilayah tersebut. Dengan memfilmkan sebagian dari The Odyssey di wilayah yang diduduki yang disebut sebagai 'lubang hitam berita' oleh Reporters Without Borders, Nolan dan timnya, mungkin tanpa disadari dan tanpa keinginan, berkontribusi pada penindasan terhadap rakyat Sahrawi oleh Maroko."
3. Christopher Nolan memilih bahasa dan aksen yang modern

Faktanya, dilansir University of Kerala, bahasa Inggris baru muncul sekitar tahun 450 M, sementara Odyssey karya Homer berasal dari abad ke-8 SM. Puisi tersebut lebih tua daripada bahasa Inggris yang kita kenal sekarang. Namun, Christopher Nolan justru meminta aktornya untuk menggunakan bahasa Inggris dengan aksen Amerika. Padahal, ia bisa saja meminta para aktornya untuk belajar bicara dalam dialek Yunani Kuno dan menayangkan filmnya dengan teks terjemahan.
Yap, banyak alasan kenapa Christopher Nolan memilih menggunakan bahasa Inggris. Pertama, jika Nolan menyewa aktor Yunani untuk mengucapkan dialog film dalam bahasa Yunani modern, hal itu bisa kembali menjadi perdebatan karena masalah anakronisme, karena bahasa Yunani Kuno berbeda dengan versi yang digunakan saat ini. Belum lagi, sebagian besar aktor Yunani gak menerima perhatian yang sama seperti bintang Hollywood layaknya Matt Damon dan Anne Hathaway.
Bahkan jika Christopher Nolan meminta para aktornya untuk berbicara dalam bahasa Yunani dengan suara mereka sendiri, hal itu justru akan mengganggu, mengingat aktor-aktornya berasal dari Amerika dan Inggris yang gak paham betul bahasa Yunani. Jadi, sebagai gantinya, Nolan memilih memakai aksen Amerika, yang sebenarnya juga bukan masalah besar. Lagi pula, setiap versi Odyssey yang ada saat ini juga merupakan terjemahan, kan?
Namun, satu hal yang menjadi perdebatan besar terkait hal ini adalah naskah yang dibuat seperti pada zaman modern. Kalimat "pining for a daddy" gak terdengar seperti puisi kuno. Kedengarannya malah seperti istilah gaul yang ditulis pada 2020-an. Begitu juga dengan adegan Matt Damon ketika berteriak "Let's go" dalam trailernya. Terdengar seperti film action modern.
Masalah bahasa dalam The Odyssey sebenarnya bukan masalah baru. Hal ini sering menjadi perbincangan yang belum bisa dipecahkan oleh dunia perfilman. Kamu mungkin pernah menonton film-film yang karakter Romawi Kuno-nya berbicara dengan aksen Inggris, yang seharusnya berbicara bahasa Latin.
4. Kostum yang dipakai pemerannya dianggap gak sesuai zamannya

Dilansir Britannica, sejarawan dan penggemar karya Homer menilai pilihan kostumnya terlalu menyimpang secara visual. Mereka mempermasalahkan desain kostum dan produksi dalam The Odyssey.
Odysseus memakai kostum Spartan dengan helm berbulu dan jubah merah. Ini dikritik karena tidak akurat pada masanya dan tidak sesuai dengan materi sumbernya. Di dalam Iliad, Homer menggambarkan helm Odysseus yang terbuat dari kulit dan gading taring babi hutan. Sementara itu, baju zirah hitam matte dan helm yang dikenakan oleh Agamemnon (diperankan Benny Safdie), raja Mycenae, lebih mirip kostum modern.
Saat diwawancarai TIME terkait hal tersebut, Christopher Nolan bilang kalau pengetahuan kita tentang sejarah, terutama Zaman Perunggu, berasal dari catatan arkeologi yang terpisah-pisah. Menurutnya, itu gak sepenuhnya akurat. Dia pun punya alasan kenapa baju zirah besi berwarna hitam yang dipakai Agamemnon dibuat sesuai zamannya. “Ada belati asli Mycenaean yang terbuat dari perunggu berwarna hitam,” jelasnya. “Itu berarti, mereka mungkin menghitamkan perunggu pada masa itu.”
5. Penggunaan kapal layar yang mirip kapal panjang Viking

Selain kostum, sejarawan juga mempermasalahkan kapal besar yang digunakan Odysseus dan anak buahnya saat berlayar. Banyak yang bilang kalau kapalnya mirip dengan kapal panjang Viking (Draken Harald Hårfagre). Padahal, The Odyssey berlatar sekitar 1.200 SM, sedangkan kapal panjang Viking baru muncul sekitar tahun 800 M. Kritikus berpendapat bahwa sutradara lebih mengedepankan aspek artistik dan kemegahan visual dibandingkan dengan representasi historis yang akurat tentang zaman Yunani Kuno.
Christopher Nolan sendiri mengakui kapal itu memang kapal Viking yang ditemukan timnya di Norwegia. “Kami membutuhkan sesuatu yang berlambung kayu, dibangun dengan teknologi kuno yang dapat berada di perairan laut terbuka, dalam gelombang besar, dan Draken telah melintasi Atlantik," ungkap Nolan kepada The Los Angeles Times. “Para aktor belajar cara berlayar dan mendayung serta 26 awak kapal berpakaian tambahan dan dimasukkan ke dalam film.”
Kenapa film The Odyssey diperdebatkan secara berlebihan?

The Odyssey yang digarap Christopher Nolan menuai banyak pendapat yang kontroversial, terutama tentang bagaimana mitologi Yunani diadaptasi ke layar lebar—meskipun beberapa di antaranya hanya punya sedikit pengetahuan tentang materi sumbernya. Misalnya, masyarakat pada umumnya keliru kalau Iliad dan Odyssey adalah dua puisi epik yang menggambarkan peristiwa nyata, tetapi sebenarnya ada bumbu-bumbu fiksi. Di sisi lain, sebagian peneliti meragukan bahwa individu bernama Homer ini belum tentu menulis puisi-puisi tersebut.
Dilansir National Geographic, kebanyakan pakar modern meyakini bahwa epos tersebut gak ditulis oleh satu orang, melainkan kumpulan cerita rakyat yang diwariskan turun-temurun oleh penyair Yunani sebelum disatukan menjadi teks tertulis. Apalagi, gak ada catatan pasti atau biografi tentang sosok bernama Homeros (Homer). Banyak yang menganggap Homeros bukanlah tokoh nyata, melainkan julukan kelompok penyair atau simbol dari budaya penceritaan.
Kini, Christopher Nolan menjadi sasaran kritik atas film The Odyssey. Namun, gak ada salahnya menonton filmnya terlebih dahulu sebelum menolaknya, ya, kan? Meskipun kontroversi ini menyebar ke dunia nyata, dan bikin kamu kesal karena terlalu digembar-gemborkan. Intinya, film The Odyssey layak kamu tonton. Jika kamu pencinta sejarah, pasti kamu punya pendapat sendiri tentang film ini.






















