5 Film Horor Era 2000-an yang Dulu Dibenci, tapi Kini Dicintai

- Thir13en Ghosts (2001)
- Dihujat habis-habisan karena penyuntingannya yang dianggap berisik dan berantakan
- Kini dipuji desain produksi rumah kacanya yang ikonis dan detail makeup para hantunya
- Layak dapat sekuel menurut penonton masa kini
- Session 9 (2001)
- Gagal total di pasaran karena alurnya lambat, namun dianggap pionir horor psikologis modern
- Lokasi pengambilan gambar menggunakan bangunan asli rumah sakit jiwa yang memberikan aura mistis
- Sekarang dinobatkan sebagai cult classic
Pernah gak, sih, kamu ngerasa heran kenapa film yang dulu dihujat habis-habisan, sekarang malah dipuja-puja? Fenomena “benci jadi cinta” ini sering menimpa film-film horor era 2000-an yang dulu dicap gagal total karena terlalu eksperimental atau dinilai cuma mengandalkan adegan sadis. Padahal, kalau ditonton ulang hari ini, banyak dari film tersebut justru punya estetika unik yang sulit ditemukan di horor modern.
Yap, rasanya seru melihat bagaimana waktu bisa mengubah status film dari “sampah sinema” menjadi cult classic dengan basis penggemar militan. Buat kamu yang ingin bernostalgia atau mencari tontonan pemacu adrenalin, yuk, intip lima film horor era 2000-an yang dulu diremehkan ini. Siap-siap jatuh cinta pada pandangan kedua!
1. Thir13en Ghosts (2001)

Generasi MTV pasti familier dengan film horor supernatural era 2000-an yang satu ini. Ketika dirilis 24 tahun silam, Thir13en Ghosts dihujat habis-habisan oleh kritikus karena gaya penyuntingannya yang dianggap terlalu berisik, berantakan, dan bikin sakit mata. Bahkan, kritikus legendaris Roger Ebert sempat memasukkan remake film berjudul sama tahun 1960 ini ke dalam daftar film paling ia benci sepanjang masa.
Plotnya berfokus pada Arthur Kriticos (Tony Shalhoub) dan dua anaknya yang baru saja kehilangan rumah serta sosok ibu dalam insiden kebakaran. Keberuntungan seolah datang saat ia mewarisi rumah kaca futuristik milik pamannya yang eksentrik, Cyrus Kriticos (F. Murray Abraham). Namun, mereka gak sadar bahwa rumah tersebut sebenarnya adalah mesin raksasa yang dirancang untuk mengurung 12 hantu mengerikan koleksi sang paman.
Kini, Thir13en Ghosts gak lagi dipandang sebagai sampah sinema. Penonton masa kini justru memuji desain produksi rumah kacanya yang terlihat sangat ikonis dan visioner pada masanya. Belum lagi detail makeup serta backstory para hantu yang luar biasa menyeramkan dan membekas di ingatan hingga sekarang. Kamu setuju, gak, kalau film ini layak dapat sekuel?
2. Session 9 (2001)

Masih dari tahun yang sama dengan Thir13en Ghosts, Session 9 awalnya harus menelan pil pahit karena gagal total di pasaran. Pasalnya, penonton yang datang ke bioskop karena mengharapkan banyak jump scare, justru merasa bosan dengan alurnya yang sangat lambat. Namun, seiring berjalannya waktu, film ini justru dianggap sebagai pionir dalam horor psikologis modern.
Untuk kamu yang belum tahu, Session 9 menyoroti sekelompok pekerja pembersih asbes di Rumah Sakit Jiwa Danvers yang sudah lama terbengkalai. Ketegangan mulai memuncak saat salah satu pekerja menemukan sembilan kaset rekaman sesi terapi seorang pasien berkepribadian ganda. Gak ada hantu yang menampakkan diri, di sini, kamu bakal diajak menyaksikan bagaimana satu per satu dari mereka kehilangan akal sehat.
Keunikan utama Session 9 terletak pada lokasinya yang menggunakan bangunan asli rumah sakit jiwa yang kini sudah rata dengan tanah. Suasana gedung yang membusuk secara alami memberikan aura mistis yang mustahil bisa ditiru oleh set studio manapun. Ditambah atmosfer klaustrofobik dan desain suara yang mengganggu, gak heran jika film horor ini sekarang dinobatkan sebagai cult classic.
3. House of 1000 Corpses (2003)

Saat remake film horor Jepang lagi menjamur di awal 2000-an, House of 1000 Corpses mencoba melawan arus dengan nuansa grindhouse yang kotor dan penuh darah. Sayang, film karya Rob Zombie ini langsung dihujani kritik pedas karena dianggap hanya menonjolkan kekerasan tanpa alur cerita yang jelas. Film ini bahkan sempat "dibuang" oleh Universal Pictures sebelum akhirnya diambil alih rilis oleh Lionsgate.
House of 1000 Corpses mengikuti pencarian sekelompok remaja terhadap legenda lokal tentang pembunuh berantai di pedalaman Texas pada tahun 1977. Sialnya, pencarian mereka justru berakhir di tangan keluarga Firefly. Bukan keluarga biasa, mereka adalah klan sadis dan kanibalistik yang dipimpin oleh badut bermulut kotor bernama Captain Spaulding.
Karakter Captain Spaulding kini telah naik kelas menjadi ikon horor modern yang sangat dihormati oleh para gorehound. Meski dulu dianggap sebagai tiruan murahan dari The Texas Chain Saw Massacre (1974), gaya estetika grindhouse-nya terbukti punya identitas yang sangat kuat. Kesuksesan sekuelnya, The Devil's Rejects (2005), pun kian memaksa banyak orang untuk melirik kembali House of 1000 Corpses sebagai sebuah hasil eksperimen yang brilian.
4. Stay Alive (2006)

Bahkan konsep segar berupa video game berhantu yang dibawa film horor Disney ini pun gak luput dari cibiran kritikus kala itu. Saat dirilis tahun 2006, Stay Alive dianggap konyol karena logika permainannya yang berantakan serta akting yang dinilai memalukan. Apalagi, akibat pemangkasan rating menjadi PG-13, banyak adegan sadis yang seharusnya jadi jualan utama justru berakhir hambar.
Kini, Stay Alive menjelma jadi cult classic karena dinilai berhasil menangkap serunya sensasi mabar game horor bareng teman. Visualnya yang ikonis juga menjadi kapsul waktu bagi tren teknologi dan gaya berpakaian ala tahun 2000-an yang kini digemari kembali. Versi unrated yang lebih berdarah-darah pun turut berhasil menebus kekecewaan penonton terhadap versi bioskopnya yang dianggap terlalu sopan.
Premisnya sendiri mengikuti sekelompok sahabat yang memainkan game survival horror misterius berjudul Stay Alive. Sialnya, nyawa mereka terancam karena siapa pun yang tewas di dalam game akan meregang nyawa dengan cara serupa di dunia nyata. Sosok di balik kutukan ini adalah Elizabeth Bathory, sang "Blood Countess" haus darah yang bangkit lewat kode digital untuk memburu para pemain. Tertantang buat rewatch?
5. Trick 'r Treat (2007)

Jika kamu menanyakan soal Trick 'r Treat ke semua pencinta horor di tahun 2007, mungkin mereka hanya akan mengernyitkan dahi. Namun, kalau kamu menanyakannya sekarang, mustahil banyak yang meremehkan film garapan Michael Dougherty ini. Kekuatan narasinya membuat Trick 'r Treat kini dinobatkan sebagai salah satu film antologi horor terbaik sepanjang masa sekaligus tontonan wajib saat Halloween tiba.
Film ini merangkai lima kisah mengerikan yang saling beririsan di sebuah kota kecil saat malam Halloween. Kamu akan bertemu dengan kepala sekolah yang ternyata pembunuh berantai, sekumpulan remaja yang melakukan prank berbahaya, hingga gadis-gadis yang menyimpan rahasia mengerikan. Benang merah dari semua kekacauan ini adalah Sam, iblis cilik bertopeng karung goni yang bertugas memastikan semua orang mematuhi aturan sakral malam Halloween.
Nasib Trick 'r Treat awalnya cukup ngenes karena sempat tertahan selama dua tahun oleh Warner Bros. sebelum akhirnya dilempar langsung ke format DVD. Gara-gara ini, banyak yang memandangnya sebelah mata sebagai film kelas B yang murahan. Padahal, keputusan studio tersebut murni karena masalah distribusi, bukan karena kualitas cerita yang buruk seperti yang sempat dipikirkan orang-orang.
Terbukti, kan, kalau standar “bagus” itu relatif, dan kadang sebuah karya cuma butuh waktu untuk menemukan penonton yang tepat. Nah, dari kelima daftar di atas, film mana, nih, yang dulu sempat kamu skip karena dibilang jelek, tapi sekarang malah bikin penasaran?


















