Film Laut Becerita Relevan Hingga Kini, Reza Rahadian: Masih Ada Kamisan

Reza Rahadian menilai Laut Bercerita dapat menjadi jembatan bagi generasi yang tidak mengalami Reformasi 1998 untuk mengenal dan menelusuri sejarah lebih dalam.
Film ini tidak hanya mengangkat politik, tetapi juga keluarga, persahabatan, kehilangan, serta harapan keluarga yang masih menanti kepastian tentang orang terkasih.
Menurut Reza, isu kebebasan berpendapat dan penyempitan ruang sipil dalam film tetap relevan, sehingga generasi muda didorong berpikir kritis dan menyuarakan keyakinannya.
Jakarta, IDN Times - Tidak semua orang yang tahu peristiwa Reformasi 1998 mengalaminya secara langsung. Aktor Reza Rahadian salah satunya. Saat berbagi peristiwa besar pada masa itu terjadi, ia masih berusia sekitar 12 tahun.
Kini, Reza dipercaya untuk merawat ingatan orang-orang tentang masa itu lewat perannya sebagai Biru Laut dalam film panjang Laut Bercerita. Film garapan sutradara Yosep Anggi Noen yang diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori ini membuat Reza menyelami bagaimana anak muda kala itu bergerak dan memperjuangkan sesuatu yang mereka yakini.
Dalam wawancara “Real Talk with Uni Lubis” yang dibagikan melalui kanal YouTube IDN Times, Senin (5/10/2026), Reza membahas alasan kenapa Laut Bercerita tetap penting bagi generasi yang tidak mengalami langsung peristiwa 1998. Mulai dari menjadi jembatan untuk mengenal sejarah hingga mengingatkan masyarakat tentang isu-isu yang masih relevan sampai sekarang, berikut penjelasannya.
1. Gak mengalami 1998, bukan berarti gak punya hubungan dengan sejarah

Reza Rahadian dalam program wawancara Real Talk with Uni Lubis (IDN Times/Mikho Fridolin Siahaan) Bagi generasi yang lahir setelah 1998, reformasi mungkin hanya dikenal sebagai bagian dari sejarah yang dipelajari di sekolah. Namun, bukan berarti tidak punya relevansi apa pun. Menurut Reza, Laut Bercerita bisa memunculkan ketertarikan untuk mempelajari catatan sejarah tersebut lebih jauh.
“Justru karena tidak mengalami era itu, mungkin ada yang belum lahir atau masih kecil, sehingga ada ketertarikan untuk tahu sejarah yang rasanya paling dekat dari sisi mereka, tapi sejarah yang besar,” kata sang aktor.
Reza berharap Laut Bercerita dapat menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk memahami peristiwa 1998 lebih dalam. Setelah menonton film yang mengangkat kisah Biru Laut dan kawan-kawannya itu, penonton mungkin akan tertarik melanjutkan penelusuran sejarah melalui berbagai sumber.
“Laut mungkin bisa menjadi jembatan mereka untuk menggali lebih dalam, baru kemudian membaca bukunya. Jadi nonton dulu filmnya,” lanjut sang aktor.
2. Bukan sekadar film politik, tetapi juga tentang kehilangan dan merawat ingatan

cuplikan wawancara Reza Rahadian di Real Talk with Uni Lubis (YouTube.com/IDN Times) Meski berlatar situasi politik jelang Reformasi 1998, Reza Rahadian menilai Laut Bercerita bukan semata-mata film politik. Baginya, film ini juga mengangkat kisah yang lebih dalam lagi tentang keluarga, persahabatan, percintaan, kehilangan, serta harapan. Dan salah satu hal yang paling ia highlight adalah soal keluarga yang masih menanti kepulangan orang-orang terkasih yang hilang puluhan tahun lalu.
“Sebenarnya justru bukan pesan politik, tapi pesan tentang bagaimana kita merawat ingatan dan merawat harapan, karena film ini juga mengandung unsur harapan yang sangat tinggi. Harapan tentang seorang anak yang diharapkan pulang, keluarga yang masih menanti,” kata Reza.
Ia kemudian menegaskan, Laut Bercerita tidak hadir untuk menutup lembaran sejarah tersebut, melainkan mengingatkan masyarakat bahwa masih ada keluarga yang menanti kepastian, bahkan hingga kini.
“Relevansinya, sampai saat ini kita masih punya beberapa keluarga yang masih menunggu sudah puluhan tahun. Masih ada Kamisan. Itu tidak berhenti sampai hari ini,” lanjutnya.
3. Masih relevan karena berbicara tentang kebebasan berpendapat

cuplikan wawancara Reza Rahadian di Real Talk with Uni Lubis (YouTube.com/IDN Times) Alasan lain yang membuat Laut Bercerita tetap penting untuk diikuti generasi sekarang adalah isu-isu yang diangkat di dalamnya. Meski berlatar era 1990-an, film ini menggambarkan persoalan yang berkaitan dengan kebebasan berpendapat serta perjuangan anak muda dalam menyuarakan sesuatu yang mereka yakini.
Dalam cerita tersebut, Biru Laut dan kawan-kawannya menghadapi situasi di mana membaca buku tertentu, membentuk organisasi, hingga menyuarakan pendapat dianggap sebagai ancaman oleh pemerintah yang berkuasa saat itu. Menurut Reza, meski tidak persis sama, tapi kita masih merasakan situasi semacam itu.
“Mungkin bentuknya tidak lagi membaca buku terus ditahan. Tapi bentuk-bentuk memperkecil atau mempersempit ruang sipil itu masih kerap kali terjadi hari ini,” katanya.
Dalam hal ini, Reza Rahadian juga menyoroti bagaimana kebebasan berpendapat hari ini masih punya konsekuensi yang harus dihadapi. Konsekuensi tersebut dapat muncul dalam berbagai bentuk, termasuk serangan melalui media sosial maupun hal-hal lain yang berpotensi mengganggu kehidupan.
“Kalau dibilang, ‘Ya, kita sekarang bebas kok mau ngomong apa aja,’ betul, lengkap dengan segala konsekuensinya. Konsekuensi ini bisa sangat beragam. Attacking-nya bisa dari berbagai macam sudut. Akun media sosialnya bisa tiba-tiba hilang atau mungkin something happen with you di luar, yang mungkin belum tentu langsung ditahan atau dipenjarakan. Tapi kemungkinan ke arah situ masih tetap dirasakan mengkhawatirkan buat sebagian masyarakat, setidaknya, gitu.”
Pada akhirnya, Reza Rahadian berharap Laut Bercerita bisa menginspirasi generasi muda untuk terus berpikir kritis, menyuarakan pendapat, dan memperjuangkan sesuatu yang mereka yakini di negara demokrasi ini.
“Memiliki daya berpikir kritis dalam menyuarakan sesuatu, menulis tentang sesuatu, bahkan bergerak untuk sesuatu itu adalah keniscayaan dan bentuk paling hakiki dari sebuah negara yang demokratis,” tuturnya.
Reza juga mengingatkan, setiap zaman memiliki anak-anak muda yang mengambil peran dalam memperjuangkan perubahan. Ia berharap kisah Biru Laut dan kawan-kawannya dapat mendorong generasi sekarang untuk tetap memiliki harapan dan kepedulian terhadap Indonesia.
“Mudah-mudahan itu bisa menginspirasi anak-anak muda hari ini untuk terus percaya, punya harapan, dan mencintai negeri kita tercinta ini, lengkap dengan segala hiruk-pikuknya, kelebihan dan kekurangannya,” ujar Reza.
Tonton wawancara selengkapnya berikut ini.






















