Sutradara Laut Bercerita Tak Terbebani Ekspektasi Pembaca Novelnya

- Sutradara Yosep Anggi Noen mengadaptasi novel Laut Bercerita menjadi film tentang Biru Laut dan kawan-kawannya di Yogyakarta akhir 1990-an, dengan Reza Rahadian sebagai pemeran utama.
- Anggi tidak terbebani ekspektasi pembaca karena novel dan film merupakan medium berbeda; ia fokus menciptakan pengalaman sinematik personal melalui visual, suara, dan musik.
- Film ini menonjolkan harapan serta solidaritas dalam menyuarakan ketidakadilan, sekaligus mencerminkan ketertarikan besar pembaca muda terhadap isu sejarah melalui popularitas novel tersebut.
Jakarta, IDN Times - Sebuah cerita tentang kehilangan tidak selalu harus berakhir dengan keputusasaan. Lewat Laut Bercerita, sutradara Yosep Anggi Noen justru ingin mengajak penonton menemukan kembali harapan di tengah kisah tentang ketidakadilan dan perjuangan anak muda. Harapan tersebut, menurutnya, tumbuh ketika orang-orang berani bersuara dan membangun solidaritas bersama.
Diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori, film Laut Bercerita membawa penonton mengikuti perjalanan Biru Laut dan kawan-kawannya di Yogyakarta pada akhir 1990-an. Di usia muda, mereka memilih untuk berdiskusi, berorganisasi, dan menyuarakan keresahan terhadap keadaan di sekitar mereka. Namun, keberanian itu membawa mereka pada pengalaman yang jauh lebih besar dari yang pernah dibayangkan.
Kisah Biru Laut divisualisasikan ke layar lebar oleh Anggi Noen, dengan Reza Rahadian sebagai pemeran utamanya. Lewat film ini, sang sutradara tidak hanya ingin menghidupkan kembali cerita tersebut, melainkan juga menghadirkan pengalaman emosional yang memberi ruang bagi setiap penonton untuk menemukan maknanya sendiri.
1. Anggi Noen tak terbebani dengan ekspektasi pembaca novel

potret Yosep Anggi Noen (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Mengadaptasi sebuah novel yang sudah lebih dulu memiliki banyak pembaca tentu membawa tantangan tersendiri. Anggi Noen pun menyadari bahwa setiap pembaca mungkin memiliki bayangan masing-masing tentang karakter, suasana, hingga dunia dalam Laut Bercerita.
Namun, hal tersebut tak membuatnya merasa terbebani. Bagi Anggi, novel dan film merupakan dua medium yang memiliki cara kerja berbeda. Pengalaman yang ditawarkan kepada pembaca maupun penonton pun tidak bisa sepenuhnya disamakan. Novel memberikan ruang bagi pembaca untuk membangun imajinasi sendiri, sedangkan film menerjemahkan cerita ke dalam visual, suara, dan musik yang dirancang oleh pembuatnya.
Oleh karena itu, alih-alih mengejar bayangan yang sudah terbentuk di benak pembaca, Anggi Noen justru lebih fokus menghadirkan pengalaman sinematik yang personal melalui film Laut Bercerita.
“Buku dan film itu dua medium yang berbeda. Cara konsumsinya juga berbeda, proses kreatifnya juga berbeda, dan elemen yang kemudian masuk ke penontonnya juga pasti akan berbeda. Jadi kalau berbicara soal kekhawatiran, tidak,” ungkap Anggi Noen dalam sesi roundtable interview di kantor IDN, Kamis (17/9/2026). Ia melanjutkan, “Saya tidak membebani diri dengan ekspektasi orang. Yang saya lakukan adalah menciptakan pengalaman sinematik yang berbeda, pengalaman sinematik yang membawa orang ke perasaan yang lebih personal, lebih dalam.”
2. Anggi soroti perasaan masih ada harapan dan solidaritas setelah menonton film garapannya

potret Yosep Anggi Noen dan Reza Rahadian (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Anggi Noen menjelaskan, ia tidak ingin menentukan bagaimana penonton harus merasakan atau memaknai film Laut Bercerita. Baginya, setiap orang akan membawa pengalaman dan cerita masing-masing setelah menyaksikan film tersebut.
Kendati demikian, Anggi mengaku ada satu perasaan yang tetap terasa kuat ketika menyaksikan kembali film yang telah digarapnya, yakni masih adanya harapan. Ia membayangkan ada harapan untuk melihat situasi negeri yang lebih baik setelah mengikuti perjalanan Biru Laut dalam film tersebut.
“Kalau ditanya bagaimana nanti wrap-up perasaannya, itu saya gak bisa mendikte apa pun, karena penonton pasti punya ceritanya sendiri. Cuma ada satu perasaan yang sebenarnya memang dominan. Saya membayangkan ketika menonton lagi film saya susun sendiri, itu ada perasaan tetap ada harapan. Ada harapan untuk suatu situasi negeri yang lebih baik, rasanya,” kata sutradara asal Yogyakarta tersebut.
Bagi Anggi, harapan itu tidak tumbuh sendirian. Harapan dapat muncul ketika orang-orang berani menyuarakan pendapat, bersinergi, dan saling bergandengan tangan untuk menyuarakan persoalan yang mereka yakini, termasuk ketidakadilan dan sejarah yang masih menyisakan pertanyaan.
“Harapan itu akan muncul ketika kita mampu menyuarakan pendapat kita. Harapan itu akan muncul ketika kita bersinergi satu sama lain, saling bergandeng tangan untuk menyuarakan apa yang benar-benar berasal dari dunia kita yang bersih. Soal apa? Soal ketidakadilan. Soal pertanyaan mengenai sejarah yang masih kelam. Itu yang saya rasakan ketika saya menonton lagi film yang saya susun sendiri.”
Oleh karena itu, menurut Anggi, harapan dan solidaritas menjadi dua hal yang perlu dibangun secara bersama-sama. Ia percaya perubahan terhadap keadaan dapat terjadi ketika orang-orang memilih untuk bersinergi dan bergerak bersama.
3. Soroti ketertarikan anak muda pada isu sejarah lewat kepopuleran novel Laut Bercerita

potret Yosep Anggi Noen (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Yosep Anggi Noen melihat Laut Bercerita lebih dari sekadar kisah yang telah populer. Menurutnya, novel karya Leila S. Chudori tersebut juga menunjukkan besarnya ketertarikan anak muda terhadap isu sejarah. Hal itu terlihat dari banyaknya pembaca muda yang mengikuti kisah tersebut.
“Isunya adalah isu yang masih menjadi perhatian banyak anak muda. Kalau dikaitkan sebagai anak muda, itu ditunjukkan dengan bagaimana bukunya sendiri dibaca oleh banyak sekali orang. Kita berulang-ulang, dan kebanyakan, menurut penelitian statistik dari teman-teman yang membuat survei itu, termasuk dari penerbitnya, kebanyakan yang membaca Laut Bercerita itu anak-anak muda. Artinya, ada kehausan atau semacam rasa keinginan yang besar dari anak-anak muda itu untuk melihat sejarahnya sendiri.”
Hal ini pula yang membuat Anggi Noen merasa bersyukur dapat menjadi bagian dari proses mengalihwahanakan novel yang telah laris dan populer tersebut ke layar lebar.
“Jadi saya bersyukur karena saya kebagian dari proses mengalihwahanakan dari buku yang sudah sangat laris dan populer. Apalagi Laut Bercerita punya tendensi untuk juga bercerita tentang sejarah,” ungkap Anggi Noen.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















