Adegan Demo Film Laut Bercerita Libatkan 500 Extras, 2 Hari Tanpa HP

Jakarta, IDN Times - Adegan demonstrasi mahasiswa menjadi salah satu bagian yang paling menantang dalam penggarapan film Laut Bercerita. Film yang diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori ini membawa kisah berlatar Indonesia di era 1990-an.
Dalam sesi roundtable interview di kantor IDN, Kamis (17/9/2026), sutradara Yosep Anggi Noen mengungkapkan, tim produksi sampai melibatkan sekitar 400 hingga 500 extras untuk memvisualisasikan aksi massa tersebut. Dengan jumlah extras yang tak sedikit, proses pengambilan gambar pun membutuhkan pengaturan khusus, apalagi adegan ini harus terasa seperti sedang terjadi pada era tertentu.
Berbagai kerumitan teknis tersebut pun membuat proses syuting adegan demonstrasi berlangsung hampir dua hari penuh. Selain mengatur ratusan extras, tim juga harus mengubah area pertokoan di Semarang agar terlihat seperti jalan protokol di Yogyakarta dan menyesuaikan berbagai detail di lokasi dengan latar cerita, lho.
1. Film Laut Bercerita libatkan 400-500 extras untuk wujudkan adegan demo

potret Yosep Anggi Noen (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Jelang penayangan film Laut Bercerita di bioskop, Yosep Anggi Noen membongkar fakta menarik di balik adegan demonstrasi yang melibatkan para mahasiswa. Demi mewujudkan aksi massa yang terlihat nyata di layar, tim produksi sampai mengerahkan sekitar 400 hingga 500 extras.
Menurut Anggi, karena jumlah extras yang gak sedikit, pengaturan kerumunan pun menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan selama proses syuting. Ratusan extras tersebut tidak bisa ditempatkan secara sembarangan karena harus memenuhi frame dengan komposisi yang tepat, mulai dari bagian depan hingga belakang.
“Kita harus mengelola sekitar 400–500 extras demonstrasi yang harus memenuhi frame. Jadi penempatannya penting. Gak boleh ngumpul di depan semua,” kata sang sutradara dengan nada antusias.
Di samping itu, Anggi dan timnya juga mencari shot yang bisa menyembunyikan sebagian extras terlebih dahulu. Jadi, ketika kamera mulai memperlihatkan mereka, penonton akan melihat kerumunan yang semakin banyak dan membuat aksi demonstrasi terasa lebih besar.
“Kita harus cari shot yang menyembunyikan dulu orang-orangnya. Kemudian pas orang-orang muncul, kayak ada sensasi, “Wah, banyak sekali,’” lanjut sutradara asal Yogyakarta tersebut.
2. Akui demo jadi adegan yang paling sulit secara teknis hingga menghabiskan waktu hampir dua hari

potret Yosep Anggi Noen dan Reza Rahadian (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Anggi mengakui berbagai pengaturan khusus untuk adegan demonstrasi di film Laut Bercerita memang cukup merepotkan. Ia bahkan menyebutnya sebagai salah satu bagian yang sulit secara teknis, hingga proses syutingnya berlangsung hampir dua hari penuh.
“Itu memang salah satu adegannya secara teknis sulit. Kita hampir dua hari penuh hanya untuk adegan-adegan itu,” ungkapnya.
Anggi melanjutkan, selain mengatur sekitar 400 hingga 500 extras untuk memenuhi frame, tim juga harus menyiasati lokasi syuting. Area pertokoan di Semarang perlu didesain ulang agar terlihat seperti jalan protokol di Yogyakarta. Mulai dari mengganti papan nama hingga menata jalur jalan agar tampak sesuai dengan kondisi yang seharusnya.
Meski gak mudah untuk mewujudkan adegan demonstrasi tersebut, Anggi tetap menikmati prosesnya. Ia juga mengaku sangat terbantu karena memiliki tim produksi yang berpengalaman dalam menggarap film action sehingga sudah terbiasa menangani adegan dengan kebutuhan teknis yang cukup kompleks.
3. Ketat soal detail, extras dilarang bawa handphone (HP)

potret Yosep Anggi Noen (dok. IDN Times/Rani Asnurida) Yosep Anggi Noen juga memastikan setiap detail yang muncul dalam frame tetap sesuai dengan latar waktu cerita. Salah satu yang menjadi perhatian adalah wardrobe para extras. Pasalnya, timnya sempat menemukan beberapa detail yang justru berasal dari masa kini. Padahal, adegan tersebut berlatar era 1990-an. Salah satunya adalah ketika seorang extras mengenakan kaus dengan desain yang baru dirilis pada 2025. Meski desainnya terlihat seperti model lama, pakaian tersebut tetap dianggap tidak sesuai dengan periode cerita.
“Mereka pakai kaus terbitan tahun 2025. Kayaknya memang desain lama, tapi kelihatan macam baru,” kata Anggi Noen.
Hal serupa juga terjadi pada aksesori lain yang digunakan oleh para extras. Tim bahkan sempat menemukan topi dengan merek yang memang sudah ada sejak era 1980-an atau 1990-an, tetapi logo yang tertera merupakan versi yang digunakan saat ini. Menurut Anggi, memerhatikan detail-detail kecil tersebut memang cukup melelahkan, namun harus dilakukan untuk memastikan tidak ada elemen dari masa kini yang lolos ke dalam frame.
Gak cuma itu, tim produksi juga menerapkan aturan ketat terkait penggunaan handphone (HP) di lokasi syuting. Berdasarkan penjelasan Anggi, setiap orang yang masuk ke set, termasuk para extras, wajib menitipkan HP milik mereka kepada koordinator extras.
“Semua orang yang masuk ke set itu handphone-nya dititipkan ke koordinator extras.”
Selain mencegah adanya benda dari masa kini yang tidak sengaja masuk ke dalam frame, aturan tersebut juga diharapkan dapat membantu membangun suasana era 1990-an yang sedang dibangun selama proses pengambilan gambar.
“Jadi teman-teman extras juga berasa masuk ke tahun 90-an, karena mereka gak bawa handphone selama hampir dua hari. Kayak mereka masuk ke situ, masuk ke alam yang secara visual juga seperti tahun 90-an, memakai baju seperti tahun 90-an, gitu kan.”
Film Laut Bercerita tayang di bioskop Indonesia mulai 29 Oktober 2026. Diadaptasi dari novel karya Leila S. Chudori, film ini dibintangi oleh jajaran aktor ternama, mulai dari Reza Rahadian, Dian Sastro, Christine Hakim, Yunita Siregar hingga Arswendy Bening Swara.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)























