Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Film Noir dengan Lakon Proletar, Cara Lain Memahami Kriminalitas
Thief (dok. Criterion/Thief)

Kebanyakan film noir ditulis dari perspektif penegak hukum atau aparat, termasuk detektif yang bekerja untuk kepolisian. Ini pola yang wajar dan terbukti berhasil. Bahkan untuk film-film yang pakai pendekatan realisme seperti The Naked City (1948), POV (point-of-view) ini aman-aman saja.

Namun, pernahkah kamu tertarik untuk nonton film noir yang pakai perspektif di luar aparat? Bisa pelaku kriminal, saksi mata, atau bahkan detektif swasta yang tak punya afiliasi dengan otoritas. Film-film noir dengan protagonis proletar, alias kelas pekerja, ini bisa jadi alternatif tontonanmu malam ini.

1. Thief (1981)

Thief (dok. Criterion/Thief)

Thief adalah cerita tentang Frank, pelaku kriminal yang mencuri secara profesional. Kadang sukses, kadang tertangkap dan harus mendekam di penjara beberapa waktu, Frank berhasil mempertahankan statusnya yang low-profile, tak mencolok, dan bekerja seperlunya.

Satu hari, ia memutuskan untuk pensiun dari pekerjaan ini, tetapi seorang rekan lama memintanya untuk melakukan satu proyek lagi sebelum ia benar-benar berhenti. Namun, dalam prosesnya, ia justru terjebak dalam situasi sulit di luar kehendak awalnya.

Thief sering disebut sebagai film noir antikapitalis karena menggunakan karakter macam Frank yang tak haus status maupun harta, serta di beberapa momen mengkritik kerakusan manusia.

  • Genre: neo-noir

  • Pemain: James Caan, Jim Belushi

  • Sutradara: Michael Mann

2. Pusher (1996)

Pusher (dok. Danish Film Institute/Pusher)

Film noir dengan lakon proletar lain bisa kamu temukan dalam film Denmark berjudul Pusher. Film ini ditulis dari perspektif dua pemuda yang bekerja sebagai pelaku kriminal kelas teri. Sehari-hari, mereka menjadi pengedar dan kurir narkoba di jalanan di Copenhagen.

Satu hari, saat dipercaya mengantar barang haram itu, mereka mengalami insiden. Barang mereka dicuri dan keduanya pun harus mengganti kerugian tersebut. Masalahnya, waktu mereka tak banyak dan risiko yang menanti pun tak main-main. Dinamika dua kawan ini juga jadi nyawa film; ada maskulinitas toksik dan relasi kuasa di sana.

  • Genre: noir, realisme

  • Pemain: Mads Mikkelsen, Kim Bodnia

  • Sutradara: Nicolas Winding Refn

3. Dangerous Encounters of the First Kind (1980)

Dangerous Encounters of the First Kind (dok. Fotocine Film Production/Dangerous Encounters of the First Kind)

Bukan film noir Hong Kong biasa, Dangerous Encounters of the First Kind (1980) adalah sinema yang dicap revolusioner dan unik. Tsui Hark memutuskan untuk memakai POV sekelompok remaja yang muak dengan perubahan di sekitar mereka dan akhirnya memberontak. Mereka merampok turis-turis kaya dan melakukan berbagai pelanggaran sebagai bentuk perlawanan terhadap otoritas.

Namun, saat mereka menjahati seorang pria kulit putih, dampaknya fatal. Tanpa sepengetahuan mereka, pria itu adalah veteran Perang Vietnam yang berbisnis senjata ilegal di Hong Kong.

  • Genre: noir, coming of age

  • Pemain: Chen Chi Lin, Paul Che

  • Sutradara: Tsui Hark

4. La Haine (1995)

La Haine (dok. Janus Films/La Haine)

La Haine juga sering dicap sebagai film revolusioner. Film ini ditulis dari perspektif 3 anak muda yang mewakili komunitas imigran di Paris, Prancis. Darah mereka mendidih ketika salah satu tetangga dinyatakan koma usai dipukuli polisi secara huru-hara saat ikut aksi protes.

Saat berusaha untuk tenang dan tidak memperkeruh suasana, polisi justru melakukan razia acak di kawasan permukiman imigran, seolah tak membiarkan mereka hidup tenang. Saat razia berlangsung, salah satu polisi tak sengaja meninggalkan sepucuk senjata api yang menjadi sumber konflik berikutnya di film ini.

  • Genre: noir, realisme

  • Pemain: Vincent Cassel, Saïd Taghmaoui

  • Sutradara: Mathieu Kassovitz

5. Yokohama BJ Blues (1981)

Yokohama BJ Blues (dok. Toei Company/Yokohama BJ Blues)

Seorang musisi mengambil pekerjaan sambilan sebagai detektif swasta untuk bertahan hidup. Semua berjalan normal sampai ia difitnah melakukan pembunuhan terhadap seorang polisi yang juga kawan karibnya. Bukti-bukti dipasang agar merujuk kepadanya, seolah ditumbalkan. Untuk membersihkan namanya dan selamat dari hukuman, ia terpaksa masuk ke dalam ceruk kriminal Tokyo yang didominasi yakuza licik.

  • Genre: neo-noir

  • Pemain: Yuzaku Matsuda, Mari Henmi

  • Sutradara: Eiichi Kudo

Ada yang berbeda dengan film-film noir proletar. Kedekatan karakternya dengan diri kita, meski tidak secara harfiah, menjadi faktor di sini. Kamu mungkin bukan pelaku kriminal seperti mereka, tetapi keresahan mereka rasanya familier. Mereka juga menawarkan perspektif alternatif dalam skena kriminal yang biasanya ditulis dari POV aparat.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article