Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
5 Film Perang Underrated yang Wajib Ditonton Para Pencinta Sejarah
The Siege of Jadotville (Dok. Netflix/The Siege of Jadotville)
  • Artikel menyoroti lima film perang underrated yang menawarkan perspektif unik dan kisah emosional, berbeda dari film populer seperti Saving Private Ryan atau Platoon.
  • Setiap film menampilkan sisi berbeda dari perang: mulai dari persahabatan di Gallipoli, realisme brutal Hamburger Hill, hingga dilema politik dalam Pressure.
  • The Siege of Jadotville dan The Six Triple Eight memperlihatkan perjuangan manusiawi serta peran penting pasukan kecil dan perempuan kulit hitam dalam sejarah perang dunia.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Film perang selalu punya tempat tersendiri di hati para penonton. Selain menghadirkan aksi yang menegangkan, genre ini juga sering menjadi jendela untuk melihat kembali peristiwa-peristiwa penting yang mengubah jalannya sejarah dunia. Sayangnya, ketika membahas film perang terbaik, banyak orang hanya berfokus pada judul-judul populer seperti Saving Private Ryan, Platoon, atau Apocalypse Now.

Padahal, ada banyak film perang berkualitas yang kurang mendapatkan perhatian meski menawarkan cerita tak kalah menarik. Beberapa di antaranya bahkan mengangkat kisah nyata yang jarang diketahui publik dan memberikan sudut pandang baru tentang konflik besar yang pernah terjadi. Jika kamu ingin menjelajahi film perang yang berbeda dari biasanya, lima judul berikut layak masuk daftar tontonan.

1. Gallipoli (1981)

Gallipoli (Dok. R&R Films/Gallipoli)

Gallipoli merupakan salah satu film perang terbaik yang jarang dibicarakan saat ini. Film yang dibintangi Mel Gibson ini mengikuti kisah dua pemuda Australia yang memutuskan bergabung dalam Perang Dunia I dan akhirnya dikirim ke Kampanye Gallipoli, sebuah operasi militer yang dikenang sebagai salah satu kegagalan terbesar dalam sejarah perang.

Berbeda dengan banyak film perang lainnya, Gallipoli menghabiskan banyak waktu untuk membangun hubungan persahabatan antara dua tokoh utamanya sebelum perang benar-benar dimulai. Pendekatan ini membuat setiap tragedi yang terjadi terasa lebih emosional dan menyentuh. Ketika konflik akhirnya meledak, penonton sudah begitu terikat dengan para karakter sehingga dampaknya terasa jauh lebih kuat.

2. Hamburger Hill (1987)

Hamburger Hill (Dok. RKO Pictures/Hamburger Hill)

Film ini mengisahkan Pertempuran Bukit 937 selama Perang Vietnam, sebuah operasi militer yang menelan banyak korban jiwa dan hingga kini masih menjadi salah satu episode paling kontroversial dalam konflik tersebut. Hamburger Hill mengikuti sekelompok tentara Amerika yang terus-menerus diperintahkan menyerang posisi musuh meski peluang keberhasilannya tampak semakin kecil.

Film ini menonjol karena pendekatannya yang sangat realistis dan tanpa glorifikasi perang. Penonton diperlihatkan kelelahan fisik, tekanan mental, dan rasa frustrasi para prajurit yang mempertanyakan tujuan dari pengorbanan mereka. Sayangnya, film ini dirilis pada masa yang sama dengan karya-karya legendaris seperti Platoon dan Full Metal Jacket, sehingga keberadaannya sering terlupakan meski kualitasnya sangat tinggi.

3. Pressure (2026)

Pressure (Dok. Focus Features/Pressure)

Jika kebanyakan film perang menampilkan ledakan dan baku tembak, Pressure justru membangun ketegangan melalui diskusi, perhitungan, dan keputusan politik. Film ini mengambil latar 72 jam sebelum invasi Normandia atau D-Day, salah satu operasi militer paling penting dalam sejarah Perang Dunia II.

Cerita berfokus pada para ahli meteorologi dan pimpinan Sekutu yang harus menentukan waktu terbaik untuk melancarkan invasi. Keputusan yang salah bisa menyebabkan ribuan tentara kehilangan nyawa dan bahkan mengubah jalannya perang. Meski minim aksi, film ini mampu menciptakan ketegangan luar biasa melalui dialog cerdas dan dilema yang sangat besar.

4. The Siege of Jadotville (2016)

The Siege of Jadotville (Dok. Netflix/The Siege of Jadotville)

Berdasarkan kisah nyata, The Siege of Jadotville mengikuti sekelompok kecil pasukan penjaga perdamaian Irlandia yang bertugas di bawah PBB selama Krisis Kongo tahun 1961. Mereka tiba-tiba terjebak dalam situasi berbahaya ketika harus menghadapi ribuan pasukan musuh dengan jumlah personel dan persenjataan yang jauh lebih sedikit.

Alih-alih menampilkan aksi heroik yang berlebihan, film ini fokus pada kemampuan bertahan hidup dalam situasi yang hampir mustahil dimenangkan. Karakter-karakternya terasa realistis dan manusiawi, sehingga penonton mudah terhubung dengan perjuangan mereka. Sayangnya, karena dirilis melalui layanan streaming pada masa ketika platform tersebut belum sepopuler sekarang, film ini sempat tenggelam tanpa banyak sorotan.

5. The Six Triple Eight (2024)

The Six Triple Eight (Dok. Netflix/The Six Triple Eight)

Sebagian besar film perang menempatkan penonton langsung di garis depan pertempuran. Namun, The Six Triple Eightmemilih pendekatan yang jauh berbeda. Film ini mengisahkan Batalyon Pos 6888, unit perempuan kulit hitam yang dikirim ke Eropa pada masa Perang Dunia II untuk menyelesaikan tumpukan surat yang tidak pernah sampai kepada para tentara di medan perang.

Sekilas premisnya mungkin terdengar kurang dramatis dibandingkan kisah pertempuran bersenjata. Namun justru di situlah kekuatan film ini berada. Penonton diajak melihat perjuangan para perempuan tersebut menghadapi diskriminasi, birokrasi, dan tekanan besar dalam menjalankan tugas yang dianggap sepele, padahal sangat penting bagi moral para prajurit.

Film perang tidak selalu harus dipenuhi adegan ledakan atau aksi heroik untuk menjadi tontonan yang berkesan. Jika sedang mencari film perang underrated yang menawarkan pengalaman berbeda sekaligus memperkaya wawasan sejarah, judul mana yang paling membuatmu penasaran untuk ditonton terlebih dahulu?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article