Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Film Romance Klasik Jepang yang Masuk Koleksi Criterion

Equinox Flower
Equinox Flower (dok. Criterion/Equinox Flower)
Intinya sih...
  • Yearning (1964) - Film romance klasik Jepang dengan tema besar mendamba, perasaan mendamba seorang pemuda terhadap kakak iparnya yang sudah belasan tahun menjanda.
  • Love Letter (1953) - Kisah cinta dengan latar proses transisi setelah Perang Dunia II, memotret pergolakan psikologis para veteran perang dan standar ganda di masyarakat.
  • Equinox Flower (1958) - Seorang pria paruh baya diminta memediasi pertengkaran antara sang kawan dengan putrinya soal perjodohan, kocak tapi kontemplatif.
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dekade 1930—1960-an sering disebut sebagai era emas sinema Jepang, terutama setelah Perang Dunia II. Kita disuguhi banyak film ciamik yang meski tak punya banyak warna, tetap hidup dan memanjakan mata. Di samping dominasi genre aksi epik, era itu juga diwarnai film-film yang berkutat pada seluk beluk kehidupan sehari-hari.

Tentunya romance sering diangkat sebagai topik utama maupun subplot. Penasaran film romance klasik Jepang yang layak ditonton? Mulai dengan 5 film hasil kurasi Janus Films dan Criterion berikut. Tonton sambil kenalan dengan sutradara legenda Jepang selain Akira Kurosawa.

1. Yearning (1964)

Yearning 1964
Yearning (dok. Criterion/Yearning)

Sesuai judulnya, Yearning adalah film romance klasik Jepang dengan tema besar mendamba. Perasaan mendamba itu dirasakan seorang pemuda terhadap kakak iparnya yang sudah belasan tahun menjanda dan belum pernah menikah lagi. Namun, perbedaan usia dan ketiadaan restu keluarga membuat kemungkinan mereka untuk bersatu hampir nihil. Yearning adalah salah satu film romantis dengan akhir yang pahit, siap-siap kecewa, sih.

  • Genre: romance, melodrama
  • Pemain: Hideko Takamine, Yuzo Kayama
  • Sutradara: Mikio Naruse

2. Love Letter (1953)

Love Letter 1953
Love Letter (dok. Janus Films/Love Letter)

Dikenal sebagai film debutnya salah satu pelopor sineas perempuan Jepang, Kinuyo Tanaka, Love Letter menawarkan **kisah cinta yang kaya female gaze. Berlatar proses transisi setelah Perang Dunia II, Tanaka pakai POV Reikichi, veteran perang yang menemukan semangat hidupnya lagi setelah bekerja menerjemahkan surat-surat cinta dari perempuan Jepang yang menjalin asmara dengan tentara Amerika Serikat. Film ini berhasil memotret pergolakan psikologis (trauma) para veteran perang sekaligus standar ganda di masyarakat yang lebih suka menghakimi perempuan.

  • Genre: romance, melodrama
  • Pemain: Masayuki Mori, Yoshiko Kuga
  • Sutradara: Kinuyo Tanaka

3. Equinox Flower (1958)

Equinox Flower
Equinox Flower (dok. Criterion/Equinox Flower)

Seorang pria paruh baya bernama Wataru diminta memediasi pertengkaran antara sang kawan dengan putrinya soal perjodohan. Mirisnya, tak berapa lama, ia sendiri yang harus menghadapi masalah serupa dengan putrinya sendiri. Sang putri tertuanya diam-diam sudah punya calon suami dan bahkan telah menentukan tanggal pernikahan. Ini membuat Wataru kecewa berat, tetapi di satu sisi, ia tak punya kuasa lebih untuk mencegah pernikahan itu. Kocak, tapi kontemplatif.

  • Genre: komedi, romantis, drama
  • Pemain: Shin Saburi, Ineko Arima, Keiji Sada
  • Sutradara: Yasujiro Ozu

4. Ornamental Hairpin (1941)

Ornamental Hairpin
Ornamental Hairpin (dok. Criterion/Ornamental Hairpin)

Sebelum jadi sutradara, Kinuyo Tanaka adalah aktris yang membintangi beberapa film klasik Jepang. Salah satunya Ornamental Hairpin yang bergenre romcom. Film ini dimulai dengan adegan seorang prajurit muda yang tertusuk pin rambut saat sedang bersantai di sebuah onsen. Ini membuatnya mengalami cedera dan terpaksa tinggal lebih lama di penginapan terpencil tempatnya tinggal sementara waktu. Pada fase inilah, ia berkenalan dengan perempuan yang ternyata pemilik jepit rambut tersebut. Koneksi pun terjalin, tetapi keduanya sadar kalau mereka harus kembali ke realitas masing-masing.

  • Genre: romance-comedy
  • Pemain: Kinuyo Tanaka, Hiroko Kawasaki
  • Sutradara: Hiroshi Shimizu

5. The Masseurs and a Woman (1938)

The Masseurs and a Woman
The Masseurs and a Woman (dok. Criterion/The Masseurs and a Woman)

Toku, seorang pemijat tuna netra, jatuh cinta pada salah satu tamu di spa tempatnya biasa bekerja. Masih ragu untuk mendekati, Toku akhirnya tergerak untuk menolongnya setelah ia percaya bahwa sang pujaan hati dalam masalah setelah merebaknya kasus pencurian di spa itu. Namun, upayanya menolong justru mengantarnya mempelajari fakta-fakta mencengangkan soal sosok yang mencuri hatinya itu, termasuk status dan pekerjaannya.

  • Genre: romcom
  • Pemain: Mieko Takamine, Shin Tokudaiji
  • Sutradara: Hiroshi Shimizu

Punya pesona yang beda dengan film-film kontemporernya, sinema klasik Jepang bakal memperkenalkanmu pada tatanan sosial mereka yang amat rigid dan unik itu. Secara estetika pun, kamu bakal dibikin terpesona dengan kepiawaian sinematografer Jepang menata tingkat kekontrasan gambar bergerak mereka, termasuk yang masih dalam format hitam putih. Menawarkan pengalaman seru, deh.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Diana Hasna
EditorDiana Hasna
Follow Us

Latest in Hype

See More

5 Lagu NIKI Paling Sedih, Bikin Mood Langsung Anjlok!

15 Feb 2026, 13:19 WIBHype