Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
5 Film Romance Rasa Horor, Nontonnya Bikin Merinding!
Le Bonheur (dok. Criterion/Le Bonheur)
  • Lima film lawas berlabel romantis ini ternyata menyimpan sisi gelap yang bikin penonton merasa ngeri karena tema manipulasi, kontrol, dan relasi toksik di dalamnya.
  • Film seperti Le Bonheur dan Ruby Sparks menyoroti rapuhnya hubungan serta obsesi pria terhadap perempuan hingga menciptakan suasana menyeramkan di balik kisah cinta.
  • Can’t Buy Me Love, Overboard, dan There’s Something About Mary memperlihatkan perilaku manipulatif dan objektifikasi perempuan yang kini dianggap lebih mirip horor daripada romansa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Saat kecil, pemikiran kita mungkin belum sekritis sekarang. Apa pun yang ada di media rasanya benar dan oke-oke saja. Sampai kita dewasa dan mulai mengerti bagaimana dunia bekerja. Pengetahuan dan wawasan pun meluas hingga akhirnya kita berevolusi menjadi lebih bijak. Gak heran kalau ketika nonton beberapa film lawas, bahkan yang romantis sekalipun, kamu bisa merasa terganggu.

Seperti lima film romance berikut. Saat ditonton ulang, kelimanya lebih cocok masuk kategori horor, deh. Gak percaya? Yuk, bahas satu per satu.

1. Le Bonheur (1965)

Le Bonheur (dok. Criterion/Le Bonheur)

Dalam Le Bonheur, Agnès Varda sukses bikin penonton ikut termenung meratapi nasib salah satu protagonisnya, Thérèse. Ia adalah ibu rumah tangga yang hidupnya tampak sempurna sampai sang suami mengaku kalau dirinya punya selingkuhan. Orang ketiga itu pula yang menurut sang suami membuatnya lebih bahagia.

Bukannya marah membabi buta, Therese memutuskan untuk memendam rasa sakit dan kecewanya sampai ia akhirnya tak kuat lagi. Akhir film ini dibuat Varda untuk menyindir betapa rapuhnya ikatan perkawinan, terutama bagi perempuan. Pria bisa dengan mudah mencari pengganti pasangan dan berlagak tak terjadi apa-apa.

  • Genre: romance, drama domestik

  • Pemain: Claire Drouot, Jean-Claude Drouot

  • Sutradara: Agnes Varda

2. Ruby Sparks (2012)

Ruby Sparks (dok. Searchlight Pictures/Ruby Sparks)

Film romantis rasa horor lainnya yang bisa kamu temukan berjudul Ruby Sparks. Film ini memakai POV penulis muda bernama Calvin, yang setelah kesuksesan buku pertamanya mengalami writer’s block. Satu hari, sebuah ide muncul di kepalanya, yakni kisah romantis antara seorang pria dan perempuan bernama Ruby.

Ajaibnya, keesokan harinya, sosok yang ia bayangkan itu ada di rumahnya dan ia percaya kalau mereka sepasang kekasih. Kisah manis khas pasangan yang baru kasmaran pun bergulir, tetapi lama kelamaan hubungan mereka jadi toksik. Ruby menjelma menjadi sosok yang clingy dan Calvin makin gila kontrol. Lebih horornya lagi, penonton sadar kalau Ruby adalah sosok ciptaan Calvin sendiri.

  • Genre: romcom, fantasi

  • Pemain: Paul Dano, Zoe Kazan

  • Sutradara: Jonathan Dayton, Valerie Faris

3. Can’t Buy Me Love (1987)

Can't Buy Me Love (dok. Touchstone Pictures/Can't Buy Me Love)

Can’t Buy Me Love adalah salah satu film romcom lawas yang tak menua dengan elegan. Trope-nya mungkin terdengar imut beberapa dekade lalu, tetapi dengan evolusi pemikiran manusia saat ini, film ini lebih cocok disebut horor.

Protagonisnya adalah remaja usia SMA bernama Cindy dan Ronald yang berpura-pura berkencan demi kepentingan yang bisa dibilang duniawi. Ronald butuh Cindy agar status sosialnya di sekolah naik, sementara Cindy butuh uang Ronald untuk mengganti barang milik ibunya yang ia rusak.

Mungkin dahulu kita berpikir ini hanyalah kebodohan remaja, tetapi jika dinormalisasi, rasanya cukup mengganggu. Hubungan transaksional yang diinisiasi Ronald jadi sorotan karena menimbulkan kesan kalau perempuan bisa dibeli dengan materi.

  • Genre: romcom

  • Pemain: Amanda Peterson, Patrick Dempsey

  • Sutradara: Steve Rash

4. Overboard (1987)

Overboard (dok. MGM/Overboard)

Film romantis lain yang bikin merinding adalah Overboard. Genrenya komedi romantis, tetapi kalau kamu perhatikan, film ini sebenarnya tentang manipulasi dan kelicikan seorang pria bernama Dean.

Cerita bermula dari relasi tak rukun antara dirinya dengan salah satu klien, seorang sosialita bernama Joanna. Merasa pekerjaan si tukang kayu itu buruk, Joanna menolak membayar jasa Dean. Sampai satu hari, Joanna mengalami kecelakaan dan didiagnosis menderita amnesia. Suaminya meninggalkannya untuk bersama perempuan lain dan Dean yang tahu kabar itu mulai memanfaatkan keadaan. Dean memanipulasi dan menyakinkan Joanna bahwa ia adalah suaminya. Tak butuh waktu lama, ia membawa pulang Joanna dan menyuruhnya mengurus rumah serta anak-anaknya.

  • Genre: romcom

  • Pemain: Goldie Hawn, Kurt Russell

  • Sutradara: Garry Marshall

5. There’s Something About Mary (1998)

There's Something About Mary (dok. 20th Century Studios/There's Something About Mary)

Film romcom buatan pria lain yang bikin penonton trauma adalah There’s Something About Mary. Bagaimana tidak? Film ini awalnya adalah kisah cinta manis Mary dan Ted yang ternyata tak bertahan lama gara-gara sebuah insiden jelang prom night. Bertahun-tahun berlalu, Ted masih tidak bisa melupakan Mary.

Namun, bukannya mencoba untuk menjalin silaturahmi dengan cara normal, Ted justru merekrut detektif swasta untuk memberinya informasi tentang kehidupan terbaru Mary. Kepelikan tercipta ketika sang detektif jatuh cinta pada Mary dan menyabotase upaya Ted untuk mendekati pujaan hatinya itu.

Hampir berhasil dengan akal bulusnya, sang detektif ternyata harus berurusan dengan sosok lain yang ternyata menaruh hati pula pada Mary. Siapa dia? Film ini dipenuhi lelaki insecure, incel, dan stalker.

  • Genre: romcom

  • Pemain: Cameron Diaz, Ben Stiller

  • Sutradara: Peter Farelly, Bob Farelly

Dilabeli film romantis, elemen manipulatif para karakter pria di film-film tadi justru bikin kita tak nyaman. Setuju gak kalau mereka lebih cocok dikategorikan sebagai film horor?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team

Related Article