Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

5 Film Superhero yang Gagal karena Waktu Rilisnya Gak Tepat

5 Film Superhero yang Gagal karena Waktu Rilisnya Gak Tepat
cuplikan adegan dalam film Blue Beetle (dok. Warner Bros. Pictures/Blue Beetle)
Intinya Sih
  • Lima film superhero seperti Speed Racer, Superman Returns, The Incredible Hulk, The Suicide Squad, dan Blue Beetle gagal di box office karena jadwal rilis yang kurang tepat.
  • Persaingan ketat dengan film besar lain serta strategi perilisan yang salah waktu membuat pendapatan mereka jauh dari harapan meski memiliki potensi besar.
  • Kasus-kasus ini menunjukkan pentingnya pemilihan tanggal rilis yang strategis agar film superhero bisa meraih hasil maksimal di box office.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Waktu atau tanggal rilis suatu film sangat penting, terutama untuk film superhero. Film-film blockbuster sering kali mencari tanggal rilis yang tepat dan terbukti sukses, seperti akhir pekan pertama di bulan Mei yang dimanfaatkan oleh Spider-Man (2002) dan The Avengers (2012) untuk menghasilkan keuntungan besar. Sementara itu, Warner Bros. sering memilih bulan Juni sebagai tanggal rilis film blockbuster DC Comics, seperti Wonder Woman (2017), Man of Steel (2013), dan Batman (1989).

Terlepas dari seberapa banyak perhatian dan pertimbangan yang diberikan pada tanggal rilis untuk judul-judul mahal ini, gak setiap film superhero dikasih tanggal rilis yang layak, nih. Bahkan, beberapa film superhero yang gagal di box office sudah ditentukan nasib finansialnya oleh tanggal rilis yang gak tepat.

Nah, 5 film superhero ini adalah contoh betapa besarnya dampak tanggal rilis yang gak tepat terhadap pendapatan box office sebuah film. Namun, alasan pemilihan tanggal rilisnya juga beragam, seperti punya banyak pesaing dan sebagainya.

1. Speed ​​Racer (2008)

cuplikan adegan dalam film Speed Racer
cuplikan adegan dalam film Speed Racer (dok. Warner Bros. Pictures/Speed ​​Racer)

Speed ​​Racer kini dianggap oleh banyak cendekiawan dan kritikus sebagai film superhero. Apa pun genrenya, Wachowski bersaudara berhasil membuat film balap terbaik sepanjang masa. Sayangnya, Speed ​​Racer mengalami kegagalan dalam perilisan teatrikalnya karena tanggal rilis yang kurang tepat, nih.

Awalnya dijadwalkan rilis pada 23 Mei 2008, perilisan Speed ​​Racer akhirnya dimajukan ke 9 Mei untuk menghindari persaingan dengan Indiana Jones and the Kingdom of the Crystal Skull. Pasalnya, tanggal rilis pertengahan Mei sebelumnya berhasil dengan baik untuk film The Matrix Reloaded karya Wachowski bersaudara pada tahun 2003.

Sayangnya, Speed ​​Racer bukanlah sekuel dari film yang disukai banyak orang. Film ini merupakan adaptasi dari film anime tahun 1960-an. Di sisi lain, Speed Racer dirilis 1 minggu setelah Iron Man, film yang sukses besar secara gak terduga, dan 1 minggu sebelum sekuel film keluarga The Chronicles of Narnia: Prince Caspian. Nah, karena terjepit di antara banyak persaingan, Speed ​​Racer mau gak mau gagal dengan hanya menghasilkan 43,94 juta dolar AS atau setara dengan Rp758 miliar di dalam negeri (AS).

Untungnya, Speed ​​Racer semakin memikat hati banyak orang seiring berjalannya waktu, nih. Film ini bahkan mendapatkan penayangan ulang di IMAX pada 2026. Yap, sebuah prestasi yang gak mungkin dicapai oleh film-film berpendapatan lebih tinggi pada 2008 seperti The Chronicles of Narnia: Prince Caspian.

2. Superman Returns (2006)

cuplikan adegan dalam film Superman Returns
cuplikan adegan dalam film Superman Returns (dok. Warner Bros. Pictures/Superman Returns)

Sebelum debutnya, Superman Returns digadang-gadang menjadi juara box office musim panas 2006. Lagipula, film Superman karya Christopher Reeve tahun 1978 menempati peringkat ke-75 dalam hal jumlah penonton dalam sejarah perfilman Amerika Utara.

Di sisi lain, film Spider-Man berhasil membuktikan bahwa film superhero dapat melampaui 350 juta dolar AS atau setara dengan Rp6 triliun di Amerika Utara saja. Untuk menunjukkan kepercayaan diri mereka pada film tersebut, Warner Bros. Pictures menjadwalkan perilisan Superman Returns pada 28 Juni 2006 agar dapat menjadi film andalan pada hari libur pada 4 Juli musim panas itu.

Namun, meskipun menghasilkan pendapatan kotor sebesar 108 juta dolar AS atau setara dengan Rp1,8 triliun dalam 7 hari pertama rilisnya, Superman Returns bukanlah film hit box office yang mampu memecahkan rekor. Parahnya lagi, popularitasnya langsung direbut oleh film minggu berikutnya, yaitu Pirates of the Caribbean: Dead Man's Chest. Pirates of the Caribbean: Dead Man's Chest berhasil merebut rekor box office dan ngasih penonton hiburan yang lebih segar daripada Superman Returns.

Nah, dengan pendapatan kotor hanya 391 juta dolar AS atau setara dengan Rp6,7 triliun secara global dari anggaran 232 juta dolar AS atau setara dengan Rp4 triliun, Superman Returns menjadi contoh dari reboot franchise yang gagal di box office. Meskipun hari libur 4 Juli itu tampak menarik bagi Warner Bros., penayangannya hanya seminggu sebelum munculnya petualangan kedua Jack Sparrow, yang terbukti sebagai kesalahan fatal.

3. The Incredible Hulk (2008)

cuplikan adegan dalam film The Incredible Hulk
cuplikan adegan dalam film The Incredible Hulk (dok. Marvel Studios/The Incredible Hulk)

Pada 2008, Marvel Studios masih menjadi pemain baru di dunia perfilman. Sebagai perusahaan independen sebelum dibeli oleh Disney pada 2009, Marvel Studios masih mempelajari kompleksitas peluncuran film-film besar. Nah, karena kurang pengalaman, Marvel Studios pun menjadwalkan dua film studio tersebut pada 2008.

Iron Man dirilis pada akhir pekan pertama bulan Mei yang sebelumnya ditempati oleh film Spider-Man dan X2. Sementara itu, The Incredible Hulk, film Marvel Cinematic Universe lainnya pada musim itu, dirilis pada 13 Juni 2008, hanya 7 minggu setelah penayangan Iron Man.

Memang, Marvel dan Universal Pictures gak punya banyak pilihan dalam hal ini, karena Juli 2008 sudah penuh sesak dengan film-film superhero, seperti Hancock dan The Dark Knight. Namun, penayangan yang begitu cepat setelah Iron Man menjadi masalah besar bagi Hulk, terutama mengingat film Iron Man masih meraup 5,62 juta dolar AS atau setara dengan Rp96 miliar pada akhir pekan ketujuh penayangannya.

The Incredible Hulk menghasilkan 134 juta dolar AS atau setara dengan Rp2,3 triliun di dalam negeri (AS), bukan pendapatan yang buruk, tapi juga bukan jumlah yang ideal. Tentu saja, film ini mungkin bisa menghasilkan keuntungan yang lebih besar lagi jika gak bersaing dengan film Marvel lainnya.

Gak heran, sejak 2008, Marvel Studios ngasih lebih banyak waktu jeda antarpelilisan film mereka, kecuali ketika Sony merilis Spider-Man: No Way Home 7 minggu setelah penayangan Eternals di bioskop. Musim panas pertama 2008 dan nasib The Incredible Hulk sebenarnya memberikan pelajaran berharga buat Marvel Studios.

4. The Suicide Squad (2021)

cuplikan adegan dalam film The Suicide Squad
cuplikan adegan dalam film The Suicide Squad (dok. Warner Bros. Pictures/The Suicide Squad)

Penurunan drastis pendapatan box office film The Suicide Squad dibandingkan dengan pendapatan film Suicide Squad (2016) menunjukkan bahwa sekuel ini gagal di box office. Yap, hanya meraup 168,7 juta dolar AS atau setara dengan Rp2,9 triliun di seluruh dunia, The Suicide Squad menjadi salah satu dari 10 film DC yang paling gagal di box office hingga saat ini.

Nah, alasan utama kegagalan besar ini adalah tanggal rilisnya pada 5 Agustus 2021. Warner Bros. ingin meniru kesuksesan debut awal Agustus dari film-film superhero sebelumnya, seperti Suicide Squad pertama atau Guardians of the Galaxy karya penulis sekaligus sutradara James Gunn.

Namun, pada 2021, tanggal tersebut terhalang oleh rencana Project Popcorn Warner Bros.-HBO Max. Yap, kerja sama tersebut memastikan agar setiap judul film Warner Bros. yang tayang di bioskop pada 2021 secara bersamaan tersedia di HBO Max selama 30 hari. Itu artinya, The Suicide Squad tersedia gratis bagi pelanggan HBO Max tepat saat penayangannya di bioskop dimulai. Bisa dibilang, Warner Bros. bersaing dengan peluncuran streaming-nya.

5. Blue Beetle (2023)

cuplikan adegan dalam film Blue Beetle
cuplikan adegan dalam film Blue Beetle (dok. Warner Bros. Pictures/Blue Beetle)

Blue Beetle, film kedua terakhir dalam DC Extended Universe, disutradarai oleh Angel Manuel Soto. Film ini berfokus pada inkarnasi Jaime Reyes dari Blue Beetle (diperankan oleh Xolo Maridueña). Blue Beetle digadang-gadang menjadi film yang menguntungkan, tapi tanggal rilisnya pada 18 Agustus 2023 ternyata gak tepat. Film ini dirilis selama dua kali pemogokan buruh yang melumpuhkan Hollywood dan membuat para pemeran Blue Beetle kesulitan mempromosikan film tersebut.

Video atau wawancara para aktor Blue Beetle yang bisa menarik perhatian publik di berbagai karpet merah atau acara bincang-bincang jadi mustahil dalam keadaan ini. Mengingat bagaimana studio-studio besar memperlakukan penulis dan aktor yang berafiliasi dengan serikat pekerja pada saat itu, bahkan penulis skenario pun harus membela serikatnya ketimbang film itu sendiri. Tak pelak, keadaan ini merugikan Blue Beetle di box office sejak awal.

Sayangnya, film ini gak pernah pulih dan menjadi salah satu dari banyak film DC yang gagal di box office, karena hanya menghasilkan 130,7 juta dolar AS atau setara dengan Rp2,2 triliun di seluruh dunia. Ada masalah lain yang menghambat penayangannya di box office, tetapi peluncurannya di bioskop di tengah-tengah dua film yang gagal tentu saja merugikan peluang promosinya, terutama sebagai film non-sekuel yang memperkenalkan superhero yang kurang dikenal kepada publik. Tanggal pemutaran perdananya dilakukan pada pertengahan Agustus.

Ada banyak alasan kenapa tanggal rilis film bisa berdampak buruk. Nah, film-film superhero yang gagal di box office ini secara jelas mencerminkan betapa mahalnya kerugian akibat tanggal rilis yang salah. Andai saja semua judul ini bisa dirilis pada akhir pekan pertama bulan Mei, ya!

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Naufal Al Rahman
EditorNaufal Al Rahman
Follow Us

Related Articles

See More