Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

5 Film tentang Perempuan yang Digarap Sinematografer Perempuan

4 min read
5 Film tentang Perempuan yang Digarap Sinematografer Perempuan
The Green Ray (dok. Janus Films/The Green Ray)
  • Lima film ini menampilkan kisah perempuan melalui sinematografi perempuan, dengan fokus pada pengalaman karakter alih-alih romantisasi fisik atau sudut pandang voyeuristik.
  • The Green Ray, Girlhood, dan The Headless Woman menyoroti kesepian, beban sosial remaja imigran, serta kecemasan dan rasa bersalah seorang perempuan Argentina.
  • The Invisible Life of Eurídice Gusmão dan The Milk of Sorrow mengangkat dampak patriarki, pilihan hidup yang terampas, serta trauma kekerasan yang diwariskan antargenerasi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pernahkah kamu risih saat menonton film berlakon perempuan? Biasanya karena eksekusinya tidak sesuai dengan ekspektasi. Cerita dan peletakan kameranya justru memperlakukan lakonnya seperti objek seksual ketimbang karakter yang utuh. Tak perlu disebut, tetapi kalau itu yang mengganjal hatimu, coba cari film-film yang digarap oleh sinematografer perempuan.

Dijamin kesan voyeuristiknya lenyap seketika dan kamu bisa menikmati film tentang perempuan dengan lebih nyaman. Bahkan ketika sutradaranya pria. Kalau gak percaya, coba tonton kelima film ini dulu, deh!

  1. 1. The Green Ray (1986)

    The Green Ray
    The Green Ray (dok. Janus Films/The Green Ray)

    The Green Ray adalah cerita Delphine, perempuan berusia 20 tahunan yang merasakan dilema sepanjang musim panas ini. Menjomblo di tengah sirkel pertemanan yang sudah berpasang-pasangan, Delphine tak bisa menutupi rasa kesepian dan tersisihnya. Di sisi lain, ia sebenarnya juga menikmati kebebasan yang dimilikinya, walau kadang rasa ingin punya kekasih melandanya.

    Lewat kamera yang dioperasikan Sophie Maintigneux, kita tidak akan melihat romantisasi berlebih atas fisik Delphine. Sebaliknya, keresahan dan dilema psikologis yang dialami Delphine jadi fokusnya. Eric Rohmer banyak dipuji gara-gara keputusannya merekrut banyak kru film perempuan untuk proyek ini.

    • Genre: drama, romance
    • Pemain: Marie Rivière, María Luisa García
    • Sutradara: Eric Rohmer
    • Sinematografer: Sophie Maintigneux

  2. 2. The Invisible Life of Eurídice Gusmão (2019)

    The Invisible Life of Eurídice Gusmão
    The Invisible Life of Eurídice Gusmão (dok. Trigon Film/The Invisible Life of Eurídice Gusmão)

    Membahas tekanan patriarki yang dirasakan dua saudari, Karim Ainouz gak mau ambil risiko dengan jadi sok tahu soal isu perempuan. Ia pun merekrut sinematografer Hélène Louvart untuk proyek tersebut.

    Premis utama film ini adalah kehidupan dua kakak beradik bernama Eurídice dan Guida yang meski bertolak belakang, ujung-ujungnya merugi gara-gara sistem patriarki. Euridice menuruti orangtuanya dengan menikahi pria pilihan mereka.

    Sementara itu, Guida yang lebih muda mengikuti kata hatinya dan menjalin hubungan romantis dengan pemuda pilihannya. Namun, bukannya mendapat kebahagiaan, keduanya harus mengalami tragedi yang menyadarkan mereka betapa ruginya karena tak memilih diri sendiri.

    • Genre: drama
    • Pemain: Carol Duarte, Julia Stockler
    • Sutradara: Karim Aïnouz
    • Sinematografer: Hélène Louvart

  3. 3. Girlhood (2015)

    Girlhood
    Girlhood (dok. Unifrance/Girlhood)

    Girlhood adalah sebuah film tentang pengalaman imigran yang ditulis dari perspektif remaja perempuan. Ini keputusan yang menarik sekaligus krusial, mengingat perempuan kerap harus menanggung beban ganda bahkan sejak belia. Marieme, misalnya, harus jadi pengasuh dua adiknya karena sang ibu harus bekerja seharian demi memenuhi kebutuhan hidup. Parahnya, kakak laki-lakinya bukan tipe yang bisa diandalkan.

    Satu hari, ia tak sengaja berpapasan dengan teman sebaya dan senasib yang secara serampangan mengajaknya nongkrong. Sekilas mereka memang bukan tipe teman yang membawa pengaruh baik, tetapi Marieme menemukan koneksi yang selama ini dibutuhkannya.

    Sejak adegan awal, Celine Sciamma dan sinematografer Crystel Fournier berhasil mendobrak tradisi male gaze dengan menempatkan lensa kamera secara strategis untuk memastikan fokus penonton pada karakter perempuan secara kolektif ketimbang pada fisik individu.

    • Genre: drama, coming of age
    • Pemain: Karidja Touré, Assa Sylla
    • Sutradara: Céline Sciamma
    • Sinematografer: Crystel Fournier

  4. 4. The Headless Woman (2008)

    The Headless Woman
    The Headless Woman (dok. Strand Releasing/The Headless Woman)

    The Headless Woman adalah sebuah film kaya simbolisme yang memakai perspektif Vero, seorang perempuan paruh baya dari kelas menengah atas Argentina. Saat sedang berkendara seorang diri, Vero kehilangan fokus beberapa detik dan merasa mobilnya menabrak sesuatu. Ia sempat berhenti dan berpikir untuk mengecek, tetapi memilih untuk meneruskan perjalanan.

    Namun, selama itulah ia dihantui rasa tak tenang dan bersalah. Bagaimana kalau ia menabrak binatang atau manusia? Ketika ia mencoba mengakui kesalahan itu kepada orang terdekat, Vero justru dianggap berlebihan dan mengada-ada saja. Kira-kira pesan apa yang hendak disampaikan Martel lewat film ini? Cukup banyak sebenarnya dan bisa kamu menganalisis sendiri dari berbagai perspektif dan ideologi.

    • Genre: drama, misteri
    • Pemain: María Onetto
    • Sutradara: Lucrecia Martel
    • Sinematografer: Bárbara Álvarez

  5. 5. The Milk of Sorrow (2009)

    The Milk of Sorrow
    The Milk of Sorrow (dok. Berlinale/The Milk of Sorrow)

    The Milk of Sorrow akan membawamu menyusuri isi kepala seorang perempuan muda pendiam bernama Fausta. Selama ini, Fausta selalu didoktrin oleh sang ibu bahwa dirinya dibesarkan dengan ASI kesengsaraan (“Milk of Sorrow”). Ungkapan ini dipercaya sebagai mitos oleh orang-orang pribumi Peru untuk mengingat teror yang harus mereka hadapi sepanjang 1980–2000.

    Fausta bahkan punya kebiasaan nyeleneh yang, mirisnya, diajarkan sang ibu guna mencegah dirinya jadi korban kekerasan seksual. Ketika akhirnya sang ibu sekarat dan perang sipil mereda, Fausta berusaha untuk menyembuhkan trauma yang diwariskan oleh leluhurnya itu.

    • Genre: drama, magical realism
    • Pemain: Magaly Solier, Efrain Solis
    • Sutradara: Claudia Llosa
    • Sinematografer: Natasha Braier

    Penggambaran karakter dan isu perempuan oleh sineas pria memang sering salah kaprah. Itu adalah fungsi dari pelibatan kru perempuan dalam pembuatan film yang berkenaan dengan isu itu. Bagaimana menurutmu? Setuju kalau representasi perempuan dalam film-film tadi jadi lebih akurat karena sinematografernya?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Dari Kebun Nilam ke Pasar Dunia

Related Articles

See More