Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
6 Film yang Bikin Kamu Melihat Makanan dengan Cara Berbeda
Pig (dok. NEON/Pig)
  • Enam film mengajak penonton menelusuri sisi gelap pangan mewah, dari perburuan truffle hingga perdagangan ilegal ikan sturgeon yang memasok restoran elite.
  • Kisah pekerja restoran, nelayan, dan buruh perkebunan memperlihatkan tekanan kerja, gentrifikasi, ketimpangan kelas, serta dampak produksi pangan skala besar.
  • Film-film tersebut menyoroti makanan sebagai hasil rantai panjang yang dapat melibatkan eksploitasi, kelangkaan pangan, dan akses tidak setara terhadap bahan makanan alami.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Ada banyak jenis konten kuliner di media sosial, mulai dari yang receh sampai yang mewah dan berlabel langka. Semuanya kamu nikmati, kadang tanpa filter, sampai-sampai rasanya ingin ikut mencoba. Termasuk yang harganya setara dengan gaji harian, bahkan bulanan, rata-rata orang Indonesia pun rela membelinya karena FOMO (fear of missing out).

Ketika itu terjadi berulang, bolehlah kamu melakukan riset. Caranya adalah dengan menonton beberapa film berikut. Dijamin kamu akan melihat makanan, terutama yang mewah, dengan cara yang berbeda. Siap termenung dibuatnya.

1. Pig (2021)

Pig (dok. NEON/Pig)

Pig berorbit pada Rob, seorang pria penyendiri yang sehari-hari bekerja berburu truffle alias jamur langka berharga fantastis untuk dijual ke restoran-restoran mewah. Ia dibantu seekor babi hutan yang sudah dilatihnya untuk mencium jamur yang hidup di bawah permukaan tanah tersebut.

Suatu hari, babi andalannya diculik oleh kompetitornya. Saat berusaha menyelamatkan babi itu, Robin harus keluar dari persembunyiannya dan dipaksa untuk menghadapi masa lalunya yang belum selesai. Pig bukan hanya film soal kompetisi antarpemburu truffle, tetapi juga sebuah potret watak manusia yang cenderung mencari validasi dari materi.

  • Genre: drama

  • Pemain: Nicolas Cage, Alex Wolff

  • Sutradara: Michael Sarnoski

2. Empty Nets (2023)

Empty Nets (dok. Basis Berlin Filmproduktion/Empty Nets)

Kalau Pig menyoal truffle, film Iran Empty Nets adalah petualangan suram Amir yang menceburkan diri dalam perburuan ikan sturgeon. Terancam punah karena perburuan masif, ikan itu masuk dalam kategori spesies dilindungi di berbagai negara.

Amir terpaksa masuk ke skena bisnis ilegal itu karena butuh uang untuk membuktikan keseriusannya meminang sang kekasih. Dengan kemampuan berenangnya yang di atas rata-rata, Amir mulai mendapatkan posisi strategis di kelompok nelayan. Namun, di sini pula kita dipaksa melihat betapa kejamnya industri perikanan yang pada akhirnya menyuplai restoran-restoran mewah dengan target pasar kaum elite.

  • Genre: drama

  • Pemain: Hamid Reza Abbasi, Sadaf Asgari

  • Sutradara: Behrooz Karamizade

3. La Cocina (2024)

La Cocina (dok. Tribeca Film Festival/La Cocina)

Di balik sebuah restoran mewah di New York, ada belasan, bahkan puluhan, pekerja yang dituntut untuk bekerja cepat dan tepat. Kesalahan setitik bisa jadi poin penalti yang mengancam posisi mereka. La Cocina menggambarkannya lewat cerita dua pekerja yang menjalin hubungan asmara, Pedro dan Julia.

Pada satu hari naas, beberapa insiden terjadi bersamaan. Pertama, Julia dan Pedro punya pendapat yang berbeda soal masa depan hubungan mereka. Kedua, ada uang yang hilang di restoran dan si manajer sibuk mencari pelakunya. Di sisi lain, pemilik restoran tetap mau aktivitas ekonomi di lokasi bisnisnya tetap berjalan karena waktu adalah uang.

  • Genre: drama

  • Pemain: Raúl Briones, Rooney Mara

  • Sutradara: Alonso Ruizpalacios

4. Bait (2019)

Bait (dok. BFI/Bait)

Bait adalah sebuah drama yang berkutat pada isu gentrifikasi di sebuah desa nelayan di Cornwall, Inggris. Martin adalah lakonnya, satu daripada sedikit warlok yang masih berprofesi sebagai nelayan dan hidup dari ikan-ikan tangkapannya. Adik Martin sudah lama meninggalkan pekerjaan itu dan kini memodifikasi kapal warisan ayahnya untuk bisnis pariwisata. Ia bahkan menjual rumah lawas warisan orangtuanya untuk penginapan bertema cottage tradisional.

Film ini memang tak fokus pada makanan, tetapi kita bisa melihat bagaimana makanan mencerminkan divisi kelas. Ketika turis menikmati seafood segar tangkapan nelayan lokal, warlok justru menyantap makanan kemasan.

  • Genre: drama

  • Pemain: Edward Rowe, Giles King

  • Sutradara: Mark Jenkin

5. Land and Shade (2015)

Land and Shade (dok. Semaine de la Critique/Land and Shade)

Gula adalah salah satu kebutuhan pokok yang umum kamu temukan di mana-mana. Namun, pernahkah kamu terpikir bagaimana ia dibuat? Land and Shade memberikannya jauh sebelum gula diproses di pabrik-pabrik, tepatnya ketika ia masih berbentuk tebu.

Berlatar di Kolombia, film memotret kehidupan penduduk lokal di sekitar perkebunan dan para pekerja yang harus menghadapi langsung dampak dari produksi tebu dalam skala besar. Kualitas tanah menurun karena monokultur dan setiap hari mereka harus menghirup debu serta asap dari truk yang lalu-lalang mengangkut hasil produksi.

  • Genre: drama

  • Pemain: Haimer Leal, Hilda Luiz

  • Sutradara: Cesar Augusto Acevedo

6. Soylent Green (1973)

Soylent Green (dok. IFC Films/Soylent Green)

Soylent Green adalah film fiksi ilmiah lawas yang rasanya bisa jadi kenyataan bila kita tidak mengubah keadaan. Ia berlatar tahun 2022 ketika bahan pangan langka dan manusia bergantung pada makanan kemasan buatan pabrik. Orang-orang tak punya rumah dan pekerjaan, hanya separuh yang beruntung, dan cuma segelintir yang masih hidup layak bergelimang harta serta makanan alami. Opresi terhadap perempuan menjadi-jadi, sebagian dari mereka terpaksa menjadi simpanan orang kaya untuk bisa bertahan hidup. Film ini adalah gambaran ekstrem ketika makanan asli adalah privilese, bukan lagi hak dasar.

  • Genre: sains-fiksi

  • Pemain: Edward G. Robinson, Brock Peters

  • Sutradara: Richard Fleischer

Sebagai kebutuhan dasar, makanan sayangnya kerap kita anggap sebagai angin lalu. Sesuatu yang biasa dan bisa didapat dengan mudah. Sungguh mengerikan ketika kita disadarkan bahwa sumber pangan kita ternyata harus melalui proses panjang yang sarat akan eksploitasi dan pengorbanan. Film tadi adalah cerminannya. Mereka boleh fiktif, tetapi bukan berarti tak terjadi di dunia nyata.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article